Mengapa Ada Pria Yang Terobsesi Makin Memperbesar Otot?

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Saya belakangan ini tidak nge-gym karena lebih sering jalan kaki dan sudah beli barbel di rumah. Tapi, kasak-kusuk soal perototan di gym masih saya pantau. Salah satunya, kecenderungan sejumlah pria yang terus memperbesar otot meski secara fisik sudah lebih besar daripada otot pria pada umumnya.

Mengapa mereka merasa perlu terus memperbesar massa otot?

Rupanya, ini bukan semata karena alasan kebugaran atau estetika atau memburu prestasi. Ada sisi negatif psikologis juga. Sangat mungkin, kecenderungan ini mengarah pada cara menghadapi konflik psikologis yang lebih dalam.

Berdasarkan teori psikoanalitik mengenai perkembangan identitas dan relasi awal dengan orang tua, khususnya figur ayah, bisa jadi obsesi terhadap tubuh berotot ini merupakan bentuk ‘perlindungan psikologis’ terhadap rasa tidak aman, pengalaman penolakan, atau luka emosional yang telah terbentuk sejak masa kanak-kanak.

Dalam budaya modern, tubuh berotot telah menjadi simbol maskulinitas, kekuatan, kendali, dan status sosial. Banyak laki-laki tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka harus tampak kuat, tidak boleh menunjukkan kelemahan, dan harus mampu mengendalikan keadaan. Ketika merasa gagal memenuhi standar, sebagian dari mereka menganggap bahwa membangun tubuh yang semakin besar adalah jalan untuk memperoleh rasa aman dan harga diri.

Namun, tubuh yang semakin berotot tidak selalu menyelesaikan persoalan batin yang mendasarinya. Sebaliknya, target fisik terus bergeser sehingga kepuasan sulit dicapai. Ini dikenal sebagai muscle dysmorphia atau dijuluki bigorexia. Penderitanya tetap merasa terlalu kecil atau kurang berotot meski secara objektif sudah memiliki tubuh sangat berotot.

Akibatnya, mereka terdorong untuk berlatih secara berlebihan, mengatur pola makan dengan sangat ketat, menghindari aktivitas sosial yang mengganggu jadwal latihan, bahkan ada yang menggunakan zat peningkat performa yang berisiko. Fokus hidup bergeser dari kesehatan menuju pengejaran citra tubuh yang tidak pernah terasa cukup.

Akar psikodinamik dari gejala tersebut antara lain hubungan emosional dengan figur ayah. Bisa jadi, dulu ayahnya terlalu kritis, jauh secara emosional, atau sulit memberikan pengakuan pada orang bigorexia masa kecil. Hubungan emosional ini dapat meninggalkan kebutuhan yang terus-menerus pada mereka untuk membuktikan diri. Dalam kondisi demikian, otot menjadi semacam ‘bahasa’ yang digunakan untuk memperoleh penerimaan, penghargaan, atau rasa berharga yang sebelumnya dirasakan kurang.

Selain faktor keluarga, ada juga faktor tekanan budaya. Media massa, film, industri kebugaran, dan terutama media sosial, biasa menampilkan tubuh laki-laki yang semakin berotot sebagai standar ideal. Paparan berulang terhadap citra tersebut membuat sejumlah pria menginternalisasi keyakinan bahwa nilai diri mereka bergantung pada ukuran otot.

Sejatinya, latihan beban dan membangun otot itu bukanlah sesuatu yang salah. Aktivitas tersebut memang memberikan manfaat kesehatan fisik maupun mental bila dilakukan secara seimbang. Yang menjadi masalah adalah ketika pembentukan tubuh berubah menjadi semacam mekanisme untuk mengatasi kecemasan, rasa malu, atau ketidakberhargaan. Dalam situasi seperti itu, ukuran tubuh tidak lagi menjadi tujuan kebugaran, melainkan menjadi benteng psikologis yang harus terus diperbesar agar merasa aman. Sayangnya, benteng tersebut tidak pernah benar-benar mampu mengatasi sumber luka emosionalnya.

Jadi, yuk kita melihat obsesi terhadap tubuh berotot ini dengan perspektif yang lebih berempati. Jangan menganggap pria yang terobsesi pada otot itu sebagai orang yang sekadar narsis atau haus penampilan. Coba pahami juga perilaku itu bagian dari manifestasi atas kebutuhan emosional yang belum terpenuhi.

Facebook Comments

POST A COMMENT.