mepnews.id – Luka batin Suminten, tokoh dalam cerita rakyat, dihidupkan kembali lewat gerak kreatif para penari mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik), Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Dalam karya bertajuk Residu Tubuh Suminten, kisah asmara itu diterjemahkan menjadi koreografi tentang perubahan emosi, trauma, dan perjalanan menghadapi pengalaman pahit. Karya melalui seni pertunjukan itu mengantarkan tim tari Unesa menduduki podium ketiga tangkai lomba tari pada Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) XVIII 2026 di Universitas Jember (Unej), 7–12 September 2026.
Tim tari Sendratasik Unesa yang meraih juara III Peksiminas XVIII 2026 terdiri atas Dinar Nur Andhiny, Keysha Brilliant Asmara Rafika Nikmatul Halimah, Dliya Khansa Luthfiatunnisa, Dea Octavia Dwi Ramadhani, Lintang Lembayung Senja, Dessy Pramisti, Cintya Wirate Ganes Wahyuningtyas, dan Alexsa Putri Jaelani.
Sebelum tampil di panggung nasional, lebih dulu ada seleksi Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Jawa Timur. Lalu, persiapan intensif dilakukan untuk memperkuat teknik, membangun kekompakan, sekaligus memahami karakter karya yang akan dibawakan.
“Latihannya setiap hari. Dari pagi sampai sore dengan istirahat sebentar. Tarian ini atraktif dan membutuhkan kekuatan fisik, maka kami banyak latihan tubuh,” ujar Keysha, dalam situs resmi unesa.ac.id.
Tidak hanya gerak tari biasa, latihan juga melibatkan gerak akrobatik yang membutuhkan kelenturan dan kekuatan tubuh.
Dalam Peksimida Jawa Timur, para penari tampil dengan dukungan musik langsung dari pemusik. Interaksi antara penari dan pemusik menjadi bagian penting karena sejumlah gerakan memiliki respons terhadap irama yang dimainkan secara langsung.
Di tingkat nasional, aturan mengharuskan seluruh peserta menggunakan musik rekaman. Perubahan itu membuat tim harus menyesuaikan kembali pola latihan. Gerakan yang sebelumnya mengikuti tanda dari pemusik harus diubah agar seluruh penari dapat bergerak berdasarkan hitungan dan selaras dengan musik rekaman.
Penyesuaian itu menjadi bagian dari proses mereka membawa Residu Tubuh Suminten ke panggung nasional. Para penari tidak hanya dituntut menjaga ketepatan teknik dan kekompakan, tetapi juga mempertahankan karakter karya yang mengangkat pengalaman emosional Suminten melalui bahasa tubuh. (Puput)



POST A COMMENT.