mepnews.id – Keterbatasan akses informasi medis yang ramah bagi penyandang disabilitas netra mendorong Tim NyxAId dari Universitas Airlangga (Unair) menciptakan sistem asistif inovatif. Berbasis teknologi wearable dan kecerdasan buatan (Generative AI).
Tim Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) ini terdiri dari Gressendy Zahwarani, Hannah Icasia Illine, Shafrie Alvito Wimala Rasendrya, Muhammad Bariq Azka dari Fakultas Vokasi dan Zalfa Zahira Febriyani dari Fakultas Kesehatan Masyarakat.
Mereka merancang NyxAId: Sistem Asistif Berbasis Generative AI dengan Integrasi Smart Glasses untuk Dukungan Pertolongan Pertama Inklusif bagi Tunanetra.
Ketua tim, Gressendy Zahwarani, menjelaskan ide NyxAId berawal dari keprihatinan mereka terhadap prosedur pertolongan pertama darurat yang masih bergantung pada visualisasi fisik. Kondisi tersebut menyulitkan penyandang tunanetra untuk melakukan penanganan cedera secara mandiri.
“Fokus kami adalah memberikan dukungan informasi awal yang lebih inklusif melalui media suara. Kami memilih smart glasses agar pengoperasiannya bersifat hands-free, sehingga pengguna tetap dapat bebas memanfaatkan kedua tangannya saat menangani luka,” terang Gressendy, lewat Unair News.
Secara teknis, NyxAId mengintegrasikan kacamata pintar dan aplikasi mobile. Sistem bekerja dengan mengambil citra luka melalui kamera kacamata atau aplikasi, kemudian diolah oleh model AI berbasis pendekatan Retrieval-Augmented Generation (RAG). Teknologi ini mencocokkan kondisi luka dengan basis pengetahuan medis pertolongan pertama, lalu menyampaikan panduan langkah penanganannya melalui luaran suara (audio response).
Perancangan sistem NyxAId sempat diwarnai tantangan teknis dalam menyelaraskan kinerja AI dan perangkat keras. Tim harus memastikan kacamata pintar tetap ergonomis bagi penyandang tunanetra sekaligus mengoptimalkan pemrosesan data AI untuk analisis medis yang akurat.
Gressendy mengungkapkan, keselarasan antara software dan hardware menjadi fokus perhatian utama selama masa pengembangan. “Tantangan terbesar kami terletak pada akurasi AI dan integrasi hardware. Sistem AI harus presisi menganalisis luka berbasis RAG, sementara modul kacamata harus tetap kompak dan terhubung lancar dengan aplikasi,” terangnya.
Gressendy berharap inovasi NyxAId dapat terus dikembangkan menjadi produk teknologi asistif yang matang dan siap dimanfaatkan secara luas. “Sebuah ide tidak harus langsung menjadi inovasi yang sempurna. Yang terpenting kita tidak boleh takut untuk memulai, serta selalu mau belajar dan memperbaiki ide tersebut,” pungkasnya. (Yasir)



POST A COMMENT.