mepnews.id – Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Hasanuddin (Unhas) melakukan pemetaan spasial kebun pala Tomandin di kawasan transmigrasi Weri–Saharey, Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Kegiatan ini menjadi bagian dari Tema 8 Ekspedisi Patriot, yakni Digitalisasi, yang berfokus pada penguatan basis data komoditas unggulan untuk mendukung peningkatan daya saing pala Tomandin Fakfak.
Dikabarkan situs resmi unhas.ac.id, tim yang dipimpin Muhammad Junaid SP MP PhD ini menelusuri kebun pala milik masyarakat setempat, mengumpulkan data lokasi kebun, titik koordinat, serta informasi terkait mutu biji pala, untuk dihimpun dalam sistem digital DiGiFarm Agro-Maritime Commodity Hub.
Tahap awal, pemetaan mencakup 50 petani pala. Data diharapkan menjadi dasar bagi pengembangan sistem informasi komoditas yang lebih terstruktur, sekaligus mendukung perencanaan produksi dan pemasaran pala di kawasan transmigrasi.
Muhammad Junaid menjelaskan, digitalisasi merupakan salah satu pendekatan untuk memperkuat pendataan potensi komoditas unggulan di wilayah yang memiliki keterbatasan akses infrastruktur. “Melalui sistem digital, informasi lokasi kebun dan karakteristik mutu pala dapat terdokumentasi lebih baik sehingga berpotensi mendukung pengembangan komoditas dan peningkatan daya saing petani.”
Survei di Weri–Saharey menghadapi tantangan geografis dan keterbatasan infrastruktur. Kawasan tersebut berjarak empat jam perjalanan darat dari pusat Kota Fakfak. Pasokan listrik masih terbatas, akses internet belum memadai di sejumlah lokasi. Untuk mengatasi kendala, tim membawa portable power station serta perangkat internet portabel. Perangkat ini mendukung proses pencatatan dan pengiriman data hasil survei ke dalam dasbor digital dari lokasi kegiatan.
Menurut Junaid, pemanfaatan teknologi dalam kegiatan lapangan perlu disertai keterlibatan masyarakat agar sistem yang dibangun dapat terus dimanfaatkan setelah kegiatan ekspedisi berakhir. “Penguatan kemampuan petani dalam melakukan pencatatan dan memperbarui data merupakan bagian penting dari keberlanjutan sistem yang dikembangkan.”
Selain mencatat lokasi kebun, pengembangan basis data juga diarahkan pada pendokumentasian mutu biji pala Tomandin. Salah satu pendekatan pengukuran ialah pemanfaatan digital caliper atau jangka sorong digital untuk mengukur dimensi biji, serta timbangan digital untuk mengetahui beratnya.
Pendataan mutu merupakan aspek penting dalam pengembangan komoditas pala premium. Informasi yang terdokumentasi dengan baik dapat membantu petani memahami karakteristik hasil panen dan memberikan dasar yang lebih terukur dalam komunikasi dengan calon pembeli.
Pengembangan DiGiFarm Agro-Maritime Commodity Hub diarahkan untuk mendukung pembangunan ekosistem informasi komoditas yang mencakup pencatatan produksi, harga, stok, mutu, transaksi, dan akses pasar.
Program ini direncanakan mencakup pelatihan pencatatan komoditas secara digital bagi petani. Peserta pelatihan diharapkan dapat menjadi kader digital di tingkat kampung yang membantu memperbarui data dan melanjutkan pengelolaan sistem setelah kegiatan ekspedisi berakhir. Penguatan kapasitas masyarakat tersebut merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan pemanfaatan teknologi digital di kawasan transmigrasi.
Rencana pengembangan program juga mencakup penyusunan standar operasional prosedur (SOP) panen dan pascapanen pala, penguatan koperasi dan Badan Usaha Milik Kampung (BUMKam), serta pengembangan basis data produksi dan harga. Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat mendukung pengelolaan komoditas yang lebih terorganisasi sekaligus memperkuat peran kelembagaan lokal dalam rantai pemasaran.
Meski demikian, keberlanjutan sistem tetap membutuhkan dukungan infrastruktur, termasuk jaringan internet, perangkat operasional, pembaruan data secara berkala, serta sumber daya manusia lokal yang mampu mengelolanya.(*/ams)



POST A COMMENT.