Refleksi atas buku karya Yulianti Pulungtana, Guru SMP Negeri 2 Kota Kupang
Oleh: Yohanes Joni Liwu, S.Pd.
mepnews.id – Rabu pagi, cuaca bersahabat, ketika ruang-ruang kelasku hening lantaran pembiasaan literasi. Meski memiliki keterbatasan di sana-sini, giat literasi tetap didongkrak, karena itu adalah gerakan masif. Kepala sekolah dan kami para guru bersinergi untuk urusan yang satu ini sehingga gerakan literasi tidak bergema di ruang-ruang kosong atau sebatas kebijakan pemerintah.
Pagi yang cerah ini pun seolah menitipkan sebuah kado untukku. Dari seorang sahabat, saya mendapatkan buku berjudul MENGGENGGAM MIMPI. Buku tersebut dititipkan penulisnya kepada saya. Karena kesibukan masing-masing, buku Kisah Inspiratif Jejak Literasi itu pun baru tersampaikan.
Kebetulan saya turut menorehkan bebarapa catatan sebagai epilog buku ini. Maka, tergerak pula jemari menuliskan sepenggal ulasan terhadap buku ini.
Mimpi adalah benih yang bersemayam di taman kehidupan manusia. Ia tumbuh dalam diam, menyapa hati dengan harapan, lalu mengetuk pintu kenyataan agar dibukakan jalan. Namun, mimpi tidak cukup hanya dipeluk dalam angan-angan. Ia harus digenggam dengan ketekunan, disirami kerja keras, dan dipelihara dengan keyakinan. Pesan inilah yang menggetarkan hati ketika kita berjumpa dengan buku Menggenggam Mimpi: Kisah Inspiratif Jejak Literasi #1, karya Yulianti Pulungtana, seorang guru di SMP Negeri 2 Kota Kupang.
Buku ini mengajak kita memandang kehidupan dari jendela pengalaman penulis, terutama pengalaman di lingkungan sekolah dan keseharian yang membentuk perjalanan hidupnya. Di balik rutinitas seorang guru, sesungguhnya tersimpan samudra kisah yang tidak selalu tampak di permukaan. Ada perjuangan yang berjalan tanpa tepuk tangan, ada harapan yang bertahan di tengah keterbatasan, dan ada cita-cita yang terus menyala meskipun angin kehidupan sesekali berusaha memadamkannya.
Melalui kisah-kisah inspiratif yang dihimpunnya, penulis mengingatkan kita bahwa kehidupan sehari-hari bukanlah peristiwa biasa yang kehilangan makna. Sekolah bukan sekadar bangunan tempat guru mengajar dan murid belajar. Sekolah adalah taman tempat benih karakter bertumbuh, ladang tempat cita-cita ditanam, serta panggung kehidupan tempat setiap orang belajar memahami arti perjuangan. Di sana, pengalaman menjadi guru yang bijaksana, kegagalan menjadi anak tangga menuju keberhasilan, dan kesederhanaan menjelma kekuatan untuk terus melangkah.
Membaca Menggenggam Mimpi juga mengajarkan kita bahwa literasi bukan hanya perkara mengeja huruf, merangkai kata, atau menuntaskan halaman demi halaman. Literasi adalah kemampuan menangkap makna kehidupan, membaca tanda-tanda zaman, dan menemukan kebijaksanaan di balik pengalaman. Buku ini seakan mengajak kita duduk sejenak, menoleh ke belakang, lalu bertanya kepada diri sendiri: sudahkah pengalaman hidup kita memberi manfaat bagi sesama? Sudahkah pengetahuan yang kita miliki menjadi cahaya bagi orang lain?
Dalam perjalanan literasi, buku adalah sahabat yang tidak pernah mengeluh ketika kita datang membawa pertanyaan. Halaman-halamannya membuka jendela, kata-katanya menyalakan pelita, dan gagasan-gagasannya mengetuk pintu kesadaran. Buku memang tidak dapat menggantikan seluruh pengalaman hidup, tetapi ia membantu kita memahami pengalaman dengan pandangan yang lebih luas dan hati yang lebih terbuka.
Kita mungkin bukan penulis besar yang namanya bergema di panggung nasional. Kita mungkin hanya guru sederhana yang setiap hari berdiri di depan kelas, membimbing murid dengan kemampuan yang terbatas. Namun, kesederhanaan itu tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti berkarya. Dari ruang kelas yang bersahaja, gagasan dapat tumbuh menjadi kekuatan. Dari catatan kecil tentang pengalaman sehari-hari, sebuah buku dapat lahir dan menginspirasi banyak orang. Inilah pelajaran berharga dari semangat literasi yang dihadirkan Yulianti Pulungtana: kita tidak harus menjadi luar biasa terlebih dahulu untuk mulai melakukan sesuatu yang bermakna. Kita hanya perlu berani memulai, tekun menjalani, dan tulus berbagi.
Sebagai seorang guru sekaligus penulis epilog buku ini, saya memandang Menggenggam Mimpi sebagai ajakan untuk membangunkan kembali kecintaan terhadap buku, terutama di lingkungan sekolah. Gerakan literasi tidak boleh berhenti pada kegiatan membaca lima belas menit sebelum pelajaran, menghias sudut baca, atau memenuhi rak perpustakaan dengan buku-buku yang berdebu. Gerakan literasi harus menjadi denyut kehidupan sekolah. Buku perlu hadir dalam percakapan guru dan murid, dalam tugas-tugas kreatif, dalam refleksi pembelajaran, serta dalam keberanian setiap warga sekolah untuk menuliskan pengalaman dan membagikan gagasan.
Bayangkan jika setiap guru berani menuliskan satu pengalaman bermakna dari kelasnya. Bayangkan jika setiap murid diberi kesempatan mengubah pengamatan sederhana menjadi cerita, puisi, atau esai. Bayangkan pula jika setiap sekolah memberi ruang bagi karya-karya kecil itu untuk dibaca, diapresiasi, dan diterbitkan. Bukankah dari kebiasaan sederhana tersebut dapat tumbuh pohon literasi yang rindang, dengan buah pengetahuan yang dapat dinikmati oleh generasi berikutnya?
Karena itu, mari kita kobarkan hasrat membaca dan menulis di sekolah-sekolah. Jangan biarkan buku menjadi benda bisu yang hanya menghiasi lemari. Biarkan buku berbicara, membangunkan rasa ingin tahu, memperluas cakrawala berpikir, dan menumbuhkan empati. Mari kita jadikan perpustakaan sebagai rumah pengetahuan, ruang kelas sebagai laboratorium gagasan, dan setiap guru sebagai teladan literasi bagi murid-muridnya.
Pada akhirnya, Menggenggam Mimpi mengingatkan kita bahwa mimpi yang bermakna bukanlah mimpi yang disimpan sendirian, melainkan mimpi yang diperjuangkan dan dibagikan demi kebaikan bersama. Yulianti Pulungtana telah menorehkan jejak melalui karya yang lahir dari pengalaman dan semangat literasi. Jejak itu semoga tidak berhenti pada lembar-lembar buku, tetapi terus menjalar ke ruang-ruang kelas, perpustakaan sekolah, dan hati setiap pembaca yang mendambakan perubahan.
Sebab, ketika satu orang mulai membaca, sebuah jendela terbuka. Ketika seorang guru mulai menulis, sebuah teladan tercipta. Dan ketika sebuah sekolah menjadikan literasi sebagai budaya, masa depan memperoleh lentera untuk menerangi jalannya.
Mari menggenggam mimpi, merawat literasi, dan menyalakan harapan. Sebab, masa depan tidak hanya diwariskan kepada mereka yang pandai bermimpi, tetapi juga kepada mereka yang bersedia membaca, belajar, berkarya, dan bekerja keras untuk mewujudkannya.
Namun demikian, menyalakan lentera literasi bukanlah tugas yang sanggup dipikul oleh bahu seorang guru sendirian, atau dibiarkan menjadi beban domestik di ruang-ruang kelas semata. Gerakan literasi bukanlah agenda sektoral yang berdiri sendiri, melainkan sebuah gerakan kebudayaan yang menuntut kolaborasi utuh dan sinergi lintas batas dari seluruh pemangku kepentingan. Dari meja pengambil kebijakan di tingkat pemerintahan, ruang-ruang rapat instansi dinas, lembaga legislatif, hingga kesadaran kolektif masyarakat dan orang tua di rumah, semua pihak memiliki tanggung jawab moral yang sama untuk memastikan lentera ini tidak surut dihempas arus zaman.
Bagi jajaran pemerintah—khususnya Dinas Pendidikan dan instansi terkait—sinergi ini harus berwujud komitmen yang melampaui sekat-sekat administratif dan formalitas birokrasi. Kebijakan literasi tidak boleh berhenti sebagai jargon dalam spanduk atau sekadar pemenuhan indikator capaian program. Pemerintah perlu hadir secara nyata melalui regulasi yang berpihak, pengalokasian anggaran yang berkeadilan, penyediaan sarana perpustakaan yang representatif hingga ke pelosok daerah, serta pelatihan penulisan dan perbukuan yang intensif bagi para pendidik. Ketika instansi pemerintah menjadikan literasi sebagai arus utama prioritas pembangunan sumber daya manusia, maka sekolah tidak lagi berjalan sendiri dalam kesunyian perjuangannya.
Di saat yang sama, dunia usaha, komunitas literasi, dan media massa harus mengambil peran sebagai katalisator yang memperluas jangkauan gerakan ini. Dukungan terhadap pencetakan karya-karya guru dan siswa, penyediaan ruang publik yang ramah baca, hingga pemberian apresiasi atas karya-karya sastra dan edukasi lokal akan menjadi bahan bakar yang menjaga nyala semangat para penulis pemula di daerah. Sinergi yang kokoh antara sekolah dan pemangku kepentingan eksternal ini akan mengubah ekosistem belajar menjadi dinamis, di mana membaca dan menulis tidak lagi dianggap sebagai kewajiban akademis yang menjenuhkan, melainkan sebuah kebutuhan hidup dan bentuk harga diri bangsa.
Oleh karena itu, di atas wadas ikhtiar ini, mari kita takas dan rekatkan barisan. Sudah saatnya pemerintah, pengelola pendidikan, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen warga beriring langkah menjalin kemitraan yang sejati. Mari kita jadikan setiap sekolah sebagai episentrum peradaban dan setiap kebijakan pemerintah sebagai daya dorong yang memerdekakan ikhtiar literasi. Sebab, hanya dengan bergotong royong dan menyatukan energi, kita sanggup mendongkrak kualitas literasi anak-anak negeri—memastikan bahwa mimpi yang kita genggam hari ini benar-benar menjelma menjadi cahaya benderang yang menerangi masa depan bangsa.



POST A COMMENT.