mepnews.id – Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta bertemu dengan Prodi S-2 Pendidikan Seni Budaya, dan Prodi S-3 Pendidikan Seni, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dalam acara Temu Karya Penciptaan dan Pengkajian Seni 2026. Kegiatan pada 3–4 November 2026 di Graha Sawunggaling, (FBS) Unesa itu bertema ‘Ontologi dan Epistemologi Seni Kontemporer: Membongkar Dikotomi Teks dan Karya di antara Tradisi, Kreativitas, dan Masa Depan’.
Dikabarkan situs resmi unesa.ac.id., kegiatan juga menyelipkan penjajakan peluang pengembangan program double degree dan fast track dari jenjang sarjana (S-1) hingga doktor (S-3). Kolaborasi ISI dan Unesa ini diharapkan dapat memperluas pilihan dan pengalaman akademik mahasiswa sekaligus memperkuat hubungan kedua perguruan tinggi dalam bidang pendidikan dan penciptaan seni.
Ketua Senat Akademik Unesa, Setya Yuwana, yang hadir menyampaikan pesan Rektor Unesa, mengusulkan sejumlah langkah strategis untuk memperkuat hubungan kedua institusi. Selain pengembangan double degree dan fast track S-1 hingga S-3, kolaborasi juga diarahkan pada kegiatan akademik dan penciptaan seni bersama.
Menurut guru besar Unesa tersebut, kerja sama antarlembaga perlu diwujudkan melalui tindak lanjut dan aksi nyata yang memberikan manfaat bagi kedua institusi. Karena itu, ia berharap berbagai peluang kolaborasi yang dibahas dapat dikembangkan menjadi program yang konkret dan berkelanjutan.
Selain pengembangan program pendidikan, kerja sama kedua perguruan tinggi berpotensi diperluas melalui penelitian dan publikasi internasional. Dekan FBS Unesa, yang diwakili Anas Ahmadi, berharap pertemuan dapat berkembang menjadi kolaborasi berkelanjutan yang memperkaya perspektif mahasiswa dalam memahami hubungan antara pengkajian, penciptaan, dan pendidikan seni.
Direktur Pascasarjana ISI Surakarta, Eko Supriyanto, menekankan pentingnya menempatkan karya seni sebagai sumber pengetahuan. Karya seni tidak semestinya hanya dipandang sebagai objek penelitian atau ilustrasi dari teori akademik, tetapi juga sebagai cara manusia berpikir dan menghasilkan pengetahuan.
“Karya bukan ilustrasi teori, karya bukan sekadar objek penelitian, karya adalah cara berpikir. Karya adalah cara mengetahui,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, pengetahuan tidak hanya bersumber dari buku dan teks akademik, tetapi juga dapat lahir dari tubuh, tradisi, pengalaman masyarakat, serta interaksi manusia dengan lingkungan. Karena itu, Temu Karya diharapkan menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan pemikiran kritis sekaligus keberanian dalam menciptakan karya seni.
Rangkaian kegiatan dua hari tersebut juga menghadirkan pemutaran film dan diskusi, pembahasan konsep kolaborasi, pembukaan pameran seni rupa, lokakarya, serta pertunjukan seni kolaboratif. Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan akademisi, dosen, dan mahasiswa untuk bertukar perspektif mengenai pengkajian, penciptaan, dan pendidikan seni. (Erlina)



POST A COMMENT.