Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Dr Kelly Whaling adalah psikolog dari Prosper Health. Ia mendapat lisensi praktik di negara bagian Utah dan beberapa wilayah lain di Amerika Serikat. Doktor bidang psikologi konseling, psikologi klinis dan psikolog sekolah dari University of California di Santa Barbara ini spesialis menyediakan evaluasi psikologis berbasis pemahaman trauma serta mendukung keberagaman neurobiologis.
Belakangan ini, ada dua jenis pertemanan yang populer di media sosial, yaitu; filler friends dan floater friends. Saya meminjam penjelasan Dr Whaling untuk mengingatkan; meskipun istilah-istilah ini dapat membantu seseorang memahami dinamika pertemanan, tapi pemberian label terhadap orang juga berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dan perasaan tersisih.
Yuk, kita kenali dulu dua jenis teman itu.
Pertama, Filler Friends. Terjemahan kasarnya, teman sekadar pengisi kekosongan. Istilah ini menggambarkan orang yang merasa hanya menjadi pilihan cadangan dalam suatu kelompok pertemanan. Ia biasanya hanya dihubungi ketika teman-teman lain tidak tersedia. Karena itu, ia biasanya mendapat undangan mendadak. Atau, ia diajak bergabung ketika kelompok sedang membutuhkan tambahan orang.
Dalam hubungan semacam ini, orang bisa merasa bahwa keberadaannya tidak benar-benar dihargai. Ia mungkin berusaha mempertahankan hubungan, tetapi usahanya sering tidak mendapatkan respons yang seimbang.
Maka, istilah ini cenderung memiliki konotasi negatif karena seolah-olah menempatkan seseorang sebagai pengganti sementara, dan bukan sebagai teman yang sungguh-sungguh diinginkan.
Kedua, Floater Friends. Secara harfiah, ini disebut teman yang biasa berpindah-pindah lingkaran. Berbeda dengan filler friends, si floater ini memiliki hubungan pertemanan dengan berbagai kelompok sosial dan tidak mau terlalu terikat pada kelompok tertentu. Misalnya, ia memiliki sejumlah teman dari lingkungan pekerjaan, dari sekolah, komunitas hobi, dan kegiatan sosial. Namun, kelompok-kelompok itu tidak saling mengenal dan jarang berinteraksi.
Sebagian orang menganggap kondisi ini sebagai ‘kesepian’ karena tidak memiliki kelompok pertemanan utama. Akan tetapi, sebagian lainnya merasa nyaman pada kondisi ini karena memiliki jaringan sosial beragam.
Dr Whaling mengingatkan, kedua istilah tersebut bukan kategori psikologis yang diakui secara formal dalam penelitian psikologi. Lebih tepatnya, keduanya dapat dipahami sebagai istilah populer untuk menggambarkan pengalaman sosial.
Yang perlu ditekankan, hati-hati jika memberikan label berlebihan pada orang-orang tertentu dengan dua kondisi di atas. Pelabelan berlebihan dapat membuat seseorang menafsirkan kejadian biasa, misalnya tidak mendapatkan undangan atau pesannya terlambat dibalas, sebagai bentuk penolakan pribadi. Padahal, tingkat kedekatan dalam pertemanan itu berbeda-beda. Tidak semua teman harus memiliki kedudukan yang sama dalam kehidupan seseorang.
Terus, bagaimana membangun pertemanan yang sehat?
Daripada sibuk mengidentifikasi diri sebagai filler friend atau floater friend, Dr Whaling menasihatkan kita sebaiknya lebih memperhatikan kualitas hubungan pertemanannya.
Maka, perhatikan hal-hal berikut ini untuk menilai kualitas pertenanan;
-
Apakah hubungan pertemanan itu berlangsung timbal balik?
-
Apakah kita memiliki teman yang bisa dipercaya untuk berbagi masalah?
-
Apakah kita merasa dihargai dan diterima?
-
Apakah kedua pihak sama-sama berusaha mempertahankan hubungan?
Jika menginginkan pertemanan yang lebih dekat, kita dapat mengambil inisiatif mengajak bertemu, menyampaikan kebutuhan emosional, dan memberikan perhatian kepada orang-orang yang juga menunjukkan ketertarikan untuk menjalin hubungan.
Jadi, tidak semua orang harus memiliki pola pertemanan yang sama. Ada orang yang nyaman dengan lingkaran kecil berisi beberapa sahabat dekat. Ada orang lain yang lebih menikmati jaringan sosial luas dan beragam. Bahkan, ada pula orang yang lebih menyukai kesendirian.
Kualitas pertemanan tidak semata ditentukan jumlah teman atau posisi seseorang dalam kelompok sosial. Hal yang lebih penting adalah adanya rasa saling menghargai, adanya dukungan emosional, kepercayaan, dan timbal balik. Pertemanan yang sehat bukan tentang seberapa populer seseorang di dalam kelompok melainkan seberapa jauh hubungan tersebut membuat setiap orang merasa diterima dan berarti.



POST A COMMENT.