Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – “Mbak, kayaknya enak kalau bisa memutar waktu balik lima tahun lalu,” begitu Maya memulai curhatnya.
“Lho, apa bisa? Gak mungkin, lah. Waktu kan berjalan linier,” saya menanggapi.
“Iya, sih. Kalau bisa, saya senang sekali.”
“Memang, kenapa?”
“Saya akhir-akhir ini tidak nyaman melihat tubuh saya sendiri. Dulu saya lebih langsing. Kalau lihat foto empat-lima tahun lalu, rasanya saya ingin kembali seperti dulu.”
“Apa yang kau rasakan setelah lihat foto-foto itu?”
“Kadang sedih. Kadang malu. Saya merasa sekarang tidak menarik lagi. Baju-baju lama juga sudah tidak muat.”
————-
Pembaca yang budiman, tentu banyak hal yang saya obrolkan pada Maya agar ia bisa menerima kondisi diri saat ini dan membuatnya tetap percaya diri. Tapi, ada juga satu hal yang saya ingin sampaikan pada Anda juga. Jangan terlalu membanding-bandingkan bentuk tubuh secara tak rasional.
Sudah banyak kasus mengenai citra tubuh (body image) yang membuat orang merasa tidak nyaman pada dirinya sendiri. Orang biasanya melakukan perbandingan sosial, yaitu membandingkan tubuhnya atau penampilannya dengan orang lain. Media sosial, iklan, selebritas, dan lingkungan sosial dapat membuat seseorang merasa tubuhnya tidak cukup ideal.
Sementara, banyak juga orang yang membuat perbandingan antara penampilan diri saat ini dengan penampilan diri pada masa lalu. Self-oriented appearance comparison. Misalnya, Maya melihat foto dirinya ketika masih muda, lebih langsing, lebih bugar, atau lebih menarik, kemudian membandingkannya dengan kondisi tubuhnya sekarang. Saat ia memandang kondisi masa lalu sebagai standar yang harus dicapai kembali, ia bisa menghadapi masalah baru. Foto lama, yang semula menjadi kenangan, dapat berubah menjadi sumber ketidakpuasan terhadap tubuh saat ini.
Ada penelitian yang dilakukan Tracy Tylka dan Nichole Wood-Barcalow bersama kolega dari Ohio State University. Mereka mengembangkan Self-Oriented Comparison Scale for Appearance (SOCS-A) untuk mengukur kecenderungan orang membanding-bandingkan bentuk tubuh masa lalu. Skala 11 butir ini diujikan dalam dua penelitian terhadap 973 dan 885 orang dewasa di Amerika Serikat.
Hasilnya menunjukkan ada dua bentuk perbandingan: upward self-oriented comparison dan downward self-oriented comparison.
Yang upward terjadi ketika seseorang menilai tubuh sekarang lebih buruk dibandingkan tubuhnya sendiri di masa lalu. Pola ini berkaitan dengan citra tubuh negatif dan rasa malu terhadap tubuh (body shame), perenungan berlebihan, serta perilaku makan yang tidak sehat. Pengaruh terhadap body shame dan perilaku makan ini cukup kuat sehingga tetap terlihat setelah peneliti memperhitungkan perbandingan dengan orang lain.
Sebaliknya, yang downward terjadi ketika seseorang membandingkan diri saat yang lebih bagus dengan kondisi diri masa lalu ketika merasa kurang menarik. Hasil penelitian menggambarkan adanya apresiasi terhadap tubuh dan rasa bangga terhadap penampilan masa kini. Perbandingan semacam ini dapat membuat seseorang melihat perubahan positif yang telah dicapai.
Nah, yang lebih spesifik adalah penelitian menemukan bahwa kaum perempuan melaporkan upward self-comparison lebih sering dibandingkan kaum laki-laki. Para peneliti mengaitkannya dengan tekanan budaya yang lebih kuat terhadap penampilan dan kemudaan kaum perempuan, meskipun penelitian mereka tidak dimaksudkan untuk membuktikan hubungan sebab-akibat tersebut.
Temuan ini penting karena menyadarkan kita bahwa perubahan tubuh merupakan bagian normal dari proses penuaan, pubertas, kehamilan, menopause, perubahan berat badan, kondisi kesehatan, dan lain-lain. Karena itu, untuk menjaga kesehatan psikologis, ada baiknya kita berhenti membandingkan diri dengan orang lain, sekaligus belajar menerima bahwa diri kita sekarang tidak harus menyerupai diri kita yang dahulu. Nriman!



POST A COMMENT.