mepnews.id – Taman Ekspresi di tepi Kalimas, Surabaya, tiba-tiba dipenuhi suara iiikk..okk, iiik..ok, iiik..ok, pada Minggu 8 November 2026. Suara-suara itu berbunyi bersahutan saat anak-anak panti berlomba menjawab pertanyaan dalam lomba Cerdas-Cermat dalam rangkaian acara Kelana (Kenali Literasi Anak Nusantara) 2026.
Suara-suara itu berasal dari klakson terompet karet atau klakson terompet keong. Klakson ini biasanya dipasang di sepeda onthel, digunakan dengan cara diremas bulatan karet di pangkalnya. Saat diremas, udara dari dalam karet tertekan keluar melewat leher klakson yang berbentuk seperti trompet. Saat udara keluar, muncul bunyi iiik… Saat karet tidak dipencet, posisinya kembali menggelembung karena mengisap udara dari sekitar. Saat udara melewat leher klakson, kembali muncul bunyi yang mirip tapi berlawanan, ookk…
Kak Meng, dari Meet Strangers yang mengorganisir seluruh acara Kelana 2026, menyebut pemakaian klakson terompet karet itu improvisasi dadakan. “Awalnya pakai call bell yang bunyi ‘tinggg’ seperti di meja resepsionis hotel. Tapi, karena suara ‘ting’-nya tak terlalu didengar di tempat terbuka, akhirnya kami pakai klakson trompet ini. Bisa dipencet sekaligus diacungkan agar panitia bisa segera tahu isyaratnya.”
Ya, saat lomba Cerdas-Cermat dilaksanakan, tiga regu peserta dari Panti Asuhan Muhammadiyah di Wiyung, Panti Yauma di Lidah Kulon, dan Yayasan Cinta Kasih Ibu Teresa di Beringin, adu cepat memencet klakson begitu panitia Meet Strangers selesai mengajukan pertanyaan.
Iiik..ok… “Benar,” kata Pieterzon dari Yayasan Cinta Kasih Ibu Teresa, menjawab pertanyaan ‘salah-benar’ dari Meet Strangers.
Lalu panitia bertanya pada dewan juri, “Apakah jawaban dari regu A benar?”
Juri memberi isyarat dengan jempol. Artinya benar, dan regu A mendapat poin.
Materi pertanyaan Cerdas-Cermat ini didapat dari Museum Pendidikan yang jaraknya hanya beberapa Langkah dari Taman Eskpresi. Sebelum lomba, 30 anak panti ini memang diajak oleh 28 personel Meet Strangers untuk berkeliling menikmati ilmu pengetahuan yang didapat dari museum.
Hasilnya? Setelah tiga gelombang lomba, Tim C Panti Muhammadiyah jadi juara pertama, Tim E Panti Yasuma juara kedua, dan Tim B Panti Yasuma. Masing-masing juara mendapat piala, sertifikat dan uang tunai.
Relawan Meet Stranger terdiri atas mahasiswa Unesa, UPN V Jatim, UINSA, STIKES Surabaya, Unair, siswa SMA St Luis, dan bahkan pekerja. Juga ada Kak Deva yang memeriahkan acara dengan dongeng bonekanya. Turut hadir, Yusuf Masruh kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Surabaya.
Iiiikkk…okk!



POST A COMMENT.