TEP IPB Beri Pelatihan Olah Ikan Gastor Jadi Minyak Albumin di Merauke

mepnews.id – Tim Ekspedisi Patriot (TEP) IPB University memfasilitasi pelatihan bagi pelaku usaha mikro, kecil, menengah (UMKM), kader posyandu, serta guru dan siswa SMK untuk mengolah ikan gastor menjadi produk minyak albumin. Pelatihan diikuti 25 peserta berlangsung di Balai Kampung Sidomulyo, Distrik Semangga, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, pada 30 Oktober 2026.

Dikabarkan situs resmi ipb.ac.id, sebagian besar ikan gastor di Merauke dijual mentah tanpa pengolahan dengan harga Rp10 ribu per kilogram. Padahal, potensinya sangat besar. Setelah diolah menjadi minyak albumin, nilainya melonjak hingga Rp100 ribu per botol. Pengolahan ini diharapkan dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi keluarga.

Ketua TEP IPB University, Dr Muhammad Iqbal Irfany, menekankan pentingnya pengembangan produk yang berakar pada kondisi setempat. “Pemanfaatan produk herbal harus dibarengi kebiasaan masyarakat dan potensi lokal yang ada. Dengan begitu, produk yang dikembangkan akan lebih mudah diterima dan dapat berlanjut di tengah masyarakat.”

Ikan gastor merupakan sebutan masyarakat Merauke untuk ikan gabus (Channa striata). Ikan yang banyak hidup di rawa dan sungai ini kaya protein albumin. Sari atau ekstrak cair dari daging ikan gastor melalui proses pengukusan dan penyulingan dengan api kecil disebut minyak albumin. Minyak ini dikemas dalam botol sebagai produk kesehatan sebagai protein untuk regenerasi sel dan jaringan, menjaga keseimbangan cairan tubuh, serta membantu transportasi molekul dalam plasma darah.

Simon Sirena Sau, Kepala Program Studi Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian SMK Negeri 5 Merauke, menjelaskan dari 10 kilogram ikan gastor dapat dihasilkan 1,2 hingga 1,5 liter albumin. Biaya satu kali produksi Rp600 ribu untuk 10 botol dengan harga jual Rp100 ribu per botol.

Setelah albumin keluar, daging ikan yang tersisa dapat diolah menjadi abon. Tulangnya dapat dijadikan tepung campuran pakan ternak. Dengan begitu, seluruh bagian ikan gastor dapat dimanfaatkan sehingga tidak menyisakan limbah.

Sesi diskusi berlangsung aktif. Irawati, guru SMK Negeri 11 Merauke, menanyakan, “Bagaimana cara menyimpan minyak albumin yang sudah diproduksi? Berapa lama produk bisa bertahan?”

Kata Simon, minyak albumin harus disimpan di dalam lemari pendingin. Jika disimpan dengan cara sesuai, produk dapat awet hingga enam bulan.

Peserta juga menanyakan alat produksinya, kondisi ikan yang baik untuk diolah, hingga cara mengetahui albumin sudah keluar.

Simon menjelaskan, ikan sebaiknya masih segar dan langsung diproses setelah dibersihkan. Proses pengukusan dilakukan dengan api kecil agar kualitas albumin tetap terjaga.

Di akhir kegiatan, peserta dan narasumber membentuk grup komunikasi bersama sebagai wadah untuk berbagi informasi dan berdiskusi lebih lanjut mengenai pengolahan minyak albumin. (*/Rz)

Facebook Comments

POST A COMMENT.