Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – “Mbak, aku mau curhat,” kata Sari.
“Curhat apa?” saya balas.
“Tahu suami saya, kan? Nah, dia itu punya kebiasaan aneh. Kalau mau mengambil keputusan, dia sering menarik napas panjang sekali. Kadang saya khawatir; jangan-jangan dia menyembunyikan sesuatu.”
“Eh, jangan suudzon. Bisa jadi itu cara tubuhnya menenangkan diri sebelum memutuskan.”
“Jadi, bukan tanda dia ragu?”
“Belum tentu. Mungkin dia sedang memberi waktu untuk berpikir lebih tenang. Napas itu memengaruhi kondisi tubuh dan pikiran.”
———–
Pembaca yang budiman, bernapas itu bukan sekadar aktivitas memasukkan oksigen ke dalam tubuh. Cara orang mengatur napas berhubungan dengan cara otak menilai pilihan-pilihan, termasuk ketika ia harus mengambil keputusan yang mengandung risiko.
Saya baca hasil penelitian oleh tim peneliti German Institute of Human Nutrition Potsdam-Rehbruecke (DIfE) dan Charité – Universitätsmedizin Berlin. Ternyata, memperlambat napas dan memperpanjang hembusan napas dapat membuat seseorang lebih berani ambil risiko!
Konon, pengambilan keputusan tidak sepenuhnya berlangsung di otak. Kondisi tubuh —termasuk aktivitas jantung—juga dapat mengirimkan sinyal yang memengaruhi bagaimana otak memproses informasi.
Untuk mengujinya, peneliti melibatkan 41 orang dewasa sehat yang diminta mengambil sejumlah keputusan berisiko sambil mengikuti pola pernapasan tertentu. Dalam salah satu kondisi, peserta penelitian bernapas dengan ritme normal. Dalam kondisi lainnya, mereka memperlambat pernapasan dan memperpanjang fase mengembuskan napas dengan rasio 2:8.
Selama eksperimen, peneliti mengamati pilihan peserta penelitian sekaligus merekam aktivitas otak lewat fMRI. Pola pernapasan, aktivitas jantung, konduktansi kulit, dan respons pupil juga dipantau. Hasilnya menunjukkan, hembusan napas yang lebih panjang bisa memperlambat detak jantung dan meningkatkan variabilitas denyut jantung. Pada kondisi ini, peserta cenderung memilih opsi yang lebih berisiko.
Yang menarik, keberanian mengambil risiko itu bukan berarti karena peserta penelitian menjadi kurang peduli terhadap kerugian. Respons mereka terhadap kemungkinan kehilangan relatif tetap. Lalu, apa istimewanya? Ternyata, perubahan terjadi pada meningkatnya perhatian mereka terhadap potensi keuntungan. Dengan kata lain, kondisi fisiologis yang muncul ketika seseorang bernapas lebih lambat dan panjang tampaknya membuat otak lebih responsif terhadap kemungkinan mendapatkan sesuatu yang lebih bernilai.
Yang juga menarik, peneliti menemukan peningkatan aktivitas pada ventromedial prefrontal cortex dan precuneus. Ini adalah dua wilayah dalam otak yang berkaitan dengan pemrosesan penghargaan serta hubungan antara aktivitas jantung dan fungsi otak.
Nah, temuan ini mendukung gagasan neurovisceral, yaitu tubuh dan otak terus berinteraksi dalam membentuk perilaku dan keputusan. Penelitian ini membuka kemungkinan bahwa pengaturan napas dapat menjadi cara sederhana untuk memengaruhi keadaan mental dan perilaku.
Harap dicatat, temuan penelitian ini tidak berarti bahwa memperpanjang napas bakal selalu menghasilkan keputusan yang lebih baik. Tidak selalu! Penelitian ini justru menunjukkan kecenderungan mengambil risiko lebih besar –dengan pertimbangan reward yang bakal didapatkan.



POST A COMMENT.