Salah Satu Pain Killer Mujarab itu Menggenggam Tangan Pasangan

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Saat kami sedang menikmati waktu santai di mall, teman saya melihat pemandangan menarik.

“Es, lihat dua orang itu. Usia mereka sudah lanjut, tapi sangat pede saling berpegangan tangan di tempat ramai. Bikin iri saja…hahaha…,” kata dia.

“Kita nggak pernah tahu apa yang ada di dalam benak masing-masing orang. Siapa tahu mereka pernah mengalami hal-hal traumatis. Menggenggam tangan pasangan bisa meredakan perasaan itu.”

“Iya, kah…?

————-

Pembaca yang budiman, saya tidak ingin membahas pasangan manula itu karena mereka cepat berlalu dari pandangan kami. Saya di sini lebih ingin membahas aksi menggenggam tangan pasangan. Dalam kondisi tertentu, aktivitas yang tampak biasa ini ternyata berpotensi meredakan rasa sakit. Bukan hanya rasa sakit fisik, tetapi juga rasa sakit emosional akibat pengalaman sosial yang menyakitkan.

Ada penelitian yang menunjukkan, menggenggam tangan orang yang disayangi ketika mengalami rasa sakit fisik dapat membuat seseorang merasakan sakitnya jadi lebih ringan. Lalu, muncul pertanyaan, ‘apakah sentuhan yang sama juga dapat membantu seseorang menghadapi social pain alias penderitaan emosional akibat penolakan, kehilangan, kemarahan, kesedihan, atau perasaan ditinggalkan?

Pertanyaan ini menarik karena rasa sakit fisik dan rasa sakit sosial diketahui melibatkan beberapa wilayah otak yang serupa, antara lain; amygdala, hippocampus, dan prefrontal cortex.

Maka, penelitian dilakukan dengan cara para peserta diminta mengingat dan menuliskan pengalaman sosial yang pernah membuat mereka mengalami tekanan emosional. Mereka kemudian diminta mengingat kembali pengalaman dalam dua kondisi: 1. sambil menggenggam tangan pasangan, dan 2. sambil memegang bola yang dapat diremas. Tingkat rasa sakit emosional mereka diukur ketika kenangan tersebut diingat dan kembali diperiksa sekitar satu minggu kemudian.

Hasilnya cukup menarik. Ternuyata, menggenggam tangan pasangan bisa tidak secara langsung menghilangkan rasa sakit emosional ketika kenangan buruk tersebut diingat. Namun, satu minggu kemudian, kenangan yang sebelumnya diingat sambil menggenggam tangan pasangan ternyata menimbulkan tekanan emosional yang lebih rendah dibandingkan kenangan yang diingat sambil memegang bola remas.

Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Dalam psikologi, ada istilah memory reconsolidation atau rekonsolidasi memori. Ketika suatu pengalaman emosional diingat kembali, memori tersebut dapat menjadi lebih fleksibel dan terbuka terhadap perubahan. Kehadiran pasangan melalui sentuhan tangan mungkin memberikan pengalaman emosional baru yang lebih aman dan positif ketika kenangan lama itu diaktifkan. Akibatnya, ketika kenangan tersebut muncul kembali di kemudian hari, muatan emosionalnya menjadi lebih ringan.

Apakah selalu begitu? Bisa, bisa tidak. Masih perlu penelitian lebih lanjut dan lebih banyak untuk memastikan hasilnya. Bahkan, belum diketahui seberapa kuat efek menggenggam tangan. Apakah manfaatnya berlaku luas, dan apakah teknik tersebut dapat diintegrasikan ke dalam terapi psikologis.

Nah, yang ingin saya sampaikan adalah ‘sentuhan sederhana dalam hubungan yang penuh kepedulian mungkin bisa memiliki kekuatan psikologis yang lebih besar daripada yang selama ini kita sadari. Menggenggam tangan bukan sekadar tanda kasih sayang, tetapi bisa juga menjadi bentuk dukungan emosional yang membantu seseorang menghadapi luka masa lalu.

Tapi, eittt….jangan sembarang pegang tangan orang. Bisa-bisa malah nambah bahaya.

Facebook Comments

POST A COMMENT.