Karyawan Lebih Nyaman pada Boss AI daripada Boss Manusia

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Saya baru saja membaca hasil penelitian yang menarik. Di tengah perubahan dunia kerja yang semakin dipengaruhi kecerdasan buatan (AI), muncul paradoks: karyawan lebih berani menyampaikan kejujuran kepada mesin daripada kepada atasannya sendiri. Kondisi ini membuka pertanyaan mendasar tentang isu kepercayaan dan kepemimpinan.

Tim peneliti dari Zhejiang University di Cina melakukan eksperimen untuk membandingkan nyali karyawan dalam menyampaikan gagasan, kritik, kekhawatiran, atau apa saja, kepada boss algoritmik dan boss manusia. Peneliti melakukan eksperimen berbasis skenario dengan partisipan di Cina yang direkrut melalui platform Credamo.

Pada eksperimen pertama, partisipan menunjukkan kemauan yang lebih tinggi untuk melakukan voice behavior —menyampaikan gagasan, kritik, kekhawatiran, masukan atau lainnya kepada atasan— ketika atasannya digambarkan sebagai algoritma dibandingkan sebagai manusia. Indikasinya, mesin dapat membuat orang jadi lebih nyaman dan berani mengatakan apa yang mereka pikirkan.

Pada eksperimen kedua, peneliti membandingkan tugas kognitif dan tugas emosional. Untuk tugas kognitif —misalnya aktivitas yang berkaitan dengan keputusan, evaluasi, atau pemecahan masalah— partisipan jauh lebih bersedia menyampaikan pendapat kepada algorithmic leader daripada human leader. Namun, untuk tugas emosional, hasilnya hampir sama. Indikasinya, boss AI lebih mudah dipercaya sebagai pemimpin untuk urusan yang dianggap objektif dan kognitif, tetapi keunggulan itu tidak muncul ketika persoalannya bersifat emosional.

Pertanyaanya, mengapa orang lebih nyaman bicara kepada boss AI daripada boss manusia? Nah, di sini para peneliti melontarkan teori. Ada semacam rantai mediasi; algorithmic leader → persepsi lebih adil → psychological safety lebih tinggi → willingness to voice lebih tinggi.

Artinya, AI bukan semata-mata membuat orang lebih berani karena “AI adalah AI”. Orang cenderung melihat keputusan atau perlakuan yang dilakukan algoritma ‘lebih fair/adil’. Persepsi ini kemudian meningkatkan psychological safety— yakni perasaan bahwa seseorang dapat menyampaikan pendapat tanpa takut dikenai konsekuensi sosial yang buruk. Kondisi tersebut meningkatkan kemauan untuk berbicara.

Dalam banyak kajian ilmiah selama ini, konsep psychological safety banyak dibahas dalam konteks hubungan manusia dengan manusia dalam organisasi. Nah, penelitian di Zhejiang University ini menunjukkan bahwa interaksi manusia dan AI juga dapat menciptakan kondisi psikologis yang membuat orang lebih nyaman untuk bersuara.

Maka, jika karyawan bisa merasa lebih nyaman dan lebih jujur kepada algoritma daripada kepada atasannya, persoalannya bukan karena AI memiliki kualitas kepemimpinan yang lebih baik. Bisa jadi, berbicara jujur dan terbuka kepada boss manusia memiliki risiko sosial tertentu.

Facebook Comments

POST A COMMENT.