Penyesalan Mendalam Bisa Membuat Anda Mengenali Diri Lebih Jelas

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Setelah beberapa kali sesi curhat, Lana kali ini menangis sesenggukan di hadapan saya. Ia mengaku telah menzalimi keluarganya, menyalahkan wewenang yang diembannya, sehingga semuanya berantakan.

Pembaca yang budiman, tak perlu rasanya saya merinci di artikel ini tentang kesalahan Lana. Yang ingin saya gambarkan adalah ia benar-benar menyesali perbuatannya. Saya berharap penyesalam mendalam ini mendorong ia menata ulang pikirannya.

Biasanya, penyesalan dianggap sebagai emosi yang tidak cukup berguna. Bahkan, ada yang menggap penyesalan itu sesuatu yang sebaiknya dilupakan saja agar kita dapat segera ‘move on‘. Namun, filsuf Joshua Halberstam mengingatkan, “Your deepest regrets help you see yourself more clearly.”

Penyesalan sering kali muncul ketika kita menyadari bahwa suatu tindakan atau keputusan ada dalam genggaman kita tapi kita tidak melakukannya dengan benar sehingga membawa dampak buruk atau gagal mendapatkan yang terbaik. Lana, misalnya, menyesal karena tidak bisa menjaga hubungan lebih baik dengan keluarganya.

Menurut Halberstam, kita tidak terlalu menyesali sesuatu yang sejak awal berada jauh di luar kemampuan atau kesempatan kita. Tapi, penyesalan terasa kuat ketika alternatif yang kita bayangkan sebenarnya cukup dekat dengan kenyataan.

Karena itu, penyesalan bisa menjadi semacam ‘alat diagnostik diri’. Penyesalan yang mendalam bisa menunjukkan kemungkinan hidup apa yang kita anggap lebih penting, nilai apa yang kita pegang lebih erat, serta potensi diri yang kita yakini pernah kita miliki.

Halberstam juga menunjukkan, jenis penyesalan bisa berubah seiring waktu. Dalam jangka pendek, kita cenderung lebih menyesali sesuatu yang telah kita lakukan tetapi ternyata salah. Dalam jangka panjang, penyesalan terhadap sesuatu yang ‘tidak kita lakukan’ sering menjadi lebih berat.

Saran Halberstam adalah jangan selalu berusaha menghilangkan penyesalan. Dengarkan rasa penyesalan dengan jujur. Sebab, apa yang paling kita sesali sering kali menunjukkan nilai-nilai, keinginan, potensi, dan gambaran diri yang paling dalam. Gambaranya bahkan mungkin lebih jelas daripada keberhasilan-keberhasilan yang pernah kita raih.

Maka, pada Lana saya ingatkan; an-nadamu tawbah (penyesalan adalah tobat). Ini adalah hadis yang diriwayatkan antara lain oleh Ibn Mājah dan Ahmad. Maknanya dalam. Tobat itu tidak semata-mata mengucapan astaghfirullah, tetapi dengan kesadaran batin bahwa sesuatu yang dilakukan adalah keliru.

Penyesalan yang sehat memiliki tiga tahap: menyadari, menyesali, lalu memperbaiki. Kalau hanya sampai sekadar menangis dan bersedih, penyesalan bisa-bisa berubah menjadi beban. Tetapi, ketika diteruskan menjadi tindakan positif, penyesalan bisa menjadi energi moral untuk berubah jadi lebih baik.

Facebook Comments

POST A COMMENT.