Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – “Mbak, saya khawatir pada kebiasaan Bapak. Kalau sudah nonton televisi, bisa lupa berdiri,” begitu Kay memulai curhatnya.
Saya menimpali dengan setengah bercanda, “Eh, masih ada televisi di rumahmu di era digital ini?”
“Ya iya, lah…” kata Kay. “Benda itu yang jadi teman akrab Bapak. Bisa duduk berjam-jam setiap hari di depan pesawat televisi.”
“Sudah lama begitu itu?”
“Mungkin setahun ini. Kalau sudah duduk di depan TV, sulit diajak melakukan kegiatan lain. Jarang beraktivitas fisik, baca, atau gaul. Setelah sarapan, langsung nyalakan televisi. Sore dan malam juga begitu.”
………….
Pembaca yang budiman, ada beberapa hal yang saya obrolkan dengan Kay soal kebiasaan itu. Salah satunya, tentang penelitian yang menemukan hubungan antara kebiasaan menonton televisi berlebihan pada usia paruh baya dengan perubahan struktur otak dalam beberapa dekade kemudian.
Penelitian ini melibatkan 1.700 orang dewasa dengan usia rata-rata 53 tahun dalam studi jangka panjang Atherosclerosis Risk in Communities (ARIC). Kebiasaan menonton televisi mereka dicatat pada akhir 1980-an. Beberapa saat lalu, yakni lebih dari 20 tahun setelah pencatatan, kondisi otak mereka diperiksa menggunakan MRI.
Hasilnya, hmmm… cukup menarik.
Orang yang menonton televisi sangat sering ternyata memiliki volume lebih kecil pada sejumlah wilayah otak. Pengecilan ini terjadi antara lain di bagian yang berkaitan dengan memori serta lobus frontal dan oksipital.
Mereka juga memiliki lebih banyak white matter hyperintensities yaitu tanda yang berkaitan dengan penyakit pembuluh darah kecil di otak dan yang sebelumnya dikaitkan dengan penurunan fungsi kognitif serta demensia.
Bagian lain dari penelitian juga menunjukkan, duduk terlalu lama mungkin bukan persoalan utamanya. Orang yang banyak duduk karena pekerjaan, tetap melakukan aktivitas yang menuntut konsentrasi, pemecahan masalah, dan stimulasi intelektual, justru menunjukkan indikator struktur otak yang lebih baik.
Apakah terlalu lama duduk menonton televisi bisa menganggu otak? Tentu, masih perlu penelitian lebih lanjut untuk memastikannya.
Sejauh ini, para peneliti cuma menekankan bahwa penelitian mereka menunjukkan adanya hubungan antara duduk lama menonton televisi dengan pengeceilan beberapa bagian otak. Ada hubungan! Ini tidak selalu berarti bahwa terlalu lama menonton televisi bisa secara langsung menyebabkan penyusutan otak.
Mengapa para peneliti masih belum mau memastikan? Pertama, kebiasaan menonton TV itu dilaporkan sendiri oleh peserta penelitian. Kedua, kala itu belum tersedia pemindaian MRI pada masa awal penelitian.
Nah, pesan yang lebih penting dari penelitian ini bukan sekadar “Jangan terlalu banyak duduk.” Yang harus kita camkan adalah, “Kurangi aktivitas sedentari yang pasif, gantilah dengan aktivitas yang melibatkan pikiran.”
Boleh nonton TV, boleh juga main medsos, tapi jangan berlebihan. Lebih baik mengaktifkan otak dengan kegiatan lain, misalnya lebih banyak membaca, belajar, berdiskusi, menulis, bermain musik, atau aktivitas sosial dan intelektual lainnya.



POST A COMMENT.