mepnews.id – Mahasiswa Institut Teknologi Kalimantan (ITK) mengembangkan AQUA-SENSE, purwarupa sistem pemantauan kualitas Air Asam Tambang (AAT) pasca-biofiltrasi berbasis Internet of Things (IoT) dan Fuzzy Logic. Inovasi ini untuk membantu pemantauan kualitas air agar dapat dilakukan lebih cepat, terukur, dan real-time.
Dikabarkan situs resmi itk.ac.id, AQUA-SENSE dikembangkan Naufal Tiarana Putra dari Program Studi Informatika sebagai ketua tim, bersama Ferry Ramadhan dari Teknik Mesin dan Almar’u Zaim Mizan dari Teknik Elektro. Pengembangan inovasi ini dibimbing Dr Eng Lusi Ernawati ST MSc.
Air Asam Tambang biasanya memiliki tingkat keasaman tinggi dan berpotensi memberikan dampak terhadap lingkungan bila tidak dikelola dengan baik. Melalui AQUA-SENSE, tim menggabungkan proses pengolahan air secara fisik dengan sistem pemantauan digital untuk mengetahui kondisi air setelah biofiltrasi.
Proses biofiltrasi menggunakan empat media utama; pasir silika, manganese, zeolit, dan karbon aktif. Pasir silika membantu menyaring partikel tersuspensi, manganese membantu proses pengendapan logam, zeolit menyerap ion logam terlarut, karbon aktif membantu menyerap zat organik, mengurangi bau, dan meningkatkan kejernihan air.
Setelah proses biofiltrasi, kualitas air dipantau tiga parameter utama; pH, Total Dissolved Solids (TDS), dan turbiditas. Sensor terhubung dengan mikrokontroler ESP32, kemudian data diproses menggunakan Fuzzy Logic Mamdani dengan 33 aturan untuk menentukan tingkat kelayakan air.
Sistem menghasilkan tiga kategori kondisi air; ‘Layak Digunakan’, ‘Perlu Treatment’, dan ‘Tidak Layak’. Seluruh data ditampilkan melalui dashboard IoT secara real-time, lengkap dengan nilai parameter, skor kelayakan, status kualitas air, grafik perubahan, dan riwayat pembacaan.
Dalam pengujian, Air Asam Tambang sebelum filtrasi memperoleh skor 14 dan dikategorikan Tidak Layak. Setelah melalui biofiltrasi, skor meningkat menjadi 95 dan masuk kategori Layak Digunakan. Sementara itu, sampel air dengan kondisi basa memperoleh skor 55 dan dikategorikan Perlu Treatment.
Melalui AQUA-SENSE, mahasiswa ITK mencoba menghadirkan sistem pemantauan kualitas air yang bisa membaca kondisi air sekaligus membantu memberikan informasi kelayakan secara otomatis. Sistem ini diharapkan dapat mendukung pengelolaan lingkungan pertambangan sekaligus mengurangi kebutuhan pemeriksaan langsung di area yang berpotensi memiliki risiko operasional.
Pengembangan AQUA-SENSE juga memperlihatkan kolaborasi lintas bidang antara Informatika, Teknik Mesin, dan Teknik Elektro dalam menjawab persoalan nyata melalui teknologi. Inovasi ini salah satu penerapan ilmu mahasiswa ITK untuk menghasilkan solusi lebih efisien, adaptif, dan berdampak bagi industri serta lingkungan.



POST A COMMENT.