Menari Sambil Melawan Keraguan

mepnews.id – Alunan musik memenuhi ruang latihan. Gerakan tangan dan kaki mengikuti irama. Seorang gadis di depan memberi contoh gerakan pada anak-anak yang memperhatikannya. Sesekali suaranya terdengar menghitung ketukan agar gerakan dilakukan secara serempak. Senyum kecil terukir ketika gerakan yang diajarkan diikuti dengan baik. Tak banyak yang tahu, di balik senyum itu pernah tersimpan rasa ingin menyerah pada dunia tari.

Gadis itu adalah Happy Elvita Khairani. Remaja asal Blitar itu jatuh hati pada seni tari ketika berusia delapan atau sembilan tahun. Saat duduk di kelas 2 SD pada 2018, ia biasa melihat pertunjukan tari di televisi dan menyaksikan saudaranya berlatih. Beberapa kali mengantar saudaranya latihan, ia mulai mengikuti gerakan penari dari belakang. Dari kebiasaan sederhana itu, rasa penasarannya terhadap perlahan tumbuh menjadi kecintaan. Sejak saat itu, ia akrab dengan ruang latihan.

Happy belajar mengikuti irama, menghafalkan gerakan, mengulang bagian yang belum dikuasai, hingga berani menampilkan apa yang telah dipelajari. Awalnya hanya penasaran, perlahan tarian menjadi bagian dari kehidupannya. Yang dulu hanya karena ingin mencoba, kini tarian berubah menjadi sesuatu yang terus ia perjuangkan.

Di sela kesibukan sebagai pelajar, Happy meluangkan waktu untuk berlatih dan mengikuti kegiatan seni. Tak disangka, ia kini menjadi pelatih ekstrakurikuler tari di tingkat SD dan SMP. Kepada anak-anak, ia mengajar di Sanggar Tari Pendopo, Kota Blitar. Tangannya memberikan contoh gerakan, kakinya mengikuti ketukan, suaranya menghitung irama agar anak-anak bergerak serempak. Ruang yang dahulu menjadi tempatnya belajar kini menjadi tempatnya mengajar. Ia tidak lagi berdiri di belakang mengikuti gerakan pelari lain, tetapi di depan untuk memberikan contoh kepada anak-anak yang sedang belajar.

Menjalani peran sebagai pelajar sekaligus pelaku seni membuat Happy harus pandai membagi waktu dan menghadapi pilihan yang tidak selalu mudah. Salah satunya ketika tanggung jawab sekolah berbenturan dengan jadwal mengajarnya. Pada suatu waktu, jadwal Happy mengajar bertepatan dengan tenggat waktu tugas sekolah yang bersifat wajib. Akhirnya ia harus melewatkan jadwal mengajar untuk menyelesaikan tugas sekolah.

“Aku terpaksa melewatkan jadwal mengajar adik-adik karena aku ada tugas sekolah yang deadline-nya bersamaan. Jujur, rasanya kecewa, sedih, dan ada penyesalan. Aku udah siap-siap dan semangat, adik-adik juga sudah berbondong-bondong datang. Tapi, di sisi lain, aku sadar ada tanggung jawab sekolah yang harus diprioritaskan,” siswi SMKN 1 Nglegok itu.

April 2026 menjadi salah satu titik ketika keyakinannya di jagad seni kembali diuji. Si lincah itu mengalami konflik komunikasi dengan pelatih di sanggar akibat perbedaan persepsi dalam evaluasi gerakan. Konflik tersebut sempat menurunkan motivasi dan kepercayaan dirinya. Itu juga membuatnya harus melepaskan sejumlah kesempatan yang ada. Saat pencapaian teman-temannya semakin jauh karena terus melangkah, Happy merasa masih di tempat yang sama.

“Waktu itu saya sempat sedih dan kecewa. Teman-teman sudah mendapat banyak pencapaian, saya masih di sini-sini saja,” katanya.

Perasaan tertinggal itu membuat Happy merasa kemampuan menarinya tidak sebagus sebelumnya. Evaluasi pelatih terhadap gerakannya membuat keyakinannya semakin goyah. Gerakan yang dahulu dilakukan dengan yakin kini dipenuhi keraguan. Sampai-sampai, ia mulai mempertanyakan apakah masih mampu melanjutkan perjalanan seni atau tidak. Keinginan untuk berhenti bukan karena ia sudah tidak menyukai tari. Justru karena tari begitu berarti maka kekecewaannya itu terasa lebih berat.

Namun, Juni 2026 menjadi titik tolak baru. Tak mau tunduk pada keraguan, Happy mengendalikan emosi dan mencari jalan untuk memperbaiki keadaan. Ia segera membangun komunikasi dengan pelatih untuk menyelesaikan perbedaan. Ia juga tetap menyempatkan diri rutin berlatih agar kemampuannya terus terasah. Kritik ia jadikan dorongan untuk berusaha lebih keras dan memperbaiki gerakannya.

“Daripada berhenti, lebih baik saya latihan lagi dan membuktikan bahwa saya masih bisa,” tuturnya.

Tekadnya membuahkan hasil. Pada 13 Juni 2026, ia menjadi Juara 1 dalam lomba Tari Kreasi Nusantara untuk kategori Tari Tunggal dalam ajang Panggung Kreasi Budaya Nusantara 2026 tingkat Kabupaten Blitar. Kala itu, Happy membawakan tari ‘Ksatria’ di Pendopo Kantor Kecamatan Garum.

Kini, Happy tidak hanya ingin terus menari. Ia juga ingin menjaga agar seni yang telah menjadi bagian hidupnya tetap dikenal generasi berikutnya. Kelak, ia ingin membuka sanggar tari sendiri sebagai wadah untuk mengenalkan sekaligus melestarikan budaya Indonesia.

“Saya ingin punya sanggar sendiri. Saya ingin mengajarkan tari kepada anak-anak supaya mereka juga mengenal dan mencintai budaya Indonesia,” ungkapnya.

Cita-cita itu membuat visinya kembali memiliki arah. Baginya, mengajarkan tari bukan hanya tentang mengajarkan gerakan, tetapi juga membuka kesempatan bagi generasi berikutnya untuk mengenal dan mencintai budaya Indonesia.

Alunan musik kembali memenuhi ruang latihan. Gerakan tangan dan kaki mengikuti irama. Pelatih muda ini berdiri di depan memberikan contoh kepada anak-anak yang memperhatikannya. Pemandangan itu seperti mengulang masa lalu, tetapi dengan posisi yang berbeda. Dahulu ia anak yang berdiri di belakang mengikuti gerakan saudaranya, kini ia berada di depan dan gerakannya diikuti anak-anak yang sedang belajar. (Safa Al Zahra Syabana)

 

Facebook Comments

Website Comments