Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Suatu hari, saya bertemu sahabat senior yang kabarnya sedang dapat cucu ketiga dari dua anaknya. Saat saya beri ucapan selamat, dia malah berkelakar, “Halah, biasa saja. Saya malah nggak boleh ketemu cucu terlalu lama. Anak dan menantu rupanya punya aturan tentang memelihara anak mereka. Saya ya ngikuti mereka saja. Kan memang beda zaman.”
Pembaca yang budiman, zaman modern memang mengarah ke individualisme. Generasi medsos lebih banyak belajar mandiri dari gadget daripada belajar nilai-nilai sosial era generasi sebelumnya. Tak heran, banyak generasi kini yang tidak punya ikatan cukup kuat dengan keluarga besar. Padahal, dalam sebagian besar sejarah manusia, anak-anak umumnya tumbuh dalam lingkungan yang melibatkan orang tua, kakek-nenek, kerabat, dan komunitas secara bersama-sama.
Data dari Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) menunjukkan, sekitar 15,5 juta atau 34,9 persen remaja Indonesia pernah mengalami masalah kesehatan mental. Nah, di tengah krisis kesehatan mental anak dan remaja, peran kakek dan nenek justru semakin penting untuk membantu mereka. Tapi, peran ini mulai terabaikan.
Saya sependapat dengan Kenneth Barish PhD, profesor psikologi klinis di Weill Cornell Medicine, Amerika Serikat. Menurutnya, berkurangnya keterlibatan keluarga besar menyebabkan anak atau remaja kehilangan sumber dukungan emosional yang selama ini berperan penting dalam perkembangan psikologis mereka.
Memang, tantangan terbesar yang dihadapi anak dan remaja masa kini bukan hanya tekanan akademik. Budaya yang semakin menekankan pencapaian individu dibandingkan kepedulian terhadap orang lain juga menjadi tantangan. Ketika keberhasilan diukur semata-mata melalui prestasi, nilai ujian, atau kompetisi, maka anak-anak menjadi lebih rentan mengalami kecemasan, depresi, dan kehilangan makna hidup.
Padahal, kakek dan nenek dapat membantu mereka menumbuhkan nilai-nilai empati, kasih sayang, serta rasa memiliki tujuan hidup yang lebih luas daripada sekadar meraih prestasi pribadi. Salah satu kontribusi besar kakek dan nenek adalah kemampuan mereka menghadirkan ‘molekul-molekul kesehatan emosional’ yaitu perhatian, dorongan, pelukan, percakapan, dan kesediaan mendengarkan.
Ini tampak sederhana tetapi memiliki dampak besar terhadap ketahanan mental anak. Saat anak yakin selalu memiliki seseorang yang mau mendengar dan memahami perasaannya, maka ia akan lebih mampu menghadapi kegagalan, konflik, maupun tekanan hidup. Kondisi ini membantu membangun sistem kekebalan emosional yang membuat anak lebih tangguh menghadapi berbagai tantangan.
Dalam bukunya The Art and Science of Parenting and Grandparenting: Raising Emotionally Healthy Children in a Challenging World, Barish menyebut peran kakek dan nenek bukan sekadar membantu menjaga atau mengasuh cucu saat orang tua sibuk. Kakek atau nenek bisa menjadi penyangga emosional yang dapat melindungi kesehatan mental anak di tengah meningkatnya tekanan hidup modern.
Mengapa ia berani menyatakan begitu? Ya, berdasarkan pengalaman klinis lebih dari 40 tahun sebagai psikolog anak, dipadukan dengan berbagai temuan dari neurosains, psikologi perkembangan, dan berbagai penelitiannya sendiri di bidang akademis.
Menurut Barish, kakek/nenek bisa membantu anak menumbuhkan empati dan tujuan hidup. Rasa kesejahteraan psikologis tidak hanya dari rasa percaya diri, tetapi juga dari ‘memiliki tujuan hidup yang melampaui kepentingan diri sendiri’. Melalui cerita soal keluarga, teladan hidup, dan interaksi sehari-hari, kakek/nenek bisa membantu anak memahami arti berbagi, menolong, menghargai orang lain, serta menjadi bagian dari komunitas. Nilai-nilai ini memperkuat ketahanan psikologis anak ketika menghadapi kegagalan atau tekanan hidup.
Sekadar mau mendengarkan, memberikan semangat, memeluk, bercakap-cakap, dan meluangkan waktu bersama adalah unsur yang bisa memperkuat daya tahan emosional anak. Pengalaman positif yang berulang membuat anak lebih mampu mengelola kecemasan, kekecewaan, maupun konflik sosial.
Jadi, kontribusi terbesar kakek/nenek bukan bantuan materi atau pengasuhan praktis, melainkan kehadiran emosional. Melalui kasih sayang, kesediaan mendengar, percakapan yang bermakna, dan teladan hidup, kakek/nenek bisa membantu anak membangun rasa aman, empati, tujuan hidup, dan ketahanan mental. Ini empat fondasi yang menurut Barish semakin penting di tengah meningkatnya tantangan kesehatan mental pada anak-anak masa kini.



POST A COMMENT.