mepnews.id – UIN Ar-Raniry Banda Aceh membahas jejak Syekh Yusuf al-Makassari dalam jaringan intelektual, keagamaan, dan maritim di kawasan Samudra Hindia. Pembahasan itu dilangsungkan dalam ‘Simposium Internasional Syekh Yusuf al-Makassari dan Dunia Samudra Hindia: Aceh, Pengetahuan Islam, dan Koneksi Lintas Kawasan’, Senin 14 September 2026, di Ruang Teater Museum UIN Ar-Raniry.
Kegiatan yang menjadi bagian dari peringatan 400 tahun kelahiran Syekh Yusuf al-Makassari 1626–2026 ini digelar secara hibrid dengan melibatkan UIN Ar-Raniry, Balai Pelestarian Kebudayaan Aceh, Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Aceh, MANASA, serta International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS).
Rektor Prof Dr Mujiburrahman MAg mengatakan, forum ini menjadi ruang untuk melihat kembali kiprah Syekh Yusuf dalam jaringan keilmuan dan keagamaan yang menghubungkan Aceh dengan berbagai kawasan di Samudra Hindia. Posisi Aceh penting dikaji karena menjadi salah satu simpul peredaran pengetahuan dan perkembangan jaringan Islam lintas kawasan.
“Di Aceh, kita mendapatkan pengayaan pengetahuan,” kata Mujiburrahman dalam sambutannya, yang dikutip situs resmi ar-raniry.ac.id.
Simposium ini bagian dari rangkaian program nasional memperingati 400 tahun kelahiran Syekh Yusuf al-Makassari setelah tokoh tersebut mendapat pengakuan UNESCO. Program serupa sebelumnya digelar di sejumlah daerah, di antaranya Makassar, Jakarta, dan Mataram.
Salah satu agenda simposium adalah pemaparan temuan manuskrip Masykur Syafruddin dari Pedir Museum. Manuskrip tersebut memuat komentar Syekh Abdurrauf as-Singkili terhadap karya Syekh Yusuf al-Makassari. Prof Mujiburrahman berharap temuan manuskrip itu dapat dipublikasikan sehingga memperkaya kajian hubungan intelektual antara ulama Makassar dan Aceh.
Reza Idria MA PhD, ketua panitia yang juga Wakil Rektor III UIN Ar-Raniry Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama, mengatakan simposium merupakan bagian dari program nasional Kementerian Agama yang dilaksanakan perguruan tinggi keagamaan Islam di berbagai daerah. Sekitar 120 peserta mengikuti kegiatan secara luring. Mayoritas peserta mahasiswa UIN Ar-Raniry, sementara peserta dari sejumlah daerah lainnya mengikuti kegiatan secara daring melalui Zoom.
Simposium menghadirkan lima narasumber, yakni Prof R. Michael Feener dari Center for Southeast Asian Studies (CSEAS), Kyoto University, Dr Husnul Fahimah dari BRIN, Masykur Syafruddin dari Pedir Museum, Dr Hermansyah dari UIN Ar-Raniry dan Dr Sehat Ihsan Sadiqin dari UIN Ar-Raniry.
Michael Feener membahas Aceh and the Making of Islam in the Maritime Southeast Asian World. Husnul Fahimah membahas jaringan sufi dan hubungan intelektual Syekh Yusuf dengan Aceh. Hermansyah mengangkat kajian manuskrip, memori, dan imajinasi sejarah Aceh. Sehat Ihsan Sadiqin membahas mobilitas, Islam, dan jaringan keagamaan dari Aceh hingga kawasan Samudra Hindia.



POST A COMMENT.