mepnews.id – Suasana semarak mewarnai Lapangan Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Teknologi dan Bisnis Widya Gama Lumajang menggelar ‘Festival Kampung Gendhis’ pada 20 Agustus 2026. Kegiatan ini untuk mengangkat potensi lokal, kreativitas masyarakat, serta produk unggulan desa berbasis gula merah dan hasil pertanian maupun peternakan.
Kegiatan dimulai dengan jalan santai pagi yang diikuti perangkat, para kader, dan masyarakat. Jalan santai ini juga mempererat hubungan antara mahasiswa KKN dan masyarakat. Panitia menyediakan undian berbagai berhadiah menarik.
Lalu, Festival dan Pameran UMKM menampilkan berbagai produk kreatif masyarakat Desa Jugosari. Salah satu daya tarik festival adalah aneka olahan makanan tradisional berbahan baku gula merah maupun produk makanan yang mengandung gula merah ramah lingkungan tanpa pengawet dan pewarna.
Gula merah merupakan salah satu potensi ekonomi masyarakat desa Jugosari. Selain untuk bahan pangan, gula merah dikembangkan menjadi berbagai produk olahan. Gula merah memiliki nilai tambah melalui beragam inovasi makanan dan produk yang ditampilkan dalam pameran.
Festival juga menampilkan inovasi hasil pertanian dan peternakan masyarakat. Ini menggambarkan, desa Jugosari memiliki potensi sumber daya yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi, serta mendukung penguatan ekonomi kreatif desa.
Di sela festival, ada lomba Posyandu yang menampilkan kreativitas terbaik dengan memanfaatkan potensi di lingkungan masing-masing. Setelah melalui penilaian tim juri Via Lailatur Rizki SE MM, Dr Fauzan Muttaqien SE MM, dan Dr Ikhwanul Hakim SE MM dari Widya Gama Lumajang, pemenang ditetapkan; Juara 1 Posyandu Mawar Dusun Karangrejo, Juara 2 Posyandu Bougenvile Dusun Kampung Baru, dan Juara 3 Posyandu Melati Dusun Krajan.
Via Lailatur Rizki, Dosen Pembina Lapangan KKN ITB Widya Gama Lumajang, menyampaikan, “Festival Kampung Gendhis dirancang sebagai ruang untuk mempertemukan potensi lokal, kreativitas masyarakat, dan semangat kewirausahaan, agar produk yang ditawarkan memiliki nilai tambah dan layak dikembangkan sebagai kekuatan ekonomi desa.”.
Menurutnya, gula merah sebagai ikon festival memiliki makna strategis. Gula merah bukan hanya komoditas, tetapi dapat menjadi identitas produk lokal yang dikembangkan melalui inovasi pangan, diversifikasi produk, kemasan, pemasaran, hingga pengembangan ekonomi kreatif.
Sebelumnya, pada 13 Agustus, para mahasiswa KKN Widya Gama Lumajang menggulirkan program pemberdayaan masyarakat melalui Web Pemetaan UMKM Desa dan Workshop Pembukuan Sederhana bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Kegiatan di Balai Desa Jugosari ini bagian dari program kerja penguatan kapasitas UMKM melalui pemanfaatan teknologi digital sekaligus meningkatkan kemampuan pengelolaan administrasi dan keuangan usaha.
Kegiatan dibuka oleh Sekretaris Desa Jugosari, Robin, yang mewakili Kepala Desa Mashudi. Dalam sambutannya, Robin menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan program yang memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan membantu pelaku UMKM mengenalkan dan mengembangkan usahanya dengan pemanfaatan web.
“Kami berharap pemetaan UMKM dan pelatihan pembukuan sederhana dapat memberikan manfaat sehingga UMKM semakin tertata, berkembang, dan mampu memanfaatkan teknologi untuk memperluas pemasaran,” ujar Robin.
Dr Fauzan Muttaqien, selaku Dosen Pembina Lapangan, menyatakan, “Program web Pemetaan UMKM Desa Jugosari menjadi salah satu inovasi yang dikembangkan mahasiswa KKN untuk membantu mendokumentasikan dan memperkenalkan potensi usaha masyarakat agar lebih terstruktur,”
Melalui platform digital, informasi terkait UMKM di Desa Jugosari diharapkan dapat lebih mudah ditemukan masyarakat maupun calon konsumen. Langkah ini diharapkan menjadi basis data awal bagi pemerintah desa dalam memperoleh gambaran mengenai potensi ekonomi lokal, jenis usaha, produk unggulan, serta kebutuhan pengembangan UMKM di Desa Jugosari.
Selanjutnya, dilaksanakan workshop Pembukuan Sederhana bagi pelaku UMKM. Narasumber Dr Sukma Irdiana SE MM memberikan pemahaman praktis mengenai pentingnya pencatatan transaksi dan pengelolaan keuangan usaha. Pelaku UMKM diharapkan mau dan mampu melakukan pencatatan pemasukan dan pengeluaran, memisahkan keuangan usaha dengan keuangan pribadi, menghitung keuntungan, serta mengetahui kondisi keuangan usahanya secara berkala.
“Pembukuan jangan dianggap rumit. Pencatatan secara konsisten adalah langkah penting untuk membangun tata kelola usaha yang profesional. Pembukuan sederhana menjadi alat untuk mengetahui apakah usaha sedang berkembang, berapa keuntungan yang diperoleh, dan keputusan apa yang perlu dilakukan ke depan,” jelas Sukma Irdiana.



POST A COMMENT.