Sampah Kulit Buah Disulap Jadi “Cairan Ajaib”, Mahasiswa KKN UTA 45 Edukasi Warga RW 03 Kebon Bawang

MEPNEWS.ID-Kulit buah yang biasanya berakhir di tempat sampah ternyata masih bisa dimanfaatkan. Melalui proses fermentasi sederhana, sisa kulit buah dan sayuran dapat diolah menjadi eco-enzyme, cairan serbaguna yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga dan lingkungan.

Gagasan tersebut diperkenalkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas 17 Agustus 1945 (UTA ’45) Jakarta Kelompok 2 kepada masyarakat RW 03, Kelurahan Kebon Bawang, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Edukasi dikemas dalam workshop bertajuk “Ubah Sampah Dapur, Menjadi Cairan Ajaib yang Ramah Lingkungan” yang berlangsung di Kantor Balai RW 03, Minggu (23/8).

Kegiatan tersebut menghadirkan Sisman Prasetyo, S.AP., M.AP., dosen Administrasi Publik UTA ’45 Jakarta, sebagai narasumber. Dalam kegiatan itu, warga tidak hanya diajak memahami persoalan sampah rumah tangga, tetapi juga mempraktikkan cara melihat sampah organik sebagai material yang masih memiliki potensi guna.

Sisman menjelaskan, perubahan perilaku dalam mengelola sampah dapat dimulai dari lingkungan paling dekat, yakni rumah tangga.

“Intinya adalah memberikan edukasi kepada masyarakat agar sampah rumah tangga tidak langsung dibuang, tetapi dapat dimanfaatkan menjadi bahan yang berguna dan bisa dipergunakan kembali,” ujar Sisman.

Menurut dia, pengelolaan sampah tidak selalu harus dimulai melalui langkah yang rumit. Pemanfaatan sisa makanan dan kulit buah menjadi salah satu contoh sederhana yang dapat dilakukan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam workshop tersebut, warga diperkenalkan dengan eco-enzyme, yaitu cairan yang dihasilkan melalui proses fermentasi bahan organik, terutama sisa kulit buah dan sayuran, dengan gula serta air.

Sisman menerangkan bahwa bahan utama yang diperlukan relatif mudah ditemukan di rumah. Kulit buah dan sisa sayuran dicampurkan dengan gula merah atau molase serta air, kemudian difermentasi dalam wadah yang sesuai.

Salah satu komposisi yang diperkenalkan menggunakan perbandingan 1:3:10, yakni satu bagian gula merah atau molase, tiga bagian kulit buah atau sisa sayuran, dan sepuluh bagian air.

Sebagai ilustrasi, wadah berkapasitas sekitar 19 liter dapat diisi dengan kurang lebih satu kilogram gula merah atau molase, tiga kilogram kulit buah atau sisa sayuran, serta sepuluh liter air.

Namun, proses fermentasi membutuhkan perhatian. Wadah tidak dianjurkan diisi sampai penuh karena proses fermentasi menghasilkan gas. Ruang kosong perlu disediakan untuk mengantisipasi tekanan di dalam wadah.

“Pada tahap awal, wadah perlu diperhatikan secara rutin karena proses fermentasi menghasilkan gas. Karena itu, ada tahapan yang harus dilakukan agar prosesnya berjalan dengan baik,” jelas Sisman.

Selama kurang lebih satu minggu pertama, wadah dapat dibuka secara berkala selama sekitar satu hingga dua menit untuk mengeluarkan gas yang terbentuk. Setelah fase awal tersebut, larutan kemudian disimpan di tempat teduh dan dibiarkan menjalani proses fermentasi selama kurang lebih tiga bulan.

Setelah fermentasi selesai, cairan disaring untuk memisahkan ampas dari larutan. Cairan hasil penyaringan inilah yang kemudian dikenal sebagai eco-enzyme.

Bagi warga, pengenalan eco-enzyme memberikan perspektif baru mengenai sampah rumah tangga. Sisa kulit buah yang sebelumnya dianggap tidak memiliki nilai dapat dikumpulkan dan diolah melalui proses sederhana.

Dalam materi workshop, eco-enzyme diperkenalkan sebagai bahan yang dapat dimanfaatkan untuk sejumlah kebutuhan, antara lain sebagai campuran pembersih rumah tangga, sabun cuci piring, pembersih lantai, serta untuk kebutuhan lingkungan tertentu dengan penggunaan dan pengenceran yang sesuai.

 

Sisman menekankan bahwa edukasi pengelolaan sampah seharusnya tidak berhenti pada pemahaman mengenai pentingnya membuang sampah pada tempatnya. Masyarakat juga perlu didorong untuk mengenal prinsip pengurangan dan pemanfaatan kembali sampah sejak dari sumbernya.

“Kalau masyarakat mulai memilah dan memanfaatkan sampah organik dari rumah, setidaknya ada sampah yang tidak langsung masuk ke tempat pembuangan. Kebiasaan sederhana seperti ini penting untuk dibangun,” katanya.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari pelaksanaan program KKN mahasiswa UTA ’45 Jakarta yang berupaya menghadirkan edukasi berbasis kebutuhan masyarakat.

Mahasiswa KKN Kelompok 2 tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga mengajak warga memahami bahwa pengelolaan lingkungan dapat dilakukan melalui kebiasaan sederhana yang dekat dengan aktivitas sehari-hari.

Pesan utama yang dibawa dalam workshop itu pun sederhana: mengurangi sampah dapat dimulai dari dapur sendiri.

Melalui pemanfaatan kulit buah menjadi eco-enzyme, masyarakat diperkenalkan pada alternatif pengelolaan sampah organik yang dapat dilakukan secara mandiri. Dari lingkungan rumah, kebiasaan tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi kepedulian bersama terhadap persoalan sampah di tingkat masyarakat.

Kegiatan di RW 03 Kebon Bawang itu menjadi contoh bahwa edukasi lingkungan tidak selalu harus dilakukan melalui program berskala besar. Perubahan dapat dimulai dari hal sederhana dari rumah, dari dapur, dan dari kebiasaan sehari-hari.

Facebook Comments

POST A COMMENT.