mepnews.id – Salah satu tantangan besar bagi pendidikan di era teknologi adalah menjaga keseimbangan antara penguasaan sains dan pembentukan kesadaran kritis. Saat ini, pendidikan bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) mendominasi arah kebijakan pendidikan. Padahal, dominasi ini berpotensi menggeser peran humaniora dalam membangun empati, etika, serta kesadaran sosial.

Prof Pratiwi pakar bahasa Unesa
Pratiwi Retnaningdyah, Guru Besar Kajian Sastra dan Budaya Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), memaparkan strategi penguatan kesadaran gender mahasiswa melalui pendekatan pembelajaran sastra berbasis digital storytelling. Gagasan ini disampaikan dalam Simposium Nasional Guru Besar Humaniora (SNGB) 2026 di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) 11–13 Agustus 2026.
Dalam forum yang diikuti 55 guru besar humaniora dari 33 perguruan tinggi di Indonesia, Prof Pratiwi menyampaikan kajian bertajuk ‘Pedagogi Feminis dalam Pembelajaran Sastra: Rekomendasi Kebijakan Menuju Pendidikan yang Berimbang antara STEM dan Humaniora.’ Dosen S-1 Sastra Inggris itu menyoroti posisi ilmu humaniora yang kerap dianggap sebagai pelengkap dalam sistem pendidikan. Padahal, pembelajaran sastra memiliki peran strategis dalam membangun kemampuan berpikir kritis dan empati mahasiswa, termasuk dalam memahami persoalan kesetaraan gender.
“Pembelajaran sastra bukan pelengkap kurikulum, melainkan instrumen pedagogis yang tak tergantikan untuk menumbuhkan kesadaran kritis, termasuk kesadaran gender. Sastra melatih kesadaran kritis dan empati yang tidak dihasilkan oleh kurikulum STEM semata,” ujarnya, lewat situs resmi unesa.ac.id.
Ia memaparkan hasil intervensi pedagogis melalui proyek digital storytelling bertajuk ‘Kartini and Me’ yang diterapkan pada 44 mahasiswa tahun ketiga Program Studi Sastra Inggris Unesa dalam mata kuliah Gender Studies. Proyek tersebut menggunakan format Pecha Kucha dengan konsep 20 salindia selama 20 detik setiap tampilan.
Melalui proyek itu, mahasiswa diajak mengkaji pemikiran Kartini dengan membaca surat-surat asli dalam buku Letters of a Javanese Princess (1920). Mahasiswa kemudian membandingkan gagasan Kartini dengan representasi dalam media modern, salah satunya film Kartini (2017) karya Hanung Bramantyo. Hasil analisis terhadap 40 presentasi mahasiswa menunjukkan adanya perubahan cara pandang terhadap isu gender dan sosok Kartini. Sebelum mengikuti pembelajaran, sebagian mahasiswa memahami peringatan Hari Kartini sebatas kegiatan seremonial seperti penggunaan kebaya atau perlombaan di sekolah.
Perempuan yang meraih PhD di University of Melbourne itu menegaskan keberhasilan pembelajaran diukur melalui perubahan kesadaran mahasiswa, bukan sekadar kepatuhan terhadap identitas atau pandangan tertentu.
Berdasarkan temuan tersebut, ia menyampaikan empat rekomendasi kebijakan, yakni integrasi pedagogi feminis kritis dalam kurikulum pendidikan guru, penyetaraan pendanaan riset humaniora dengan STEM, penguatan muatan kesadaran gender dalam pembelajaran bahasa dan sastra, serta pengakuan capaian non kuantitatif seperti kesadaran kritis, empati, dan keadilan sosial sebagai indikator keberhasilan pendidikan.
Seluruh rekomendasi SNGB 2026 telah dihimpun dalam bentuk policy brief dan disampaikan kepada Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon untuk menjadi bahan pengembangan kebijakan ilmu humaniora. Forum tersebut juga melahirkan inisiatif pembentukan Asosiasi Guru Besar Humaniora Indonesia (GBHI) sebagai wadah penguatan kontribusi humaniora dalam pembangunan nasional. (Puput)



POST A COMMENT.