Waspadai Risiko di Balik Cuaca Mbediding

mepnews.id – Belakangan ini, cuaca cenderung dingin meski harusnya sudah memasuki musim kemarau. Kondisi dingin ekstrem alias mbediding ini memberi potensi gangguan bagi kesehatan manusia dan keseimbangan lingkungan.

Wahid Dianbudiyanto ST MSc, pakar Teknik Lingkungan, Unair.

Wahid Dianbudiyanto ST MSc, pakar Teknik Lingkungan, Universitas Airlangga, menyebut mbediding sebagai penurunan tajam suhu udara pada malam hari akibat hilangnya lapisan awan penutup selama musim kemarau.

“Permukaan bumi kehilangan panas lebih cepat karena tidak ada awan yang menahan radiasi balik ke atmosfer,” jelasnya.

Penyebab lainnya adalah hembusan angin muson timur dari benua Australia yang mengalami musim dingin. Massa udara dingin dan kering masuk ke Indonesia bagian selatan akibat perbedaan tekanan antara benua Asia dan Australia.

“Ini penyebab suhu malam hari bisa turun hingga 17 derajat Celcius bahkan lebih rendah di dataran tinggi,” tambahnya.

Fenomena ini diperkirakan berlangsung hingga September 2025, mengikuti pola puncak musim kemarau.

Meski tampak alami, ia mengingatkan perubahan iklim global bisa memperparah siklus mbediding. Tak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman di badan, penurunan suhu drastis ini juga berdampak pada banyak hal.

“Suhu dingin dapat memicu penyakit pernapasan pada manusia, seperti flu dan asma. Bagi peternakan dan pertanian, ini bisa mengganggu produktivitas dan menyebabkan kematian,” ujarnya.

Meski belum ada laporan signifikan, Wahid mengingatkan peningkatan risiko jika fenomena berlangsung lebih lama daripada biasanya. Masyarakat perlu mewaspadai efek jangka pendek dan panjangnya.

Ia lalu menyarankan edukasi publik. “Minimal, masyarakat perlu rutin memantau prakiraan cuaca, mengenakan pakaian hangat saat malam, dan menjaga daya tahan tubuh lewat pola makan sehat.”

Mbediding bukan bencana. Namun, bila diabaikan, ini bisa berubah jadi peringatan dari alam tentang pentingnya kesiapsiagaan lingkungan.

Facebook Comments

Comments are closed.