Pseudologia Fantastica; Saat Berbohong Jadi Kebiasaan

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Pandangan mata Mbak Dita tampak sayu saat bibirnya menyeruput teh hangat di meja kerja saya. “Anak saya makin sering bohong. Dia bohong tuh kayak nggak ada rasa bersalahnya sama sekali.”

Saya mengernyitkan dahi, turut prihatin. *Aduh, serius, Mbak? Bohong kayak gimana?”

“Awalnya sih bohong hal-hal kecil. Pamit kerja kelompok di rumah teman, eh ternyata nongkrong main game. Lalu, bohongnya makin lama makin parah. Minta uang untuk kegiatan sekolah, ternyata gak ada kegiatan apa-apa. Katanya kursus online, eh sertifikatnya bikin sendiri. Mengakunya bisa ini dan itu, tapi tidak ada buktinya. Saat saya minta penjelasan, ekspresinya flat. Nggak ada rasa bersalah. Malah cengar-cengir!”

“Mbak pernah tegur?”

“Berkali-kali. Dari yang halus sampai ngomel. Tapi ya respon dia gitu-gitu aja. Rasanya, dia jadi lebih pintar sekarang; bohongnya makin rapi….”

………….

Pembaca yang budiman, saya menduga anak Mbak Dita mengalami kondisi pseudologia fantastica (PF) alias kebohongan yang sudah level patologis. Tapi, tentu perlu tes dan diagnosis lebih dulu untuk memastikan dugaan saya.

PF, yang juga disebut mythomania, adalah gangguan mental ini ditandai dengan kecenderungan untuk berbohong terus-menerus, semakin meluas, dan sering kali kompulsif (susah sekali ditahan untuk tidak berbohong). Individu dengan PF biasa membuat narasi yang dilebih-lebihkan yang dia yakini benar. Seringkali dengan cerita-cerita dramatis, fantastis, atau tidak masuk akal. Kadang tanpa alasan jelas, kadang sengaja menipu untuk tujuan tertentu. Dari semua itu, yang utama adalah ia merasa tidak berbohong.

Jika sudah sangat berlebihan, PF bisa berdampak pada kondisi mental seseorang termasuk gangguan mental dan gangguan neurologis. Ia mungkin tidak lagi dapat membedakan antara kebenaran dan kebohongan. Karena sering membuat pernyataan palsu, ia bisa mengalami kesulitan dalam hubungan sosial. Bisa juga, ia mengalami rasa bersalah dan malu karena tidak dapat mengontrol kebohongan.

Kondisi mental ini bisa berdampak pada fisik. Stres dan kecemasan berlebihan dapat mempengaruhi kesehatan, antara lain gangguan tidur, gangguan pencernaan (sakit perut dan diare), penurunan sistem imun sehingga rentan terhadap penyakit.

Penanganan PF biasanya melibatkan terapi perilaku kognitif untuk mengatasi masalah yang mendasarinya dan mengubah perilaku yang bermasalah. Jika ada kondisi komorbid dan gejala terkait depresi atau kecemasan, bisa digunakan obat-obatan seperti selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) dan serotonin-norepinephrine reuptake inhibitor (SNRI).

Yang tak kalah penting adalah menedukasi pasien, keluarga, dan pihak terkait tentang konsekuensi dari kebohongan kompulsif. Edukasi ini membantu pasien dan keluarga mengembangkan pemahaman lebih mendalam tentang kondisi PF, membuat pilihan yang tepat terkait pengobatan, dan mengadopsi pendekatan perawatan diri. Lewat edukasi, individu dengan PF bisa diberdayakan untuk menghadapi kondisinya dengan lebih cekatan sehingga nantinya bisa menumbuhkan hubungan interpersonal lebih sehat dan kesejahteraan diri secara keseluruhan.

Facebook Comments

Comments are closed.