Blue Foods Kunci Ketahanan Pangan RI

mepnews.id – Indonesia negara maritim dengan lebih dari 70 persen wilayah berupa perairan. Namun, kekayaan sumber daya hayati laut yang melimpah belum dimanfaatkan optimal untuk mendukung ketahanan pangan, industri, dan pembangunan berkelanjutan.

Prof Kustiariyah, pakar IPB

Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, Prof Kustiariyah, menegaskan bioteknologi kelautan dapat menjadi salah satu kunci mendukung pembangunan agromaritim berkelanjutan di Indonesia.

Hal ini disampaikannya dalam Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University, Sabtu 25 April 2025, yang menyoroti peran strategis bioteknologi kelautan di tengah target pertumbuhan sektor kelautan dan perikanan sekitar 7 persen per tahun dan target 15 persen pada 2045, sejalan visi Indonesia Emas 2045.

Prof Kustiariyah menekankan pentingnya pendekatan ekonomi biru yang mengintegrasikan pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan kelestarian lingkungan. “Bioteknologi mampu mengubah sumber daya hayati laut menjadi produk bernilai tambah tinggi, seperti pangan inovatif, biomaterial, hingga produk pendukung sektor pertanian dan perikanan,” ujarnya, lewat situs resmi ipb.ac.id.

Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah konsep blue foods, yakni transformasi pangan lokal berbasis sumber daya laut yang kaya gizi. Contohnya; tempe dari rumput laut, beras analog berbasis spirulina, serta minuman herbal dari alga yang berpotensi mendukung ketahanan gizi masyarakat.

“Pengolahan spirulina juga dapat dilakukan melalui proses fermentasi menggunakan bakteri asam laktat untuk menghilangkan aroma amis sehingga lebih bisa diterima masyarakat,” jelasnya.

Pengembangan bioteknologi kelautan dilakukan melalui empat pilar utama, yakni transformasi pangan lokal, bioprospeksi bahan alam laut, optimasi produksi ramah lingkungan berbasis biorefinery, serta penerapan prinsip zero waste melalui ekonomi sirkular.

Salah satu contoh implementasi konsep tersebut adalah pemanfaatan residu alga menjadi bioetanol dan biostimulan.

Meski demikian, pengembangan sektor ini masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam aspek hilirisasi, integrasi, kebijakan, serta pemanfaatan hasil riset menjadi produk siap pasar. Pada proses produksi tertentu, seperti pengembangan jamur laut penghasil senyawa antibiotik alami, diperlukan kondisi steril sehingga membutuhkan kolaborasi dengan industri untuk skala produksi lebih besar.

Untuk menjawab tantangan tersebut, diperlukan sinergi lintas sektor serta penguatan peran lembaga seperti technology transfer office (TFO) dalam mendukung hilirisasi inovasi. Dengan pendekatan yang terintegrasi, bioteknologi kelautan diharapkan mampu menjadi penggerak pembangunan agromaritim berkelanjutan di Indonesia. (Ez)

Facebook Comments

POST A COMMENT.