Waspadai Ikan Asing Invasif di Perairan Indonesia

mepnews.id – Keberadaan spesies ikan asing invasif di Indonesia semakin menjadi perhatian karena berpotensi mengancam keseimbangan ekosistem, keanekaragaman hayati, hingga kesehatan lingkungan.

Berdasarkan laporan Platform Antarpemerintah tentang Keanekaragaman Hayati dan Jasa Ekosistem (IPBES), lebih dari 37.000 spesies asing telah dibawa oleh banyak aktivitas manusia ke wilayah dan bioma baru di seluruh dunia. Lebih dari 3.500 di antaranya spesies asing invasif berbahaya yang bisa mengancam alam dan manusia.

Hasil riset dan pemetaan dari BRIN menunjukkan, ada 247 jenis ikan asing di Indonesia dan 50 jenis di antaranya diduga berada di perairan umum. Dari jumlah tersebut, 20 jenis dikategorikan sebagai spesies invasif dengan potensi penyebaran tinggi. Beberapa contoh yang umum ditemukan di Indonesia antara lain ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys sp.), kelompok ikan siklid seperti red devil, ikan cere (Gambusia affinis), nila, hingga ikan arapaima dan aligator gar.

Donan Satria Yudha, dosen Biologi UGM.

Donan Satria Yudha SSi MSc, dosen Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), menjelaskan spesies asing invasif merupakan organisme non lokal yang masuk ke ekosistem baru dan berkembang secara masif hingga mengancam spesies asli. Disebut ‘asing’ karena dari luar habitat aslinya. Disebut ‘invasif’ karena mampu berkembang pesat, mendominasi, serta mengganggu ekosistem baru yang ditempatinya.

Memang tidak semua spesies asing otomatis bersifat invasif, misalnya ikan koi. Namun, potensi tersebut tetap harus diwaspadai. “Tergantung dari kemampuan adaptasi spesies dan kondisi lingkungannya. Kita tetap harus waspada,” ujarnya, lewat situs resmi ugm.ac.id.

Berdasarkan literatur dalam jurnal Sains Malaysiana tahun 2022, ditemukan sedikitnya 50 spesies ikan asing di 72 danau dan 57 sungai pada 28 provinsi di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 18 spesies termasuk kategori invasif. Ikan siklid mendominasi ekosistem danau, ikan sapu-sapu lebih banyak ditemukan di wilayah sungai.

Masuknya spesies asing invasif ke Indonesia sebagian besar dipicu oleh aktivitas manusia. Jalur yang paling umum ialah perdagangan ikan hias dan ikan budidaya konsumsi. “Banyak ikan dilepas ke perairan umum ketika pemilik tidak lagi mampu atau mau merawatnya. Atau, ketika ikan budidaya terbawa banjir dari kolam pemeliharaan,” kata Donan.

Introduksi ikan asing juga terjadi melalui pelepasan seremonial maupun program pengendalian biologis pada masa kolonial. Contohnya introduksi ikan cere (Gambusia affinis) untuk mengendalikan jentik nyamuk malaria.

Para peneliti di Fakultas Biologi UGM menilai spesies invasif berbahaya karena mampu mengubah rantai makanan dan menciptakan kompetisi sumber daya dengan spesies lokal. Ikan sapu-sapu misalnya, dapat merusak habitat ikan lokal dengan memakan tumbuhan air dan alga serta membuat lubang di dasar perairan.

Donan juga mencontohkan dampak lain spesies invasif terhadap fauna lokal. “Ikan cere menyerang dan menggerogoti ekor larva salamander api sehingga banyak larva yang tidak dapat tumbuh dewasa hingga mengalami kematian,” jelasnya.

Ikan nila dinilai dapat memicu eutrofikasi atau ledakan pertumbuhan alga di perairan akibat peningkatan nitrogen dan fosfor dari ekskresi . “Kondisi ini berpotensi meningkatkan kematian ikan lain di habitat yang sama,” katanya.

Facebook Comments

POST A COMMENT.