Berbesar Hati Menangani Orang yang Demensia

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – “Wah, Mama sibuk sekali hari ini,” sapa seorang wanita muda pada ibunya.

“Eh, iya. Tadi barusan menyiram bunga.”

“Bagus, Ma. Biar tetap sehat.”

“Iya, terima kasih,” kata lansia itu. “Tapi, maaf, Anda siapa, ya?”

“Lho, Ma, saya kan anak Mama.”

“Anak yang mana?”

“Yang sering beliin bakso.”

“Oh, iya, iya…. Anak baik!”

“Nah, ingat kan?”

“Ingat.”

“Syukurlah.”

“Tapi, Anda siapa tadi?”

“Anaknya Mama!”

“Kalau begitu, tolong beliin bakso dong.”

“Duh! Jangan-jangan Mama ingat baksonya, lupa anaknya.”

————-

Pembaca yang budiman, pikun seperti yang dalam dialog di atas bisa jadi tanda-tanda demensia. Ketika terjadi kerusakan sel-sel yang berperan dalam pembentukan dan penyimpanan memori dalam otak maka kemampuan mengingat informasi biasanya terganggu. Maka, bisa jadi penderita demensia tidak bisa mengingat anaknya sendiri meski sudah hidup bersama puluhan tahun.

Ketika terjadi demensia, sangat mungkin terjadi masalah komunikasi. Bukan hanya karena lupa, tetapi karena proses berpikir yang mendukung komunikasi juga ikut terganggu. Wujudnya bisa lupa kata-kata yang ingin diucapkan, lupa topik pembicaraan, lupa siapa yang diajak bicara, sulit memahami pembicaraan orang lain, sulit menempatkan percakapan tetap dalam konteks, dan lain-lain.

Jika kita kebetulan sedang berkomunikasi dengan keluarga, teman dekat, atau orang terhormat yang mengalami demensia, tentu permasalahan bisa muncul. Misalnya, kita jadi merasa kesal, marah, geli, atau bahkan sedih. Ketika kondisi ini terjadi, mari kita segera ubah mindset. Mari kita tetapjaga martabat orang yang mengalami demensia.

Perlu disadari, identitas seseorang tidak hilang meskipun ingatannya menurun. Penderita demensia tetaplah pribadi yang utuh. Ia tetap memiliki sejarah hidup, memiliki nilai-nilai, emosi, dan kebutuhan untuk dihormati. Karena itu, ia harus tetap dilibatkan dalam percakapan dan diperlakukan sebagai orang. Dalam bahasa Jawa, ‘tetep diuwongke.’

Komunikasi yang baik itu menuntut adaptasi dari pihak yang sehat. Maka, kalau kita berbicara dengan penderita demensia, kita lah yang harus menyesuaikan diri. Jangan memaksa orang demensia untuk jadi ingat atau jadi pinter. Justru kita perlu mengubah cara berbicara. Misalnya: dengan memperlambat tempo, dengan menggunakan kalimat sederhana, memberi waktu untuk merespons, hingga mengurangi gangguan lingkungan.

Ingat, tujuan berkomunikasi bukan sekadar menyampaikan informasi tetapi juga menjaga hubungan. Dengan orang yang daya ingatannya menurun, kita harus sadari bahwa komunikasi tidak lagi berfokus pada pertukaran fakta akurat. Tujuan yang lebih penting adalah mempertahankan koneksi emosional dan rasa kebersamaan. Orang yang demensia mungkin lupa detail percakapan, tetapi tetap dapat merasakan kasih sayang, penghormatan, dan perhatian dari Anda saat berbicara.

Dalam komunikasi semacam ini, emosi sering lebih penting daripada fakta. Orang dengan demensia kadang ngomong tidak sesuai kenyataan. Maka, jangan terlalu pikirkan ketepatan faktualnya, tapi arahkan perhatian kita pada perasaan yang mendasari ucapannya. Jika ia berkata ingin bertemu ibunya yang sebenarnya sudah meninggal, yang perlu kita pahami adalah kerinduan, rasa aman, atau kebutuhan emosional yang ia rasakan.

Karena itu, mau mendengarkan adalah keterampilan utama bagi kita. Komunikasi itu bukan hanya soal berbicara. Kita perlu menjadi pendengar aktif: memperhatikan ekspresi wajah, nada suara, gerakan tubuh, dan isyarat nonverbal lainnya. Kadang-kadang makna yang sesungguhnya justru muncul melalui bahasa tubuh, bukan kata-kata.

Tanamkan pada diri kita bahwa kesabaran adalah salah satu bentuk penghormatan. Jangan keburu tertawa, marah, atau jengkel pada orang demensia yang sedang berkata. Memberi waktu kepada ia untuk menyelesaikan kalimatnya, tidak memotong pembicaraan, dan tidak menunjukkan perasaan kesal, adalah cara untuk menjaga harga diri dia. Kesabaran bukan sekadar teknik komunikasi, melainkan ekspresi penghormatan terhadap kemanusiaan seseorang.

Yang paling dasar; komunikasi adalah sarana mempertahankan makna hidup. Percakapan membantu penderita demensia untuk tetap merasa menjadi bagian dari dunia sosialnya. Walau kemampuan kognitifnya menurun, kesempatan untuk berbagi cerita, mengenang masa lalu, tertawa, dan merasakan kehadiran orang lain, tetap bisa memberi makna hidup. Komunikasi yang hangat menjadi cara mempertahankan martabat dan kualitas hidup penderita demensia.

Ketika memori seseorang memudar, maka hubungan antarmanusia dengan kita justru menjadi semakin penting. Komunikasi yang penuh empati adalah cara terbaik untuk menjaga hubungan tersebut.

Facebook Comments

POST A COMMENT.