UB Beri Pelatihan K3L dan Tanggap Darurat

mepnews.id – Universitas Brawijaya (UB), melalui Divisi Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan (K3L), menyelenggarakan Pelatihan K3L dan Tanggap Darurat bagi Tenaga Kependidikan 2026 Batch 1 di Gedung Samantha Krida, 15 Juni 2026.

Dikabarkan situs resmi ub.ac.id, kegiatan diikuti sekitar 100 tenaga kependidikan DTUK (Divisi Tata Usaha dan Kerumahtanggaan) untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia menghadapi berbagai kondisi darurat sekaligus memperkuat budaya keselamatan di lingkungan kampus.

Ketua Pelaksana, Amelia Ayu Paramitha SH MH, menjelaskan pelatihan ini bagian dari program berkelanjutan tiga batch hingga Agustus 2026. Setiap batch diikuti sekitar 100 peserta dari berbagai unit kerja. Materinya teori dan praktik agar peserta mampu menerapkan ketika menghadapi kondisi darurat.

Sekretaris Universitas Brawijaya, Dr Tri Wahyu Nugroho SP MSi, mengatakan pelatihan ini bagian dari program prioritas universitas dalam mewujudkan kampus tangguh K3. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi salah satu kunci dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman dan responsif terhadap keadaan darurat.

Universitas Brawijaya menargetkan terciptanya budaya keselamatan dengan menekan angka kecelakaan kerja. “Target kita zero accident. Kalau pun ada kejadian, seluruh tenaga kependidikan harus mampu menanggulangi dan memitigasi risiko dengan cepat dan tepat,” katanya.

Pada sesi pertama, Prof Dr Ir Qomariyatus Sholihah MKes menyampaikan materi mengenai dasar-dasar K3L serta penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3). Penerapan K3L di kampus harus dilakukan secara sistematis melalui perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan perbaikan berkelanjutan.“K3L bukan hanya tanggung jawab satu unit, tetapi seluruh sivitas akademika. Dengan penerapan SMK3 yang baik, risiko kecelakaan kerja dapat diminimalkan dan lingkungan kampus menjadi lebih aman serta nyaman,” jelasnya.

Pandu Novan, perwakilan Dinas Pemadam Kebakaran Kota Malang, memberikan materi pencegahan dan penanggulangan kebakaran.

“Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi potensi bahaya kebakaran di lingkungan kerja, termasuk penggunaan instalasi listrik dan penyimpanan bahan mudah terbakar. Pencegahan kebakaran harus dimulai dari kesadaran terhadap potensi bahaya. Ketika masyarakat memahami risiko, maka peluang terjadinya kebakaran dapat ditekan sejak awal,” ujarnya.

Peserta lalu mendapatkan simulasi penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) serta penanganan berbagai jenis kebakaran sesuai klasifikasi. Pandu menekankan, kecepatan dan ketepatan tindakan menjadi faktor penting dalam meminimalkan dampak kebakaran.

“Jangan panik ketika menghadapi kebakaran. Kenali jenis kebakarannya terlebih dahulu, gunakan media pemadam yang sesuai, dan utamakan keselamatan diri sebelum melakukan tindakan pemadaman,” tegasnya. (RST/AIK)

Facebook Comments

POST A COMMENT.