Jangan Khawatir; Otak Tidak Menjadi Tua Karena Usia

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – “Mbak Est, akhir-akhir ini saya kok jadi sering khawatir,” kata teman senior. “Sekarang saya sering lupa. Kadang masuk dapur terus lupa mau ambil apa. Yang sering, nyari kacamata setengah jam eh ternyata masih nempel di atas kepala. Jangan-jangan fungsi otak saya mulai menurun karena usia.”

“Sama saya nggak lupa, kan?” saya balas dengan tawaan.

“Ya enggak lah. Siapa lagi yang enak diajak curhat…”

“Hehee, tenang, Mbak. Saya bisa paham perasaan semacam itu. Memang banyak orang menganggap bertambah umur pasti bikin otak menurun.”

“Hla, ya itu… itu yang bikin cemas. Kadang saya berpikir, seberapa lama lagi saya masih bisa menulis, mengajar, atau mengingat sebanyak sekarang?”

“Begini, Mbak. Fungsi otak itu tidak otomatis memburuk hanya karena usia kita menua. Kita bisa menjaga dan bahkan meningkatkan kesehatan otak.”

“Wah, aku baru dengar itu.”

————

Pembaca yang budiman, banyak orang percaya bahwa semakin tua usia maka semakin menurun pula kemampuan berpikirnya. Tapi, kenyatananya tidak selalu begitu. Ternyata, otak manusia masih bisa berkembang dan menjadi lebih baik bahkan hingga usia lanjut.

Ada penelitian ilmiah tiga tahun yang melibatkan 3.966 orang usia antara 19 hingga 94 tahun dalam The BrainHealth Project. Para peserta penelitian diminta melakukan aktivitas pelatihan otak sederhana selama 5 – 15 menit setiap hari. Hasilnya cukup mengejutkan: peningkatan kesehatan otak terjadi hampir di semua kelompok usia.

Para peneliti menilai kondisi peserta penelitian menggunakan alat ukur yang disebut BrainHealth Index. Penilaian ini tidak hanya melihat kemampuan berpikir tetapi juga memperhatikan keseimbangan emosi, kualitas tidur, kebahagiaan, hubungan sosial, serta kemampuan menemukan tujuan hidupnya. Dengan cara ini, kesehatan otak dipandang sebagai sesuatu yang jauh lebih luas daripada sekadar kemampuan mengingat atau menyelesaikan soal.

Hasil penelitian menunjukkan usia bukan faktor utama yang menentukan apakah seseorang bisa meningkatkan atau menurunkan kemampuan otak. Yang paling berpengaruh adalah tingkat keterlibatan peserta penelitian dalam program latihan yang dijalankan. Semakin konsisten seseorang mengikuti latihan dan menjaga kebiasaan positif, semakin besar peluangnya mengalami perkembangan otak.

Temuan ini sekaligus membantah anggapan bahwa penurunan kognitif merupakan nasib yang tidak bisa kita hindari. Ternyata, otak memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan membentuk koneksi baru sepanjang hidup. Dalam neurologi, kemampuan ini disebut neuroplastisitas. Artinya, otak bukanlah organ yang berhenti berkembang setelah seseorang dewasa atau tua, melainkan tetap dapat belajar, berubah, dan makin kuat .

Menariknya lagi, peserta yang mulai menjalani penelitian dengan kondisi kesehatan otak paling rendah justru mengalami peningkatan paling besar. Hal ini menunjukkan, tidak pernah ada kata terlambat untuk mulai merawat kesehatan otak. Bahkan mereka yang sebelumnya mengalami berbagai kesulitan pun memiliki peluang besar untuk berkembang.

Para peneliti juga menemukan, manfaat latihan otak tetap terlihat pada peserta =berusia 80 tahun ke atas. Temuan ini memberi harapan bahwa menjaga kesehatan otak tidak harus menunggu munculnya masalah seperti pikun atau gangguan memori. Sebaliknya, langkah-langkah sederhana yang dilakukan sejak dini dapat memberikan dampak positif dalam jangka panjang.

Ingat baik-baik, selama ini banyak orang lebih memperhatikan kesehatan fisik dibandingkan kesehatan otak. Padahal, otak juga membutuhkan latihan, tantangan, interaksi sosial, istirahat yang cukup, dan keseimbangan emosi agar tetap berfungsi optimal.

Pada akhirnya, usia hanyalah angka. Yang lebih menentukan adalah bagaimana kita menggunakan, melatih, dan merawat otak setiap hari. Otak tidak ditentukan oleh berapa lama kita hidup, melainkan oleh seberapa besar kemauan kita terus belajar, beradaptasi, dan berkembang. Kabar baiknya, kesempatan itu tersedia bagi siapa saja, pada usia berapa pun.

Terus, apa latihan otak yang membuatnya tetap sehat?

Dalam program BrainHealth Project, peserta mengikuti modul harian singkat yang banyak didasarkan pada metode SMART (Strategic Memory Advanced Reasoning Tactics). Tujuannya memperkuat fungsi eksekutif otak, yaitu kemampuan untuk fokus, bernalar, membuat keputusan, melihat gambaran besar, dan beradaptasi terhadap situasi baru. Bukan sekadar mengisi TTS.

  • Melatih kemampuan melihat gambaran besar. Bukan sekadar menghafal detail, tetapi belajar menyimpulkan inti informasi.
  • Melatih penalaran dan berpikir strategis. Otak diajak menganalisis hubungan antar-ide, bukan hanya mengingat satu fakta tunggal.
  • Terus belajar hal baru. Alasannya, neuroplastisitas otak berkembang ketika kita menghadapi tantangan baru.
  • Menjaga keterhubungan sosial. Penelitian ini memasukkan ‘connectedness‘ sebagai bagian penting kesehatan otak. Hubungan sosial yang bermakna membantu menjaga fungsi kognitif dan emosional.
  • Menemukan tujuan hidup. Para peneliti menganggap rasa memiliki tujuan sebagai bagian dari kesehatan otak. Orang yang merasa hidupnya bermakna cenderung memiliki kesehatan mental dan kognitif yang lebih baik.
  • Menjaga kebiasaan hidup sehat. Program ini juga mencakup ‘brain-healthy habits‘ antara lain, tidur cukup, tidak merokok, banyak gerak.

Facebook Comments

POST A COMMENT.