Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Banyak ibu-ibu muda yang curhat dan bertanya bagaimana agar anak mereka mudah menyerap materi pelajaran. Ada yang anaknya membaca berulang-ulang materi, tapi belum paham. Ada yang anaknya sibuk menggunakan stabilo utnuk menandai kata atau kalimat tertentu di buku, tapi belum juga cepat hafal. Ada yang belajar sampai larut malam, tapi hasil ujian malah jatuh.
Saya jawab, ada banyak faktor internal maupun eksternal yang menjadi faktor. Minat anak, kemampuan kognitif anak, kondisi fisik dan mental anak, bisa berpengaruh secara internal. Faktor dari luar, bisa dari materi pelajarannya sendiri, kondisi lingkungan tempat belajar, orang yang mengajari, dan lain-lain. Maka, tidak ada satu metode yang dipastikan cocok untuk semua. Masing-masing anak punya kondisi tertentu untuk cepat belajar atau sebaliknya.
Tapi, jika berdasarkan psikologi kognitif, ada strategi yang lumayan tepat untuk meningkatkan hasil pembelajaran jangka panjang. Salah satunya adalah ‘spacing effect‘ atau pembelajaran bertahap. Alasannya, otak lebih mudah menyimpan informasi jika pembelajaran dilakukan sedikit demi sedikit dalam rentang waktu tertentu dibandingkan belajar banyak sekaligus dalam satu sesi panjang.
Belajar dua jam selama empat hari berturut-turut jauh lebih efektif daripada belajar delapan jam hingga larut malam. Meski total waktunya sama, hasilnya beda jauh. Proses memberi jeda pada otak bisa memperkuat daya ingat dan membantu pemahaman lebih mendalam. Metode spacing effect membuat anak lebih lama mengingat materi, lebih memahami isi pelajaran, dan lebih siap menghadapi soal berbeda.
Saat otak diberi jeda, informasi punya waktu cukup untuk diproses dan koneksi memori menjadi lebih kuat. Maka, setiap kali belajar ulang, otak seperti mengaktifkan kembali jalur ingatan tersebut. Proses ini membantu pemindahan informasi dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang. Sebaliknya, belajar terus-menerus tanpa jeda sering hanya menciptakan rasa familiar dan bukannya pemahaman mendalam.
Strategi praktis menggunakan spacing effect;
- Belajar rutin dalam sesi pendek.
- Ulangi materi pada hari berbeda.
- Gunakan jeda antar sesi belajar.
- Lakukan review berkala.
- Jangan hanya membaca ulang —coba ingat-ingat tanpa melihat catatan.
Bagaimana jika ada yang lupa?
O, jangan terlalu takut. Sedikit atau sesekali lupa itu justru bisa membantu pembelajaran. Ketika dalam proses mencoba mengingat kembali materi beberapa waktu lalu, otak sejatinya bekerja lebih keras. Nah, upaya mental ini seperti tubuh yang olahraga latihan beban berat. Latihan beban membuat tubuh lebih kekar dan kuat. Mengingat hal yang terlupa bisa melatih otak memperkuat memori. Belajar yang terasa sedikit lebih sulit justru lebih efektif.
Tentu ada sejumlah metode lain yang secara psikologis membantu penguatan kognisi otak. InshaAllah saya bahas beberapa dalam tulisan-tulisan selanjutnya.



POST A COMMENT.