Saat Marah, Orang Lebih Enteng Share Kabar Hoaks

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Saat makan siang di kantin, saya sempat nguping dua konsumer yang sepertinya pendukung fanatik politisi tertentu dan pembenci total politisi lain. Itu bisa saya lihat dari kaos yang mereka kenakan serta omongan mereka yang saya dengar.

Obrolan mereka cuplik kira-kira seperti berikut ini;

A: Sebel, gue. Orang ini demen banget pencitraan. Dikit-dikit posting di medsos. Dia pikir gue jadi terpikat gitu kah? Ih, amit-amit. Gue muak, tahu!

B: Iya, gua juga jengkel ama dia. Padahal, yang dia lakukan itu remeh. Lihat, nih, beritanya di situs ini. menurut berita, dia itu nggak modal apa-apa tapi ikut bicara di depan orang banyak.

A: Berita dari siapa? Medsosnya teman kita?

B: Iya. Share saja. Biar rame. Dibilang hoaks juga nggak papa.

___________

Wah…wah… wah…. Pembaca yang budiman, jangan seperti mereka ya? Mereka itu gampang share berita media yang belum pasti kredibilitasnya. Iya kalau beritanya betul berdasarkan kriteria jurnalistik yang baik. Kalau nggak, bagaimana? Kita ikutan menebar kebohongan!

Terkait dua orang di kantin tadi, saya juga ingin sharing hasil penelitian terbaru tentang psikologi kemarahan dan kebiasaan sharing berita medsos. Saya ingin kabarkan bahwa emosi, khususnya dalam wujud kemarahan, bisa memengaruhi perilaku seseorang dalam menyebarkan informasi.

Penelitian yang dilakukan tim dari Shenzen University di Cina dan University of California Los Angeles di Amerika Serikat menunjukkan, individu yang sedang marah cenderung kurang kritis dalam menilai kredibilitas suatu berita. Akibatnya, ia lebih mudah membagikan konten dari sumber yang tidak terpercaya atau bahkan menyesatkan.

Mengapa bisa begitu?

Alasan dasarnya, kemarahan meningkatkan impulsivitas dan menurunkan kemampuan berpikir analitis. Dalam kondisi ini, orang lebih fokus pada reaksi emosional daripada evaluasi rasional. Hal ini diperkuat oleh mekanisme psikologis di mana emosi negatif mempercepat keputusan tanpa proses verifikasi yang memadai.

Yang menarik, studi tersebut juga menemukan bahwa efek ini tetap terjadi meskipun individu itu memiliki tingkat literasi media yang cukup baik.

Nah, yang melek media saja bisa jadi bias gara-gara terlanjur marah. Apalagi yang level melek medianya masih rendah?

Karena itu, hati-hati dalam mencermati media sosial saat penyebaran informasi terjadi sangat cepat. Ketika orang berbagi berita tanpa memeriksa kebenarannya, misinformasi dapat menyebar luas dan memperburuk polarisasi sosial.

Maka, saya ingin menekankan betapa pentingnya kesadaran emosional dan keterampilan berpikir kritis. Kendalikan diri dan emosi. Jangan mudah terpancing kemarahan. Dalam kondisi apa pun, jangan lupa pikiran harus tetap kritis. Ini penting sebagai langkah untuk mengurangi penyebaran berita yang tidak kredibel, terutama dalam situasi yang memicu kemarahan publik.

Facebook Comments

POST A COMMENT.