Mahasiswa UNY Gagas ‘Sekolah Tanpa Bullying’

mepnews.id – Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Program Studi S1 Pendidikan Ekonomi angkatan 2024, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), menginisiasi program bertajuk ‘Sekolah Ramah Tanpa Bullying’ di SDN Kotagede III Yogyakarta.

Dikabarkan situs resmi uny.ac.id, tim terdiri dari Asti Ananta, Intan Nurkhasanah, dan Hanifa Luthfi Farhana di bawah bimbingan Dr Kiromim Baroroh SPd MPd. Mereka menghadirkan program edukatif sebagai respons atas meningkatnya kasus kekerasan di lingkungan pendidikan.

Berdasarkan data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), kasus kekerasan di sekolah meningkat dari 285 kasus pada 2023 menjadi 573 kasus pada 2024. Data gabungan KPAI dan JPPI pada 2025 menunjukkan 26% kasus perundungan terjadi di jenjang sekolah dasar.

Hasil observasi di lapangan menunjukkan perundungan verbal masih kerap dinormalisasi sebagai candaan di kalangan siswa. Temuan ini sejalan dengan data yang menyebutkan bahwa perundungan verbal atau psikis menyumbang sekitar 29,3% dari total kasus.

Kondisi tersebut mendorong tim mahasiswa untuk menghadirkan intervensi edukatif yang menyentuh aspek emosional dan sosial siswa.

Ketua tim, Asti Ananta, menyampaikan program ini dirancang untuk menanamkan empati sejak dini. “Kami melihat banyak siswa belum menyadari bahwa candaan tertentu bisa menyakiti temannya. Melalui program ini, kami ingin membangun kesadaran dan keberanian siswa untuk saling melindungi,” ujar Asti.

Program dilaksanakan dengan pendekatan interaktif dan partisipatif. Mahasiswa menyampaikan materi teoritis sekaligus mengajak siswa memahami dampak perundungan melalui metode storytelling. Melalui pendekatan ini, siswa diajak berempati serta berperan sebagai upstander, yakni individu yang berani membantu teman yang mengalami perundungan.

Dr Kiromim Baroroh menyebut, kegiatan ini bagian dari implementasi pembelajaran kontekstual. “Mahasiswa tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga dituntut mampu memberikan solusi nyata terhadap permasalahan sosial. Program ini menjadi contoh bagaimana pendidikan dapat berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang lebih aman dan berkeadilan,” ungkapnya.

Sebagai luaran program, mahasiswa menghadirkan media edukatif ‘Bunga Kebaikan’. Media ini berupa pajangan kelas berisi bunga origami dengan pesan komitmen siswa untuk berkata baik, tidak mengejek, dan saling membantu. “Melalui Bunga Kebaikan, kami ingin setiap siswa memiliki pengingat visual untuk selalu berperilaku positif dalam keseharian,” kata Hanifa Luthfi Farhana.

Facebook Comments

POST A COMMENT.