mepnews.id – Universitas Udayana menjadi tuan rumah penyelenggaraan Simposium Nasional Kependudukan Tahun 2026 bersama Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN serta Konsorsium Perguruan Tinggi Peduli Kependudukan (PTPK).
Simposium digelar Kamis 23 April 2026, di Gedung Auditorium Widya Sabha Kampus Jimbaran Universitas Udayana, mengangkat tema ‘Memajukan Ketahanan Demografi dan Pembangunan Sumber Daya Manusia yang Inklusif: Inovasi Kebijakan Berbasis Bukti’.
Dikabarkan situs resmi unud.ac.id, acara menghadirkan berbagai pemangku kepentingan; dari pemerintah, akademisi, hingga lembaga internasional. Tujuannya untuk membahas tantangan dan peluang bonus demografi Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
Dalam sambutannya, Kepala Perwakilan UNFPA (lembaga PBB yang mengurusi kesehatan reproduktif dan populasi) di Indonesia, Dr Hassan Mohtashami, menyoroti perubahan dinamika kependudukan global, khususnya terkait tren penurunan fertilitas yang terjadi di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia.
Ia menjelaskan, kondisi fertilitas di Indonesia menunjukkan perbedaan antarwilayah. Di beberapa daerah seperti Papua dan Nusa Tenggara Timur, tingkat fertilitas masih relatif tinggi. Bali dan Jakarta justru mengalami penurunan signifikan.
Menurutnya, perubahan pola hidup masyarakat menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi penurunan angka kelahiran. Perempuan kini semakin fokus pada pendidikan dan pengembangan diri, sehingga membentuk paradigma baru dalam kehidupan keluarga modern.
Plt. Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof Badri Munir Sukoco SS MBA PhD, menyoroti persoalan ketidaksesuaian (mismatch) antara lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan dunia kerja. Tiap tahun terdapat 490 ribu lulusan pendidikan tinggi, sementara kebutuhan tenaga kerja di beberapa sektor tertentu jauh lebih kecil. Kondisi ini memerlukan kajian mendalam terkait relevansi program studi di perguruan tinggi.
Ia menekankan pentingnya peran PTPK dalam membantu pemerintah menyusun kebijakan berbasis data dan riset untuk menghadapi bonus demografi. “Kampus adalah rumah bagi generasi emas 2045. Mari kita jadikan momentum bonus demografi ini sebagai lompatan kemajuan bangsa, bukan menjadi beban sejarah di masa depan.”
Sekretaris Menteri (Sesmen) Kemendukbangga/BKKBN, Prof Budi Setiyono SSos MPolAdmin PhD, menyebut periode saat ini sebagai fase krusial yang akan menentukan keberhasilan Indonesia dalam memanfaatkan bonus demografi. “Kita harus bergerak cepat untuk memastikan bonus demografi dapat dikapitalisasi. Jika tidak, kita berisiko menjadi negara yang menua sebelum sejahtera.”
Ia menekankan pentingnya kebijakan yang berbasis data serta kolaborasi lintas sektor guna mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. “Tanpa perencanaan yang integratif dan berbasis data, target besar tersebut sulit dicapai. Kolaborasi pemerintah dan perguruan tinggi menjadi sangat penting.”
Dalam kegiatan tersebut, Rektor Universitas Udayana, Prof Ir I Ketut Sudarsana ST PhD, turut menjadi narasumber Plenary Session I dengan membawakan materi bertajuk ‘Dari Rumah Tangga ke Ekosistem: Pengelolaan Sampah Keluarga dalam Pembangunan Berkelanjutan.’
Dalam pemaparannya, ia menekankan persoalan sampah tidak dapat hanya diselesaikan di tingkat hilir tetapi harus dimulai dari perubahan perilaku di tingkat rumah tangga sebagai unit terkecil dalam masyarakat. Peningkatan jumlah penduduk dan perubahan pola konsumsi masyarakat berdampak langsung terhadap meningkatnya volume sampah dan tekanan terhadap daya dukung lingkungan.
Pada kesempatan tersebut juga dilakukan peluncuran website resmi Konsorsium PTPK yang memuat berbagai hasil riset dan kajian kependudukan dari perguruan tinggi di Indonesia. Kehadiran platform ini diharapkan menjadi pusat pengetahuan dan referensi kebijakan berbasis data dalam mendukung pembangunan kependudukan nasional.
Juga dilaksanakan pengukuhan Pengurus Konsorsium PTPK Tahun 2026 serta penandatanganan Nota Kesepahaman Bersama antara Kemendukbangga/BKKBN dengan Universitas Hasanuddin dan Universitas Sumatera Utara, dirangkaikan penandatanganan PKS dengan Universitas Negeri Padang, Universitas Gadjah Mada, Universitas Mulawarman, Universitas Tadulako, Universitas Padjajaran, Universitas Negeri Yogyakarta dan Universitas Udayana.



POST A COMMENT.