Kemenag Siapkan Program Internasional untuk Sivitas Akademika PTKI

mepnews.id – Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) di Kementerian Agama menyiapkan sejumlah program internasionalisasi bagi para sivitas akademika Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI).

Direktur Diktis Prof Sahiron mengatakan, program internasionalisasi ini antara lain dilakukan melalui pembibitan dosen dengan penguatan skill akademik dan bahasa asing (Inggris maupun Arab). Program dirancang berlangsung 3–4 bulan melalui kerja sama dengan British Council dengan target capaian skor IELTS minimal 6.5.

“Kami mendorong para dekan dan kaprodi ikut berpartisipasi dalam program internasionalisasi ini sebagai bagian dari penguatan SDM PTKI,” ujar Prof Sahiron, saat memberi sambutan pada pembinaan pegawai di kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 8 Mei 2026.

Dikabarkan situs resmi kemenag.go.id, acara diikuti seluruh unsur pimpinan UIN Sunan Kalijaga, mulai dari Rektor da Wakil Rektor I, II, dan III, para Kepala Biro, Dekan, Wakil Dekan, hingga Ketua Program Studi dan sejumlah dosen.

Selain pembibitan dosen dan penguatan skill akademik dan bahasa asing, disiapkan juga program Chair of Indonesian Islam pada 2027. Program ini melibatkan kampus-kampus internasional seperti Hartford International University, SOAS, dan Leiden University melalui program pengajaran selama enam bulan di luar negeri.

Prof Sahiron mengapresiasi atas capaian internasional UIN Sunan Kalijaga dalam pemeringkatan SIR 2026 yang berada pada posisi ke-7 terbaik dunia. “Kekuatan utama kita tetap pada kajian keagamaan yang terus dikembangkan bersamaan dengan penguatan ilmu pengetahuan dan sains,” tambahnya.

Staf Khusus Menteri Agama Ismail Cawidu, selaku nara sumber, menggarisbawahi peningkatan pelayanan informasi publik di lingkungan PTKIN. Ia menekankan pentingnya peningkatan kesadaran digital di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi saat ini. “Setiap hari kita menerima berbagai informasi. Semuanya tidak boleh langsung dipercaya tanpa proses verifikasi dan literasi yang baik.”

Menurutnya, tantangan terbesar Indonesia saat ini adalah rendahnya tingkat literasi digital masyarakat. “Persoalan kita adalah literasi digital Indonesia yang masih rendah. Berdasarkan hasil riset, tingkat literasi digital Indonesia baru pada angka sekitar 3,5 dari skala tertinggi 5. Artinya, kemampuan masyarakat dalam memilah, memahami, dan memverifikasi informasi masih perlu terus diperkuat,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menggunakan ruang digital, termasuk dalam menyebarkan informasi maupun jejak digital yang dapat berdampak jangka panjang bagi individu maupun institusi.

Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenag, Thobib Al Asyhar, memberikan penguatan terkait pentingnya pengelolaan informasi publik dan tantangan komunikasi di era digital. Ia mengungkapkan, Kementerian Agama saat ini menghadapi derasnya arus hoaks di media sosial.

“Dalam satu bulan terakhir, hampir setiap hari muncul hoaks tentang Menteri Agama di media sosial. Semua itu harus dijawab dengan baik. Karena itu kami berharap seluruh insan Kementerian Agama, khususnya di perguruan tinggi, ikut berperan membantu memberikan informasi yang benar kepada masyarakat,” ujarnya.

Facebook Comments

POST A COMMENT.