Dari Jualan Krupuk Hingga Jadi Komisioner KPI

mepnews.id – Siapa sangka, mahasiswa dari Bangka yang jualan kerupuk di Bandung bisa menjadi wartawan dan kini jadi komisioner di Komisi Informasi Pusat (KIP) Republik Indonesia.

Syawaludin masuk IKIP Bandung (kini Universitas Pendidikan Indonesia/UPI) pada 1993, jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB). “Pilihan itu tidak sepenuhnya direncanakan. Saya kurang informasi saat UMPTN. Jadi, saya asal memilih saja,” kata pria kelahiran 11 November 1973 ini lewat situs resmi upi.edu edisi 28 Aprul 2026.

Maka, di sela riuhnya mahasiswa menikmati makan di kantin-kantin kampus, ia justru berjalan menyusuri lorong membawa tas besar berisi kerupuk Bangka siap jual. Dari jalan sempit di Gang Cempaka di sudut Geger Kalong, ia menjalani hidup di perantauan.

Menumpang hidup di musala yang ia turut rawat dan hidupkan kegiatan pengajian, Syawaludin harus memutar otak karena tak punya cukup dukungan finansial. Tidak sekadar kuliah, ia bertahan dengan cara apa saja. Keterbatasan memicu kreativitas.

Setiap hari, ia menggoreng kerupuk lalu berkeliling dari satu kantin ke kantin menitipkan dagangannya. “Keseharian saya berjualan kerupuk Bangka. Kamar kos saya isinya kerupuk semua,” kenangnya.

Ia berani membuka jasa terjemahan bahasa Inggris meski ia merasa belum mahir. Maka, ia menggandeng mahasiswa dan dosen dari jurusan Bahasa Inggris untuk mengerjakan pesana klien. Selain membagi hasil, ia bertindak sebagai penghubung antara klien dan penerjemah. “Saya sempat punya 20 orang penerjemah,” katanya.

Ia juga berbisnis bawang putih dengan cara memotong rantai distribusi dan menjual langsung ke pedagang bakso. Dari ruang sempit, ia membangun ekosistem usaha.

Namun, hidup tidak selalu berjalan mulus. Setelah lulus IKIP, realitas menguji. Niatnya menjadi guru harus kandas ketika ia mengetahui gaji yang ditawarkan hanya Rp60.000 per bulan —jumlah yang bahkan tidak cukup untuk kebutuhan dasar.

Maka, ia memilih jalur lain. “Kalau tidak bisa mengajar di kelas, saya mengajar dalam jangkauan lebih luas,” ujarnya.

Ia beralih menjadi jurnalis. Ia berani mengambil peluang yang nyaris tertutup. Saat seleksi pelatihan jurnalistik PT Timah sudah penuh, ia tetap datang dan meminta kesempatan. Hasilnya, ia diterima sebagai peserta ke-31.

Dari situ, langkahnya semakin mantap. Ia menjadi wartawan Harian Suara Bangka dan jadi Pemimpin Perusahaan
SKM Ekspres.

Pada usia 30 tahun, ia terpilih jadi Komisioner di KPU Bangka-Belitung dua periode dari 2003 sampai 2013. Setelah itu, ia melanjutkan pengabdian jadi Wakil Ketua di Komisi Informasi Daerah (KID) Bangka-Belitung. Ia terpilih kembali dan menjadi Ketua KID Babel 2017-2021. Lalu, ia lolos seleksi nasional dan menjadi komisioner di Komisi Informasi Pusat. Melalui pleno 27 Mei 2022, pemegang Sertifkat Mediator MA Pusat Mediasi Indonesia 2015 ini terpilih sebagai Ketua Bidang Penyelesaian Sengketa Informasi KIP periode 2022-2026.

Perjalanan itu bukan sekadar soal jabatan, melainkan tentang konsistensi nilai.

Salah satu prinsip yang paling ia pegang adalah kejujuran. “Kejujuran itu kecerdasan. Orang yang berbohong itu bodoh,” kata Master Hukum Tata Negara dari Perguruan Tinggi Bangka yang pernah jadi dosen STAI Darussalam 1999 itu.

Sebagai komisioner, ia membawa semangat yang berakar dari masa kuliahnya —memperjuangkan akses informasi, terutama bagi penyandang disabilitas. Ia meyakini informasi adalah kunci kemandirian. Tanpa itu, banyak potensi yang terabaikan.

Di balik semua pencapaian itu, sisi manusiawinya tetap terasa. Ia masih mengingat bagaimana berbagi kerupuk dengan teman-temannya, atau mentraktir ketika memiliki sedikit uang lebih.

Kisahnya menjadi cermin bahwa jalan hidup tidak selalu lurus. Kadang berliku, bahkan tampak tidak saling berkaitan. Namun dari kerupuk, jasa terjemahan, hingga dunia jurnalistik—semuanya menjadi potongan puzzle yang akhirnya membentuk satu gambaran utuh.

Kini, saat ia duduk di kursi KIP, jejak langkah masa lalu tidak pernah ia lupakan. Justru dari situ ia belajar bahwa keberhasilan bukan tentang dari mana seseorang memulai melainkan bagaimana ia bertahan, beradaptasi, dan terus melangkah. “Jadikan diri kita bermanfaat bagi orang lain,” ujarnya pelan.

Bagi Syawaludin, UPI adalah tempat ia menemukan segalanya: ilmu, prinsip hidup, hingga jodoh. Ia bahkan mengabadikan kenangan itu dengan memberi nama anaknya ‘Furqon’ yang diambil dari Masjid Al-Furqon—tempat ia dahulu sering beribadah dan berdiskusi.

Kini, ia menaruh harapan besar pada almamaternya. Ia bangga melihat UPI berkembang pesat dan menjadi kampus yang sangat diperhitungkan. Pesannya sederhana: jaga kepercayaan publik melalui keterbukaan informasi. “Keterbukaan adalah pintu masuk kepercayaan,” tegasnya.(RK)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.