mepnews.id – Ayam Kokok Balenggek (AKB) dinilai sebagai sumber daya genetik unggas lokal Sumatera Barat yang memiliki nilai penting dari aspek genetika, ekonomi, dan budaya. Keunikan balenggek (kokok bertingkat) ayam ini bernilai estetika, sekaligus menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Minangkabau.
Hal tersebut disampaikan Prof Firda Arlina, Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Andalas, dalam orasi ilmiahnya di Kampus Limau Manis, 28 April 2026.

Prof Firda Arlina, pakar dari Unand
Prof. Firda menjelaskan, keberadaan AKB menghadapi tantangan antara lain penurunan populasi, erosi genetik akibat persilangan tidak terkontrol, hingga menurunnya kualitas suara kokok. Padahal, ayam ini memiliki potensi ekonomi tinggi, terutama sebagai ayam hias atau ayam penyanyi yang kerap diperlombakan.
“AKB memiliki keunikan yang tidak ditemukan pada ayam lokal lainnya. Suara kokok bertingkat menjadi daya tarik utama sekaligus penentu nilai ekonomi ayam ini,” ujarnya, lewat situs resmi unand.ac.id.
Upaya pelestarian harus dilakukan melalui pendekatan ilmiah yang terarah. Antara lain, melalui seleksi tetua, sistem perkawinan terkontrol, pencatatan performa ternak, serta pemanfaatan teknologi genetika molekuler. Beberapa gen yang berkaitan dengan kemampuan vokal pada unggas, seperti FOXP2, Zenk, reseptor dopamin, dan CCKBR, dinilai penting untuk dikaji guna meningkatkan akurasi seleksi.
Konservasi AKB juga perlu dilakukan berkelanjutan melalui pendekatan in situ dan ex situ, serta penguatan kelembagaan dan peran masyarakat. Kontes suara kokok tidak hanya menjadi ajang budaya, tetapi juga berfungsi sebagai sarana seleksi dan peningkatan nilai ekonomi ternak.
Prof Firda berharap pelestarian Ayam Kokok Balenggek dapat dilakukan secara kolaboratif antara perguruan tinggi, pemerintah, komunitas, dan peternak. Dengan demikian, AKB tidak hanya terjaga sebagai aset plasma nutfah unggas lokal, tetapi juga tetap hidup sebagai warisan budaya yang memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.(*)



POST A COMMENT.