Satgas PPKPT Umsida Ikuti Pelatihan PFA

mepnews.id – Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menggelar kegiatan Pelatihan Psychological First Aid (PFA) bagi anggota  Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) pada 23 April 2026, di Kampus 3. Kegiatan diikuti mahasiswa dan tenaga kependidikan Umsida yang tergabung dalam Satgas PPKPT sebagai bagian dari penguatan kapasitas penanganan awal terhadap korban dalam situasi krisis psikologis.

Ketua Satgas PPKPT Umsida, Boy Isma Putra ST MM, menyampaikan kegiatan ini salah satu komitmen Umsida dalam memperkuat sistem pencegahan dan penanganan kekerasan di perguruan tinggi.  Menurutnya, Satgas tidak hanya membutuhkan pemahaman regulatif dan administratif, tetapi juga keterampilan pendampingan awal yang tepat agar korban memperoleh rasa aman dan dukungan yang manusiawi.

“Pelatihan ini penting bagi anggota Satgas PPKPT lantaran kerap berhadapan dengan situasi yang memerlukan respon cepat, tenang, dan tepat,” terang Boy, lewat situs resmi umsida.ac.id.

Dengan pelatihan ini, peserta dibekali kemampuan mengidentifikasi kondisi korban, memberikan respon empati tanpa menghakimi, serta menentukan kapan korban perlu dirujuk kepada layanan profesional atau tenaga medis.

Boy berharap anggota Satgas PPKPT semakin siap menjalankan peran sebagai garda terdepan dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman, suportif, dan responsif terhadap berbagai bentuk kekerasan.

Pelatihan menghadirkan Zaki Nur Fahmawati MPsi Psikolog sebagai pemateri. Dalam paparannya, Zaki menjelaskan PFA merupakan dukungan psikososial awal yang diberikan kepada individu yang mengalami trauma atau krisis. “Fokus tindakan ada pada pemenuhan kebutuhan dasar, menjaga rasa aman, menenangkan kondisi emosional, serta menghubungkan korban dengan layanan bantuan yang sesuai.”

Ia menjelaskan tentang prinsip dasar PFA, langkah inti yakni looklisten, and link, serta pentingnya empati, menjaga kerahasiaan korban, dan memahami batasan peran Satgas dalam proses pendampingan awal. “PFA bukan terapi, melainkan pertolongan pertama psikologis yang bertujuan mencegah stress berkepanjangan dan memperkuat keberhasilan penanganan krisis secara profesional dan terkoordinasi di lingkungan kampus,” jelas Zaki.

Peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai prinsip kerahasiaan, persetujuan korban, dan konsep need to know dalam penanganan kasus. Aspek ini sangat penting agar setiap proses pendampingan tetap menjunjung tinggi etika, keamanan informasi, dan perlindungan psikologis korban.

Pelatihan juga membahas tanda-tanda kondisi yang memerlukan rujukan segera. Antara lain adanya ancaman membahayakan diri sendiri atau orang lain, kondisi korban yang tidak responsif terhadap intervensi awal, maupun keadaan medis darurat.

Selain materi teoritik, pelatihan juga mengajak peserta melakukan simulasi peran (roleplay) untuk menghadapi berbagai skenario krisis di kampus. Hal ini agar para peserta tidak canggung saat harus terjun langsung di lapangan.(Vivi)

Facebook Comments

POST A COMMENT.