Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – “Mbak, kenapa ya ibuku lebih cepat pikun? Padahal usianya belum tua-tua amat,” begitu curhat seorang teman.
“Bagaimana bisa kau menyimpulkan itu?” saya balik tanya.
“Dulu ibuku pernah sakit, dan dirawat dengan obat selama sampai dua kali tiga bulan. Sakitnya sembuh, tapi pendengarannya berkurang. Terus, lama-lama jadi telat mikir.”
“Oh, ada banyak faktor yang membuat orang jadi pikun. Kalau kasus ibumu, bisa jadi ada hubungan antara berkurangnya kemampuan mendengar dengan berkurangya kemampuan kognitif yang mengarah ke demensia. Ada penelitan yang membuktikan itu.”
……….
Pembaca yang budiman, banyak orang mengabaikan gangguan pendengaran. Karena dianggap sebagai bawaan usia yang menua, seringkali masalah ini tidak ditangani serius. Padahal, pendengaran bisa berpengaruh terhadap kesehatan dan kesejahteraan tubuh secara keseluruhan.
Memproses suara yang kita dengar membantu otak kita tetap aktif. Ketika ada gangguan pendengaran, maka rangsangan suara yang masuk ke otak kita juga terganggu. Jika tidak ada suara yang masuk, sebagian dari otak kita jadi kurang aktif. Bisa-bisa malah atrofi alias menyusut. Nah, ketidak-aktifan ini mengarah ke masalah kognitif dan bahkan ke kepikunan. Kita nggak mau keburu pikun, kan?
Awas, ada potensi masalah lebih gawat. Gangguan pendengaran, jika dibiarkan, juga mengandung risiko terkena gangguan kesehatan mental termasuk kecemasan dan depresi. Ada studi yang menunjukkan, manula dengan tingkat ketulian 47 persen lebih mungkin mengalami depresi. Bagi yang sudah memiliki masalah kesehatan mental, gangguan pendengaran bisa memperburuk kondisi. Para peneliti di Johns Hopkins menemukan, penurunan keterampilan berpikir terjadi lebih cepat selama enam tahun di antara orang-orang dengan gangguan pendengaran dibandingkan mereka yang pendengarannya baik.
Maka, jika Anda memiliki kakek/nenek, orang tua, atau keluarga yang sudah senior, perhatikan baik-baik kondisi pendengarannya. Jika ada masalah, segera bawa ke dokter atau praktisi perbaikan pendengaran. Jika ada infeksi, segera obati. Jika ada kelainan, segera benahi. Jika perlu alat bantu pendengaran, belikan. Dengan tetap ada banyak suara masuk, inshaAllah otak tetap dilatih sehingga ancaman kepikunan bisa mejauh.
Mengatasi gangguan pendengaran juga lebih hemat biaya untuk mencegah demensia dan lebih dapat mendukung ketahanan otak, daripada terpaksa menjalani bentuk penanganan neuropatologi tertentu.


