Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – “Duh, Mbak, anakku tambah besar tambah susah diatur. Mulai maunya sendiri. Nggak mau dengar nasihat orang tua,” begitu curhat seorang teman.
“Heh, jangan begitu. Susah diaturnya itu bagaimana? Apa dia nakal? Kriminal?”
“Jahat sih, enggak. Nakal juga enggak. Kasar juga enggak. Tapi, sekarang dia makin susah diatur.”
“Oh, jangan-jangan dia berontak karena ingin lebih mandiri.”
…………
Pembaca yang budiman, curhatan teman saya di atas menunjukkan betapa orang tua kadang kurang siap menghadapi perkembangan anaknya. Ada orang tua yang ‘tak rela’ anaknya sudah tumbuh besar. Mereka ingin anaknya tetap kecil, imut, dan penurut. Padahal, sudah jadi kodrat anak untuk tumbuh dan segera mandiri.
Nah, ketika si anak mencoba membangun kemandirian, bisa jadi orang tua belum siap menerimanya sehingga terjadi konflik. Padahal, saat anak ingin lebih mandiri dan berusaha menentukan nasib sendiri, ini adalah bagian normal dari perkembangan dan bahkan tahap penting untuk membangun identitas diri.
Masalahnya, kadang si anak masih punya ketergantungan finansial pada orang tua. Si anak ingin menggunakan uang untuk keinginannya yang belum tentu sesuai dengan keinginan orang tua. Kadang, si anak masih belum cukup matang secara hukum atau secara psikologis untuk membuat keputusan hidup. Bisa jadi keputusan si anak, misalnya soal masa depan pendidikan, berbeda dengan ekspektasi orang tua.
Konflik terkait keinginan anak untuk mandiri dan keinginan orang tua untuk ‘memiliki’ dan bertanggung jawab penuh atas anak ini kadang bisa menjadi konflik terbuka jika tidak ditangani dan dikelola dengan baik.
Untuk mengatasi konflik, kedua pihak harus bisa sama-sama membuka diri dan berkomunikasi secara jujur. Si anak harus tetap menunjukkan rasa hormat dan menghargai pandangan orang tua. Orang tua harus menyadari kodrat anak untuk berkembang sebagai individu mandiri, lalu memberikan ruang dan dukungan pada anak untuk tumbuh.
Orang tua perlu mendengar saat anak mengungkapkan keinginan dan pandangan tentang apa yang ingin dilakukan. Lalu, orang tua perlu berbicara secara terbuka dan jujur untuk menjelaskan alasan saat mengambil keputusan tertentu. Minta anak untuk memahami perspektif mereka tanpa harus memaksa.
Pada poin tertentu, orang tua justru harus mengajarkan anak tentang kemandirian, membantu anak agar lebih percaya diri mengambil keputusan. Limpahkan sebagian tanggung jawab kepada anak dalam kegiatan sehari-hari. Beri kesempatan pada anak untuk mengambil keputusan sendiri dalam skala yang memadai.
Jaga komunikasi terbuka agar semua pihak saling memahami. Hindari mengambil keputusan secara emosional atau merespons dengan marah. Orang tua harus mempertimbangkan kesejahteraan anak di masa mendatang.
Di pihak lain, anak harus tetap menghormati pandangan orang tua saat menjelaskan keinginan untuk mandiri. Dengar dan pahami pandangan orang tua, meski tidak sependapat. Hal ini agar anak bisa mengenali kekhawatiran orang tua.
Anak harus berbicara secara terbuka dan jujur saat menjelaskan alasannya ingin mandiri. Tunjukkan kematangan saat mengambil keputusan dan harus bertindak dengan bertanggung jawab. Ini agar orang tua merasa lebih percaya dalam memberikan dukungan kepadanya.
Ketika merasa kesulitan atau tidak yakin tentang keputusan yang akan diambil, anak boleh minta bantuan atau nasihat orang tua. Ini dapat membantu memperkuat hubungan antara anak dan orang tua. Ini juga untuk memastikan bahwa anak merasa didukung dalam perjalanan menuju kemandirian.
Dalam semua kasus, jangan sampai anak mengambil keputusan secara impulsif atau merespons dengan marah atas ketidaksetujuan orang tua. Anak juga selalu mempertimbangkan perspektif orang tua. Bagaimanapun, orang tua secara biologis dan hukum tetap menjadi pelindung anak. Bagaimanapun, orang tua adalah pintu sorga bagi anak.


