Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – “Eh, Ming, wajahmu koq pucat gitu? Di meja itu rambutmu jatuh, ya? Koq sampai berguguran gitu?” begitu tanya saya saat melihat kondisi teman yang tampak kurang baik.
“Iya, Mbak. Belakangan ini mood saya memang tak nyaman. Di kantor, pekerjaan makin menumpuk. Di rumah, kondisinya tak pernah tenang. Pelampiasanku ya nongkrong di café seperti ini. Pingin aku minum obat tidur saja biar bisa melupakan segalanya.”
“Heeh, jangan sembarangan ngobat! Kalau sesuai kebutuhan atau saran dari dokter, obat bisa bermanfaat. Kalau asal-asalan, bisa berbahaya.”
………..
Pembaca yang budiman, teman saya menunjukkan gejala depresi karena takanan berbagai arah yang ia nyaris tak kuasa menahan. Ia ambil jalan pintas lewat praktik yang tidak menyehatkan. Ia menyakiti diri sendiri. Padahal, ada terapi yang lebih efektif yakni menata ulang gaya hidup.
Memang ada sejumlah orang yang mengandalkan pengobatan psikiatris untuk berbagai masalah emosional dan perilaku, tentu dengan berbagai konsekuensinya. Meski penggunaan obat antidepresan meningkat, orang yang depresi ternyata tak juga berkurang. Obat saja tidak cukup untuk mengobati depresi atau mencegah kekambuhan pasca pengobatan.
Pengobatan untuk masalah depresi harus di bawah pengawasan psikiater atau otorita kesehatan setara. Saat merawat masalah kesehatan mental, pengobatan sesuai kebutuhan kadang diperlukan untuk melengkapi terapi perilaku kognitif. Kombinasi pengobatan dan terapi terbukti lebih efektif daripada pengobatan saja.
Kalau gejalanya ringan hingga sedang, cukup menggunakan terapi. Agar terapi perubahan positif bisa bertahan lama, orang dengan gejala depresi harus menata ulang gaya hidup. Jangan asal ngobat, jangan malas gerak, jangan suka begadangan, pola makan jangan asal-asalan.
Olahraga teratur adalah antidepresan manjur. Aktivitas fisik yang tertata ini bisa meningkatkan kadar serotonin dalam neurotransmitter sehingga menenangkan depresi. Pada saat yang sama, gerak fisik juga melepaskan hormon endorfin yang menimbulkan perasaan baik secara alami, juga mengaktifkan pelepasan dopamin yang terkait dengan perasaan termotivasi, serta mengaktifkan pelepasan neurotransmitter GABA yang berefek menenangkan. Saat berhasil mencapai target olahraga, biasanya rasa kepercayaan diri juga muncul dan bahkan meningkat.
Lakukan diet yang baik. Makanan tinggi omega-3 (tuna, salmon dan ikan laut lainnya, susu, telur, kenari dan lain-lain) bisa menjadi anti-depresan alami karena memicu produksi serotonin di otak. Suplemen vitamin D juga menimbulkan mood yang membaik. Vitamin B-1, B-3, B-6, dan B-9 membantu memproduksi serotonin.
Setelah banyak gerak, dan makan yang benar, maka tidur pun bisa berkualitas dan optimal. Tidur nyenyak bagus untuk daya ingat, fokus, kesadaran, dan suasana hati yang stabil. Maka, jaga jadwal tidur teratur berdasarkan ritme sirkadian untuk memaksimalkan kondisi bangun siang hari dan istirahat malam hari.
Bagi Muslim, tambahi porsi sholat selain yang wajib dan tambahi berdoanya. Yang lain, mari tingkatkan mindfulness lewat meditasi, olah spirit, dan sejenisnya. Secara ilmiah, aktivitas semacam ini bisa meningkatkan materi abu-abu di korteks pra-frontal (bagian otak yang memandu kita untuk menggunakan pengendalian diri), merangsang saraf vagus yang meningkatkan pengaturan emosi, mengarahkan aktivitas amigdala di otak yang mengatur rasa ketakutan, meningkatkan fokus, konsentrasi, dan kesadaran akan momen saat ini, serta mengurangi kecenderungan untuk khawatir atau kecil hati.
Maka, saat merasa sedang depresi, jangan keburu lari ke obat-obatan secara asal-asalan. Jika memang sangat parah, konsultasikan dulu dengan para ahli yang berwenang untuk pemakaian obat. Jika tidak terlalu parah, harus berani ganti gaya hidup yang lebih baik. Gaya hidup itu berarti mengganti kebiasaan buruk ke kebiasaan yang lebih sehat dan lebih baik secara konsisten.


