Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Saya punya teman yang punya jurus aneh saat mengalami bad mood. Mana kala ia sedang sedih, stres, kecewa, bosan, atau merasa kehilangan kendali, maka ia langsung berbelanja sebagai cara memperbaiki suasana hati.
“Iya, mbak. Retail therapy ini resep manjur. Saya jadi bahagia lagi sepulang belanja… ha…ha…ha…” begitu ia pernah mengaku.
Sambil tersenyum, saya menimpali, “Kalau rekening jadi menipis, kan jadi sedih lagi dong!”
“Sedih lagi, ya belanja lagi…”
………..
Pembaca yang budiman, retail therapy ini memang bukan salah satu cara terapi dalam psikologi. Ini hanya istilah populer yang berkembang di masyarakat. Menariknya, fenomena ini bukan sekadar mitos. Menurut sejumlah penelitian psikologi konsumen, terapi ini cukup mujarab. Tapi, manfaatnya sangat tergantung pada mengapa dan bagaimana seseorang berbelanja.
Pertanyaan mendasarnya adalah; mengapa belanja-belanja bisa membuat kita merasa lebih nyaman?
Ada penelitian psikologi marketing yang dilakukan A. Selin Atalay profesor marketing di University of Bristol Business School dan Margaret G. Meloy professor marketing di Pennsylvania State University pada 2011. Mereka menemukan, suasana hati yang buruk memang dapat meningkatkan pembelian barang yang tidak direncanakan. Namun, pembelian semacam itu tidak selalu tindakan impulsif tanpa kendali.
Dalam kondisi tertentu, seseorang secara sadar menggunakan aktivitas berbelanja sebagai strategi untuk memperbaiki suasana hati. Saat seseorang merasa suasana hatinya tidak nyaman, maka ia beli-beli sesuatu agar bisa merasa sedikit lebih baik. Salah satu penjelasannya adalah berbelanja memberikan pengalaman bisa memilih, mengendalikan, dan memutuskan.
Penelitian tiga eksperimen oleh Scott I. Rick, Beatriz Pereira, dan Katherine A. Burson dari Ross School of Business, University of Michigan, memberikan penjelasan menarik. Mereka menemukan, membuat keputusan dalam aktivitas belanja dapat mengurangi kesedihan yang masih tersisa. Bukan semata-mata karena mendapatkan barang baru, tetapi karena aktivitas memilih bisa memberikan kembali perasaan memiliki kendali atas lingkungan dan kehidupan sendiri. Efek ini bisa ditemukan ketika keputusan pembelian hanya dibayangkan maupun ketika benar-benar dilakukan.
Ini penting. Kadang-kadang orang yang sedang sedih merasa hidupnya dikendalikan oleh keadaan. Ia mungkin merasa; “Saya tidak bisa mengubah apa yang terjadi.” Tapi, ketika berbelanja, ia tiba-tiba merasa: “Saya bisa memilih ini atau itu. Saya yang menentukan sendiri.” Perasaan memiliki kendali ini dapat memberikan kelegaan psikologis.
Tetapi, retail therapy bukan berarti belanja selalu berefek sehat. Retail therapy dapat menjadi strategi regulasi emosi, tetapi juga dapat berubah menjadi pelarian dari emosi. Orang merasa, lalu ia belanja-belanja, dan muncul rasa senang sementara. Begitu sedih lagi, ia belanja lagi. Jika pola ini terus berulang, ia tidak lagi menyelesaikan sumber kesedihannya. Ia hanya menggunakan konsumsi untuk mengelola gejala emosionalnya.
Mark J. Arnold dan Kristy E. Reynolds dari Amerika Serikat meneliti hubungan antara mood regulation dan perilaku belanja. Hasilnya menunjukkan, upaya memperbaiki suasana hati berkaitan dengan nilai hedonis dalam berbelanja dan kecenderungan pembelian impulsif. Jadi, pertanyaan pentingnya bukan hanya “apakah belanja membuat saya senang?” tetapi “mengapa seseorang butuh belanja agar merasa senang?”
Kemudian, Rik Pieters dalam penelitian longitudinal enam tahun terhadap lebih dari 2.500 konsumen mengungkap hubungan materialisme dan kesepian. Ada hubungan dua arah. Kesepian dapat meningkatkan materialisme, dan materialisme juga dapat meningkatkan kesepian. Namun, pengaruh kesepian terhadap materialisme lebih kuat.
Pieters menemukan sesuatu yang menarik: tidak semua bentuk materialisme mempunyai dampak sama. Orang yang menganggap barang sebagai obat untuk memperoleh kebahagiaan atau sebagai ukuran kesuksesan cenderung mengalami peningkatan kesepian. Sebaliknya, menikmati barang sebagai sumber kesenangan hidup (material mirth) justru berkaitan dengan berkurangnya kesepian.
Jadi, monggo jika mau mempraktikkan retail therapy. Tidak otomatis buruk, kok. Aktivitas memilih dan membeli saat belanja memang dapat memberikan perbaikan suasana suasana hati dalam kondisi tertentu. Yang menjadi masalah adalah ketika belanja dijadikan satu-satunya cara seseorang untuk mengatur emosinya.



POST A COMMENT.