Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Karena tidak ada curhatan teman yang cukup enak untuk ditulis, maka kali ini saya menulis curhatan saya pada saya tentang manusia-manusia seperti saya.
Saya merasa ada paradoks sangat mendasar dalam psikologi kita. Manusia itu spesies dengan kemampuan luar biasa untuk berpikir, berinovasi, dan mencipta, tetapi pada saat yang sama manusia juga mampu merusak diri sendiri, merusak lingkungan, dan merusak hubungan sosial.
Akar psikologis dari paradoks ini terletak pada cara kerja pikiran manusia yang sering terjebak dalam pola ‘self-sabotage‘ (merusak diri sendiri). Kecerdasan manusia, bukannya diarahkan ke kemajuan, tapi malah memperkuat ilusi pemisahan—antara diri dan dunia, antara manusia dan alam, bahkan antara pikiran dan tubuh. Self-sabotage membuat manusia merasa terpisah, yakni kehilangan rasa connectedness (keterhubungan).
Connectedness ini menjadi dasar bagi kesehatan mental. Manusia pada dasarnya bukan makhluk yang berdiri sendiri. Secara biologis, psikologis, dan sosial, manusa sudah dirancang Tuhan untuk terhubung. Ketika rasa keterhubungan hadir, maka sistem dalam diri manusia bekerja selaras.
Sistem saraf kita sangat peka terhadap rasa aman atau ancaman. Keterhubungan—baik dengan orang lain maupun lingkungan—memberi sinyal “aman”. Saat itu terjadi keterhubungan, tubuh lebih tenang, pikiran lebih jernih, dan emosi lebih stabil.
Perasaan berat —takut, sedih, marah— cenderung membesar ketika dipendam sendirian. Dalam hubungan yang sehat, emosi itu bisa diproses bersama, sehingga menjadi lebih ringan dan terintegrasi. Ini bukan sekadar curhat, tapi bagian dari mekanisme regulasi emosi alami manusia.
Dunia modern saat ini berkembang jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan evolusioner psikologis manusia untuk beradaptasi. Lingkungan simbolik—seperti teknologi, informasi, dan kompleksitas sosial—berubah sangat cepat. Mekanisme batin kita masih membawa pola lama yang tidak selalu relevan. Akibatnya, banyak manusia mengalami kebingungan, kecemasan, dan disorientasi dalam menghadapi realitas yang semakin kompleks.
Maka, salah satu kunci menuju pikiran yang sehat dan yang tidak self-sabotage adalah mengembangkan kesadaran yang lebih dalam terhadap pengalaman batin. Ini mencakup kemampuan untuk menyadari pola pikir otomatis, emosi, dan reaksi diri tanpa langsung terjebak di dalamnya.
Di sini, penting sekali untuk mengembalikan connectedness. Pikiran yang sehat adalah pikiran yang tidak merasa terpisah dari tubuh, dari orang lain, maupun dari dunia. Ketika keterhubungan ini pulih, muncul kualitas seperti empati, makna hidup, dan keseimbangan emosional.
Caranya? Coba lakukan satu aktivitas harian dengan sadar penuh. Misalnya, minum kopi pagi tanpa sibuk dengan HP. Benar-benar amati warnanya, hirup aromanya dan nikmati rasanya. Terlihat sepele, tapi ini bisa melatih otak keluar dari pola otomatis yang sering membuat manusa merasa ‘terpisah’ dengan lingkungannya.
Coba kontak nyata dengan orang lain, jangan sekadar chat atau scroll. Keterhubungan tumbuh dari kehadiran: menatap, mendengar tanpa menyela, merespons dengan tulus. Bahkan percakapan sederhana yang benar-benar hadir bisa jauh lebih ‘menghubungkan’ daripada interaksi digital yang amat panjang.
Coba sentuh alam. Tidak harus ke hutan, berlayar di laut atau menerjang gurun salju. Cukup dengan melihat langit pagi, merawat tanaman, atau berjalan-jalan sebentar di luar rumah, sudah cukup untuk berhubungan dengan sekitar. Alam bisa membantu menurunkan ‘noise‘ mental. Alam juga bisa mengingatkan bahwa kita bagian dari sesuatu yang lebih besar.
Coba prinsip ‘tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Praktiknya, lakukan lebih banyak memberi, bukan sekadar menerima atau mengambil. Bantu orang lain, berbagi apa saja, atau sekadar mendengarkan curhatan teman—ini secara alami bisa memulihkan rasa keterhubungan. Karena fokus pikiran berpindah dari sekadar ‘aku’ menjadi ‘kita’.



POST A COMMENT.