IAD; Terobsesi Jaga Kesehatan Tapi Caranya Tidak Sehat

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Seperti biasa, menjelang arisan ibu-ibu kompleks perumahan, selalu ada warming up pembicaraan sebelum acara inti.

Saat tuan rumah berucap, “Alhamdulillah, semua sehat-sehat saja…” eh, ibu-ibu yang sudah datang segera mengobrol tentang kesehatan.

“Bu Fulanita itu kok suka lebay dengan sakit, ya?” seorang ibu-ibu bertanya-tanya.

Ibu-ibu yang lain menimpali, “Iya. Sampai-sampai, anaknya disuapi terus. Katanya, biar tidak mudah sakit. Loss, makan. Eh, sekarang anaknya obesitas. Baru lulus SMA, sudah minum obat penurun tensi. Suaminya juga di-loss makan. Sekarang, gejala jantungan. Dilarang beraktivitas yang berkeringat. Suami kecapekan, bukannya disuruh istirahat, malah dibawa ke rumah sakit.”

Ibu-ibu berikut menambahkan, “Betul, Bu Fulanita seperti terobsesi. Dikit-dikit ke rumah sakit dan minum obat. Panas dikit, minta opname. Rumahnya sampai mirip apotek karena ada banyak obat.”

“Sepertinya, ia perlu dibawa ke psikiater. Bukan ke dokter umum, hahaha,” kata ibu-ibu yang lain.

Mendengar obrolan itu, saya senyum-senyum sambil menduga Bu Fulanita mengalami hipokondria. Sekarang, istilah itu disebut Illness Anxiety Disorder (IAD).

………..

Pembaca yang budiman, hipokondria atau IAD ini merujuk pada gangguan mental saat seseorang merasa sangat cemas atau takut bakal mengidap penyakit tertentu meski tidak ada gejala atau hanya sedikit gejala fisik yang mendukung kekhawatiran itu.

Orang-orang yang mengalami IAD punya perasaan cemas terus-menerus tentang kesehatan tubuh. Sedikit sakit kepala, ia cemas itu tanda tumor otak. Jantung berdebar, ia langsung merasa cemas kena serangan jantung.

Maka ia suka memeriksa tubuh sendiri untuk mencari tanda-tanda penyakit. Biasanya, ia sering ke dokter untuk cek kesehatan. Atau, sebaliknya, ia malah menghindari dokter karena takut hasil diagnosis. Tapi, saat sudah bertemu dokter, ia malah sulit diyakinkan lewat hasil pemeriksaan medis yang menyatakan tubuhnya sehat-sehat saja.

Perilaku itu bisa saja dipicu oleh obsesi berlebihan. Obsesi semacam ini ini bisa muncul karena berbagai hal. Bisa saja karena pengalaman traumatis diri sendiri pada masa lalu atau pernah kehilangan orang terdekat karena penyakit tertentu. Bisa juga karena kepribadian perfeksionis sehingga ia ingin memiliki kendali penuh atas tubuh dan kesehatannya. Bisa juga karena paparan informasi kesehatan secara berlebihan, terutama dari internet atau media sosial. Atau, sebaliknya, bisa juga karena kurangnya literasi kesehatan sehingga ia menginterpretasi gejala tubuh secara berlebihan tapi keliru.

Bagaimana proses obsesi mempengaruhi kondisi IAD?

Awalnya, muncul sensasi biasa pada tubuh. Misalnya sekadar pusing karena kelelahan. Otomatis,
pikirannya membayangkan, “Jangan-jangan ini gejala kanker.” Lalu, ia mencari informasi secara obsesif. Saat sudah menemukan informasi dari luar atau dari dalam memori otaknya sendiri, muncul kecemasan terkena kanker betulan. Berikutnya, ia mencari reassurance dengan memeriksakan diri terus-menerus. Bisa pemeriksaan sendiri, bisa juga pemeriksaan oleh dokter. Mungkin ia tenang sesaat setelah ditangani dokter, tapi kecemasan muncul lagi. Saat kecemasan muncul, tubuh biasanya mengeluarkan sensasi tertentu. Misalnya, jadi agak mual. Dari kondisi agak mual ini, pikirannya mengembara lagi tentang kanker. Begitu siklus ini berlanjut dan berulang-ulang.

Kondisi gampang cemas pada diri sendiri ini bisa diproyeksikan menjadi kecemasan terhadap orsng-orng terdekatnya. Dalam kasus Bu Fulanita, ia juga mencemaskan (secara berlebihan) kondisi anak dan suaminya –meski tidak sepenuhnya benar.

Maka, orang dengan IAD perlu mendapat penanganan khusus. Oleh psikolog, biasanya dilakukan psikoterapi terutama CBT (Cognitive Behavioral Therapy). Jika di rumah sakit, biasanya ditambah obat antidepresan atau anti-kecemasan.

Yang tak kalah penting adalah edukasi tentang kondisi kesehatan sehingga ia paham mana yang perlu dicemaskan dan mana yang tidak. Lalu, perlu juga dukungan sosial dari orang-orang dekat di sekitar.

Facebook Comments

Comments are closed.