Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Contoh-contoh literasi finansial selalu saya temukan saat Lebaran atau Imlek, atau perayaan hari besar keagamaan bahkan perayaan hari besar personal. Yang paling nyata adalah saat orang-orang memberikan sangu, angpaw, atau amplop, berisi uang pada anak-anak.
Saat memberikan uang itu, tak jarang orang-orang mengingatkan pada anak-anak, “Jangan lupa, uangnya ditabung ya. Kalau nanti perlu apa-apa, uang tabungannya bisa dipakai.”
Nasihat demikian itu benar sekali. Saya sependapat dengan mereka karena mengajarkan konsep ‘tabungan/kehematan’ alias saving dan konsep ‘penganggaran’ alias ‘budgeting‘.
Tapi, tampaknya perlu ditambah satu lagi pembelajaran untuk menambah skill literasi finansial anak-anak yang bakal berguna saat mereka dewasa. Penelitian oleh psikolog di Amerika Serikat menunjukkan, pemberian yang bertanggung jawab (responsible giving) adalah pelajaran paling berharga yang dapat dipelajari anak tentang uang.
Responsible giving itu kira-kira berarti dengan sadar sadar dan beretika memberikan sumbangan atau dukungan finansial kepada individu yang membutuhkan, organisasi nirlaba, amal, atau masyarakat. Dalam bahasa kita, itu biasa disebut ‘sedekah’, ‘derma’, ‘sumbangan sosial’, ‘karitas’ dan sejenisnya.
Ashley Brooks LeBaron, profesor psikologi dari University of Arizona, mendapatkan kesimpulan itu setelah mewawancarai individu dari berbagai generasi untuk mengeksplorasi bagaimana kebiasaan ‘memberi’ diwariskan turun-temurun dalam keluarga. Nara sumbernya; 90 mahasiswa S1, 17 orang tua dan delapan kakek-nenek mereka. Dari jumlah itu, 83 persen mengemukakan satu pelajaran keuangan terpenting yang mereka pernah berikan atau pernah terima.
Ia menjelaskan, “Ketika berpikir tentang uang dan apa yang dipelajari anak-anak dari orang tua, kebanyakan kita tidak terlalu menganggap ‘memberi’ sebagai salah satu prinsip dasar. Kita umumnya cenderung berpikir tentang menabung atau menganggarkan keuangan.”
Tapi, berdasarkan penelitian LeBaron, pelajaran yang mendasari literasi finansial justru lebih banyak berkaitan dengan altruisme. Motivasi orang-orang tua pada anak yang sebenarnya adalah menanamkan keinginan untuk membantu orang lain atau untuk menanamkan rasa kewajiban relijius pada keturunan mereka.
Bagaimana cara melakukan responsible giving? Biasanya, para orang tua mengajarkan ini melalui pemberian sumbangan amal untuk organisasi, melalui tindakan kebaikan langsung pada yang membutuhkan, atau melalui investasi pada anggota keluarga sendiri.
Anak-anak, setelah melihat orang tua memberikan uang atau mereka melakukannya sendiri, bisa merasakan bahagia atau mendapat imbalan emosional. Dalam beberapa kasus, ada yang bahkan merelakan diri berkorban uang demi orang lain yang lebih membutuhkan.
Jadi, literasi finansial tak cukup hanya tabungan dan anggaran, tapi juga sedekah yang bertanggung jawab.
Menurut LeBaron, jika anak-anak ditunjukkan dan dilibatkan dalam keputusan responsible giving, itu dapat membantu mereka lebih cerdas finansial di masa depan. Gagasan yang oleh para psikolog disebut sebagai ‘teori sosialisasi keuangan keluarga’ ini menunjukkan orang tua dapat memengaruhi kesejahteraan pribadi dan keuangan masa depan anak-anak mereka.


