Tanda-tanda Karyawan Pingin Resign

Oleh: Esti D. Purwitasari SPsi MM

mepnews.id – Seorang teman yang jadi manajer HRD perusahaan menelpon saya untuk curhat. Katanya, “Mbak, mau Lebaran, saya ada sedikit masalah. Beberapa karyawan di tempatku sepertinya mau resign, tapi masih belum menunjukkan sikap jelas.”

“Mungkin masih menunggu THR. Kalau resign sebelum Lebaran, kan nggak dapat THR,” saya mencoba bercanda agar tidak menambah beban dia.

“Masalah utamanya bukan di uang THR. Tapi, di antara yang mau resign, ada yang sangat dibutuhkan perusahaan.”

………..

Pembaca yang budiman, sudah menjadi kewajaran umum saat seseorang melamar pekerjaan lalu kemudian pensiun atau mengundurkan diri (secara sukarela atau terpaksa). Itu seperti siklus yang terjadi terus-menerus dalam kehidupan pekerjaan.

Jika memang sudah waktunya pensiun, manajemen perusahaan tentu sudah melakukan kalkulasi terhadap karyawan itu. Antara lain tentang pesangonnya, calon penggantinya, hingga kondisi bidang kerjanya. Yang kadang membuat terkejut manajemen adalah jika karyawan mau resign di tengah jalan.

Ada beberapa tanda karyawan yang berkehendak mengundurkan diri. Ia tidak termotivasi dalam pekerjaannya, tidak antusias menuntaskan tugas atau tidak berpartisipasi dalam kegiatan kantor. Ia nenunjukkan perubahan perilaku, misalnya sering terlambat masuk, sering absen, atau kurang fokus bekerja. Ia minta izin atau cuti secara tidak biasa. Ia enggan atau menolak terlibat dalam proyek baru di kantor. Yang lebih buruk, ia menunjukkan tanda-tanda ketidakpuasan dengan pekerjaan, termasuk sering mengeluh atau berperilaku negatif. Atau, ia kasak-kusuk menjalin hubungan tidak baik dengan rekan kerja.

Namun, tidak selalu pengunduran diri diawali tanda-tanda seperti di atas. Ada juga karyawan yang ingin meninggalkan nama baik dengan bekerja sangat optimal sebelum ia mengundurkan diri. Dengan tetap menjaga kredibilitas, maka hubungan baik ia dengan perusahaan akan tetap terjaga di masa datang.

Jika ada karyawan yang masih dibutuhkan tapi mengajukan pengunduran diri, manajemen perlu mengambil tindakan tertentu. Selain mempertimbangkan kondisi si karyawan, kondisi perusahaan juga harus dipertimbangkan.

Bicarakan dengan karyawan apa alasannya ingin mengundurkan diri. Jika masalahnya ada di perusahaan, segera ditata atau diatasi dengan penyesuaian tugas atau tanggung jawab agar si karyawan tidak jadi resign. Bicarakan opsi-opsi yang ada, misalnya memberikan dukungan lebih pada karyawan dan tanggung jawab tambahan. Jika memungkinkan, berikan tawaran insentif seperti kenaikan gaji, bonus atau kesempatan promosi.

Mungkin saja si karyawan memutuskan tetap mengundurkan diri karena ingin membuka bisnis sendiri atau mendapat tawaran jauh lebih baik dari tempat lain. Jika demikian, beri ia dukungan dan bantu dalam proses pemutusan hubungan kerja yang baik. Setelah itu, pastikan untuk menjaga hubungan dengan dia. Siapa tahu dia bisa menjadi pembuka hubungan bisnis besar lain di masa mendatang.

Sebaliknya, jika si karyawan tidak terlalu dibutuhkan perusahaan dan ia mengajukan pengunduran diri, lakukan proses pemutusan kerja dengan baik sesuai peraturan yang berlaku. Berikan karyawan tersebut informasi yang jelas mengenai hak dan kewajibannya. Jangan lupa, berikan juga surat referensi kerja jika dia meminta.

Berikan dukungan dan bantuan dalam mencari pekerjaan baru jika diminta. Bicarakan mengenai opsi peluang karir lainnya dan tawarkan bantuan dalam mengembangkan keterampilan mereka di tempat lain. Yang tak kalah penting, pastikan menjaga hubungan baik dengan karyawan yang mengundurkan diri itu. Siapa tahu kelak ada peluang kolaborasi atau kerja sama di masa depan.

Penting untuk diingat, karyawan memiliki hak untuk memutuskan apakah dia ingin tetap bekerja atau mengundurkan diri. Pastikan untuk menghormati dan menghargai keputusannya.

 

Facebook Comments

Comments are closed.