Anak Terlalu Manja? Oh, No Way…!

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – “Ya, mesti bagaimana lagi? Sebagai orang tua, kami tentu tidak mau melihat anak-anak tidak bahagia. Sudah jadi kuwajiban kami untuk melindungi anak, membantu mereka, memenuhi kebutuhan mereka. Tentu kami dalam keluarga punya beberapa prinsip, tapi terkadang kami harus mengalah pada kemauan anak. Rasanya, lebih mudah kami mengalah daripada mengatakan tidak pada anak,” begitu penjelasan panjang orang tua yang anaknya bermasalah di sekolah.

………..

Pembaca yang budiman, tentu saja alasan di atas tidak ada salahnya. Yang jadi masalah adalah, memanjakan anak terus-menerus dan berlebihan bisa berbahaya dalam jangka panjang. Gaya pengasuhan yang terlalu melindungi anak dari pengalaman menantang bisa mengurangi kesempatan anak untuk membangun ketahanan diri di masa mendatang. Anak yang terlalu dimanjakan bisa tumbuh menjadi orang yang lemah, atau egois, atau tidak bahagia, atau selalu tidak puas, dan sejenisnya.

Apakah tanda-tanda anak yang sangat manja?

  • tidak bisa menerima jawaban ‘tidak’, ingin mendapatkan sesuatu dengan caranya sendiri dan tidak mau ditolak,
  • lebih sering menerima daripada memberi, tidak menghargai apa yang orang tua lakukan, tidak mau mengatakan “tolong” dan “terima kasih”, tapi kata yang sering ia gunakan adalah “minta”.
  • sering membuat ulah atau marah ketika tidak mendapatkan apa yang ia inginkan atau ketika permintaannya tidak dipenuhi segera,
  • sulit memahami perasaan orang lain, dan bahkan tidak menunjukkan perhatian terhadap kebutuhan atau keinginan orang lain,
  • sering membuat tuntutan berlebihan pada orang tua atau pengasuhnya atau bahkan orang lain agar keinginannya segera terpenuhi,
  • menggunakan taktik manipulatif untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, termasuk merengek, menangis, atau mengamuk,
  • ingin secepatnya, tidak ambil pusing apakah orang lain merasa tidak nyaman dengan permintaannya,
  • dan sejenisnya

Beberapa perilaku mungkin normal dan sesuai usia untuk anak kecil yang masih belajar mengatur emosi dan komunikasi efektif. Namun, jika perilaku manja terus berlanjut atau menjadi ekstrem, itu pertanda orang tua harus ambil tindakan.

Terus, apa yang perlu dilakukan orang tua?

Harap diingat, mengubah perilaku anak membutuhkan waktu dan kesabaran. Maka, orang tua harus tegas dalam membuat aturan dan konsisten dalam mendidik anak.

  • Konsistensi

Orang tua harus konsisten dalam menegakkan apa yang menjadi batasan-batasan perilaku anak. Jika tidak konsisten, anak mungkin belajar bahwa ia dapat lolos dari perilaku tertentu.

  • Jangan asal mengalah

Jika anak membuat tuntutan berlebihan, orang tua harus tega berkata “tidak”. Jangan terlalu percaya bahwa kata-kata “tidak” itu bisa menurunkan harga diri anak kelak. Penelitian menunjukkan, anak-anak yang dibesarkan dengan struktur dan pola asuh yang kurang permisif ternyata bisa memiliki harga diri yang lebih tinggi dan merasa lebih berempati terhadap orang lain. Yang penting, saat mengatakan “tidak”, orang tua harus bisa memberi alasan atau penjelasan untuk membantu anak memahaminya.

  • Pujilah anak secara benar.

Jika anak kecanduan pujian, cobalah memujinya hanya saat ia melakukan sesuatu yang baik untuk orang lain. Ini bisa memperkuat rasa kepedulian anak pada orang lain.

  • Latih anak untuk mau menunggu.

Penelitian menunjukkan, kemampuan untuk berhenti sejenak, menunggu, dan menunda sangat berkorelasi dengan kesuksesan akademis dan finansial anak di masa depan. Jika orang tua sedang telepon, lalu si anak menginginkan sesuatu, maka segera beri isyarat: “Nanti!”

  • Latih anak untuk peka

Bantu anak untuk mempertimbangkan perasaan orang lain. Katakan pada anak, “Menurutmu, bagaimana perasaan temanmu saat kau tiba-tiba ambil permen dari tangannya?” Atau, “Kalau kau jadi Andi, bagaimana perasaanmu kalau permenmu dirampas oleh anak lain?” Pertanyaan yang tepat dapat membantu anak belajar berempati.

  • Fokus pada memberi

Buat peluang bagi anak untuk berbuat baik bagi orang lain. Misalnya, minta anak membawa kue untuk tetangga yang sakit.

  • Dorong rasa syukur

Orang tua dapat membantu anak menumbuhkan rasa syukur dengan melatih anak mengungkapkan kata-kata bersyukur atas hal-hal yang mereka miliki.

  • Mencontohkan perilaku positif

Anak-anak sering belajar dari contoh orang-orang sekitarnya. Maka, orang tua perlu mencontohkan perilaku positif. Di depan anak, orsng tua bisa menunjukkan empati pada orang lain, mengungkapkan rasa terima kasih pada orang lain, dan mengikuti aturan dan batasan yang telah ditetapkan.

Facebook Comments

Comments are closed.