Oleh Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Hera setahu saya adalah orang yang suka bergaul. Tapi, sejak menikah, perilakunya di kantor mulai berubah. Awalnya saya kira wajar saja karena adaptasi menempuh hidup dalam keluarga baru. Hingga akhirnya, perilakunya menjurus ke depresi. Oleh psikiatris yang menanganinya, Hera disebut mentalnya sudah tidak tahan lagi atas self-silencing terlalu lama.
Pembaca yang budiman, self-silencing adalah kecenderungan seseorang untuk menahan perasaan, pendapat, kebutuhan, atau keinginannya demi menjaga kedekatan dan kestabilan hubungan dengan orang lain. Dalam kondisi normal, itu mungkin pilihan yang baik. Tapi, jika berlebihan, ini dapat membuat seseorang mengorbankan ekspresi dirinya sendiri. Bisa jadi, orang itu khawatir kejujuran akan justru memicu konflik atau mengancam hubungan yang dianggap penting.
Psikolog Dana Jack pada 1990-an mengekspos konsep self-silencing ini lewat sejumlah pengamatan. Menurutnya, sejumlah perempuan memilih diam mengenai persoalan penting yang terkait hubungan personal. Mereka menekan perasaan dan enggan mengungkapkan pendapat demi mempertahankan keintiman serta keharmonisan hubungan. Dalam kondisi ini, diam bukan selalu berarti setuju atau tidak memiliki pendapat. Sikap diam dapat menjadi strategi untuk sekadar menghindari pertengkaran dan mencegah kemungkinan kehilangan orang yang dicintai.
Menurut Dana Jack, kecenderungan self-silencing ini berkaitan dengan sosialisasi gender dan peran tradisional perempuan. Sejak kecil, kaum perempuan sering dibebani harapan sosial untuk bersikap mengalah, menjaga perasaan orang lain, dan mengutamakan keharmonisan. Akibatnya, perempuan tertentu beranggapan menjadi pasangan yang baik berarti rela menekan keinginan pribadi demi memenuhi kebutuhan pasangan. Pola ini dapat berkembang menjadi kebiasaan mengabaikan suara batin sendiri.
Sebagai contoh, seorang perempuan merasa terluka oleh ucapan pasangannya, tetapi memilih tidak menyampaikan keberatannya karena takut dianggap terlalu sensitif atau memicu pertengkaran. Ia mengaku dirinya baik-baik saja, meskipun sebenarnya kecewa. Dalam satu atau dua atau tiga kali kasus, sikap ini mungkin wajar. Tapi, bila perilaku tersebut terus berulang, ia dapat semakin terbiasa menyembunyikan perasaan dan menempatkan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan emosionalnya sendiri.
Persoalannya, self-silencing tidak hanya menyangkut komunikasi, tetapi juga hubungan seseorang dengan dirinya sendiri. Ketika perasaan dan kebutuhan pribadi terus ditekan, ia berisiko kehilangan kesempatan untuk mengenali, mengungkapkan, dan memperjuangkan apa yang benar-benar penting baginya. Ia mungkin tampak tenang dan mampu menjaga hubungan, tetapi mengalami tekanan emosional yang tidak terlihat dari luar.
Ada penelitian Ercan Aras dan Meva Demir-Kaya terhadap 333 perempuan di Türkiye. Hasilnya menunjukkan, tingkat self-silencing yang lebih tinggi ternyata berkaitan dengan tingkat depresi dan kecemasan yang juga lebih tinggi.
Penelitian ini juga menemukan hubungan antara self-silencing dan pengalaman gaslighting (manipulasi psikologis ketika seseorang membuat orang lain meragukan ingatan, persepsi, penilaian, atau pemahamannya sendiri tentang kenyataan). Salah satu kemungkinan penjelasannya ialah kebiasaan mengutamakan pandangan serta kebutuhan pasangan dapat membuat seseorang lebih rentan mengabaikan penilaian dirinya sendiri.
Meski demikian, temuan penelitian ini tidak membuktikan bahwa self-silencing secara langsung menyebabkan gangguan kesehatan mental.
Terus, bagaimana?
Yang baik adalah self-silencing harus dikembangkan ke level yang wajar. Mengatasi kondisi self-silencing bukan berarti seseorang harus selalu mengutarakan semua perasaan atau mengabaikan kepentingan orang lain. Yang diperlukan adalah keseimbangan. Tetap menghargai orang lain tanpa harus kehilangan hak untuk menyuarakan kebutuhan sendiri.
Maka, komunikasi yang asertif, kemampuan menetapkan batasan, dan keberanian menyampaikan ketidaksetujuan secara sehat dapat membantu seseorang membangun hubungan yang bisa memberikan ruang bagi kedua pihak untuk didengarkan.



POST A COMMENT.