mepnews.id – Mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) menghadirkan teknologi tepat guna untuk membantu petani bawang merah di Desa Sajen, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, dalam mengendalikan hama sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia.
Inovasi tersebut diwujudkan melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) E-BIO 2026 bertajuk “Pemberdayaan Petani Bawang Merah melalui Implementasi Light Trap Tenaga Surya untuk Pengendalian Hama Ramah Lingkungan di Desa Sajen Mojokerto.”
Program dilaksanakan bertahap Juli – September 2026 dan menyasar Gapoktan Desa Sajen dengan 20 petani sebagai penerima manfaat aktif. Kegiatan ini dilaksanakan melalui kolaborasi EEPIS Bidikmisi Organization (E-BIO) PENS, Pemerintah Desa Sajen, Gapoktan dan kelompok tani Desa Sajen, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Mojokerto/Pacet, serta Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan.
Desa Sajen menghadapi persoalan hama, khususnya ulat. Petani menggunakan pestisida kimia secara intensif, hingga mencapai lima paket pestisida dan empat jenis obat hama dalam satu musim tanam. Penggunaan pestisida ink meningkatkan biaya operasional petani, juga berpotensi menyebabkan resistensi hama dan menurunkan kualitas tanah.
Melalui PPK Ormawa E-BIO 2026, mahasiswa PENS memperkenalkan Light Trap Tenaga Surya berbasis Internet of Things (IoT) dan LoRa sebagai alternatif pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan. Lima unit Light Trap dipasang di lahan persawahan Desa Sajen. Teknologi tersebut memanfaatkan energi matahari untuk menyuplai kebutuhan energi perangkat dan menggunakan komunikasi LoRa untuk mengirimkan data dari area persawahan tanpa bergantung pada koneksi internet.
Ketua Tim Teknis PPK Ormawa E-BIO 2026, Faiz Faadhil Nugrahanto, menjelaskan pemanfaatan energi surya menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan teknologi tersebut.
“Indonesia memiliki potensi penyinaran matahari 10 hingga 12 jam per hari. Potensi ini kami manfaatkan untuk menyuplai energi Light Trap yang otomatis menyala malam hari dan mengirimkan data lahan menggunakan komunikasi LoRa sehingga bisa menjangkau lahan tanpa butuh koneksi internet,” jelasnya.
Tim mahasiswa juga melaksanakan sosialisasi dan edukasi, pemetaan lokasi sawah, instalasi panel surya dan sensor, workshop perakitan dan perawatan, monitoring tangkapan hama, hingga serah terima pengelolaan alat kepada kelompok tani.
Keterlibatan masyarakat terlihat sejak proses instalasi perangkat. Petani turut bergotong royong membantu proses implementasi, mulai dari memotong besi hingga menggali lubang untuk pemasangan tiang. Masyarakat juga mengikuti workshop dan kemudian dilibatkan dalam pengelolaan Unit Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Desa Sajen.
Hasil implementasi menunjukkan perubahan terukur. Penggunaan pestisida kimia dapat ditekan menjadi satu paket per musim tanam. Pada saat yang sama, hasil panen bawang merah meningkat dari 8,8 ton menjadi 9,5 ton per musim. Peningkatan tersebut turut berdampak pada pendapatan kotor petani yang bertambah sebesar Rp12.050.000 per musim tanam.
Ketua Gapoktan Desa Sajen, Rigen Sutrisno, merasakan langsung perubahan tersebut.
“Alhamdulillah, dulu kami pakai 5 paket pestisida harganya mahal sekali. Sekarang cukup 1 paket, hama sangat berkurang. Hasil panen kami juga naik dari 8,8 ton jadi 9,5 ton dan lahan tidak rusak terkena kimia,” ungkapnya.
Program ini juga meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pemanfaatan teknologi energi surya. Tingkat pemahaman warga mengenai teknologi panel surya meningkat dari 11,76 persen menjadi 82,76 persen setelah rangkaian edukasi dan pendampingan. Ketertarikan masyarakat untuk menggunakan teknologi tersebut juga meningkat dari 11 persen menjadi 96,55 persen.
Dosen Pembimbing PPK Ormawa E-BIO PENS, Muhammad Nizar Habibi SST MT, menilai program ini menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan kompetensi mahasiswa dengan kebutuhan nyata masyarakat.
Sebanyak 12 mahasiswa PENS, yang merupakan gabungan Divisi Teknis, Non-Teknis, dan Media Kreatif E-BIO, terlibat secara aktif dalam program tersebut. Beberapa mahasiswa KIP-K PENS juga direkrut sebagai relawan. Tim teknis bertanggung jawab dalam pembuatan dan instalasi perangkat IoT-LoRa, tim non-teknis menangani manajemen program dan legalitas Unit PHT, sementara tim media kreatif mendokumentasikan serta mempublikasikan kegiatan.



POST A COMMENT.