mepnews.id – Sidalupa merupakan salah satu warisan budaya tak benda (WBTB) Indonesia yang ditetapkan pada 2022. Kesenian khas Aceh Barat ini khususnya berkembang di Woyla, Woyla Barat, Woyla Timur, dan Bubon. Bentuknya perpaduan antara teater rakyat, tari, musik, dan pertunjukan topeng. Biasanya dimainkan di ruang terbuka pada acara adat, pesta rakyat, atau festival budaya.
Nama kesenian ini berasal dari ungkapan Aceh “sida lupa keu adek, adek lupa keu da” yang berarti “kakak lupa kepada adik, dan adik lupa kepada kakak.” Ungkapan ini melambangkan putusnya hubungan persaudaraan akibat perubahan hidup atau keadaan yang membuat seseorang tak lagi mengenali saudaranya.
Ada juga yang menyebut, nama itu dari dua tokoh dalam hikayat, Si Dal dan Upa, sehingga kemudian dirangkai jadi Si Dalupa.
Dalupa ini juga dimaknai sebagai ‘menyamar atau mengubah penampilan’ sehingga tidak dikenali lagi. Makna ini sesuai ciri khas pertunjukan; para pemain mengenakan kostum dari daun, ijuk, atau serat alam, lengkap dengan topeng yang menyerupai makhluk liar atau manusia purba.
Yang membuat Sidalupa berbeda dari teater tradisional lain adalah, pemainnya mengenakan topeng dan kostum menyerupai makhluk hutan atau manusia liar. Gerak tarinya spontan, energik, dan kadang lucu sehingga menghibur penonton. Pengiring alat musik tradisional terutama serune kalee dan rapa’i. Dialognya sangat sedikit, karena cerita lebih banyak disampaikan melalui gerak tubuh, ekspresi, dan iringan musik.
Di balik setiap gerakan, irama, dan kisah yang menyertai Sidalupa, tersimpan nilai sejarah, semangat kebersamaan, serta kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan seperti ini bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga harus dijaga dan dihidupkan.
Menjaga jejak Sidalupa berarti menjaga jati diri daerah. Di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi, budaya lokal menghadapi tantangan yang tidak ringan. Jika tidak dirawat dan diperkenalkan kepada generasi muda, bukan tidak mungkin warisan yang berharga ini akan semakin terlupakan.
Upaya pelestarian Sidalupa memerlukan kolaborasi semua pihak. Pemerintah daerah, lembaga pendidikan, tokoh adat, seniman, akademisi, dan masyarakat perlu bergandengan tangan untuk mendokumentasikan, mengembangkan, serta mempromosikan Sidalupa sebagai kekayaan budaya Aceh Barat. Dokumentasi yang baik akan menjadi jejak sejarah, sedangkan pembinaan kepada generasi muda akan memastikan warisan tersebut tetap hidup. Perguruan tinggi juga memiliki peran penting melalui penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan kegiatan edukasi budaya.
Dengan demikian, Sidalupa tidak hanya dikenal sebagai pertunjukan seni, tetapi juga dipahami nilai-nilai filosofis dan sejarah yang terkandung di dalamnya.
Masa depan Sidalupa berada di tangan kita semua. Menjaga jejak berarti menghargai sejarah. Menghidupkan warisan berarti memberikan ruang agar budaya tersebut terus berkembang sesuai zamannya tanpa kehilangan jati dirinya.
Mari bersama menjaga, melestarikan, dan menghidupkan Sidalupa sebagai kebanggaan Aceh Barat, agar warisan budaya ini tetap menjadi cahaya bagi anak cucu di masa depan.
(Ahmad Fauzi, arsiparis Universitas Teuku Umar)



POST A COMMENT.