mepnews.id – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Muhammadiyah ‘Aisyiyah (KKN MAs) Kelompok 87 menghadirkan pendekatan kreatif dalam memberikan edukasi pencegahan bullying kepada siswa sekolah dasar. Nadira Permata Sandi, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sukabumi (Ummi), memperkenalkan Wayang Sukuraga khas Sukabumi sebagai media mendongeng interaktif kepada siswa SD Negeri Gunungsari 01, Kota Batu, Jawa Timur, pada 12 Agustus 2026.
Dikabarkan situs resmi ummi.ac.id, kegiatan itu berlangsung dalam sesi pembiasaan pagi literasi dan numerasi. Nadira tidak hanya mengajak siswa Jawa Timur mengenal kesenian daerah Sukabumi tetapi juga menyampaikan pesan moral tentang pentingnya saling menghargai dan mencegah perundungan di lingkungan sekolah. Materi dikemas dalam bentuk mendongeng interaktif menggunakan tokoh-tokoh Wayang Sukuraga sebagai sarana membuat pesan edukasi mudah dipahami anak-anak.
Wayang Sukuraga agak berbeda dibanding pertunjukan wayang pada umumnya. Seni Sukabumi ini menggunakan karakter berupa pancaindra dan anggota tubuh manusia sebagai tokoh dalam cerita. Konsep tersebut menjadi salah satu kekuatan Wayang Sukuraga dalam menyampaikan pesan tentang perilaku dan kehidupan manusia.
Dalam kegiatan edukasi, Nadira memainkan beberapa tokoh yang memiliki peran dan makna berbeda. Tokoh-tokoh tersebut menggambarkan hubungan antara ucapan, tindakan, pengamatan, serta dampak perilaku seseorang terhadap orang lain.
Tokoh Tangan dan Mulut, misalnya, menggambarkan bagaimana tindakan dan ucapan manusia dapat membawa kebaikan maupun menimbulkan dampak buruk. Melalui kedua tokoh tersebut, siswa diajak memahami bahwa perkataan yang kasar, ejekan, maupun tindakan yang menyakiti orang lain dapat menjadi bentuk perundungan.
Tokoh Telinga menggambarkan pihak yang menerima atau mendengar olokan sebagai korban bullying. Tokoh tersebut menjadi bagian penting dalam cerita untuk memperlihatkan bahwa perkataan yang dianggap sebagai candaan oleh seseorang dapat memberikan dampak berbeda bagi orang yang menerimanya.
Tokoh Mata digambarkan sebagai sosok yang bijak dalam mengamati situasi dan memberikan arahan positif kepada tokoh-tokoh lainnya. Mata menjadi sarana untuk mengajak siswa agar tidak hanya menjadi penonton ketika terjadi perundungan tetapi juga memiliki keberanian bersikap dan mengarahkan lingkungan kepada perilaku yang lebih baik.
Penggunaan Wayang Sukuraga sebagai media edukasi memberikan pendekatan yang lebih akrab dengan dunia anak-anak. Pesan mengenai bahayanya ucapan kasar, tindakan yang menyakiti, serta pentingnya menghargai sesama dapat disampaikan melalui cerita dan karakter menarik sehingga siswa lebih mudah mengikuti materi.
Selain menyampaikan edukasi mengenai pencegahan bullying, kegiatan juga menjadi sarana pertukaran budaya antara mahasiswa KKN MAs dan masyarakat di Kota Batu. Nadira membawa kesenian dari daerah Sukabumi untuk diperkenalkan kepada siswa di Jawa Timur melalui kegiatan pembelajaran yang sederhana dan menyenangkan.
Inovasi tersebut mendapat sambutan positif dari para siswa. Pendekatan melalui media seni dan cerita membuat proses penyampaian pesan moral berlangsung secara interaktif dan tidak monoton. Dengan demikian, nilai-nilai tentang saling menghargai dapat diperkenalkan melalui pengalaman belajar yang menyenangkan.
Kegiatan ini juga menunjukkan bahwa program KKN dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kreativitas sekaligus membawa potensi daerah asal ke lingkungan masyarakat tempat mereka mengabdi. Pengetahuan akademik yang dimiliki mahasiswa dapat dipadukan dengan budaya lokal untuk menghasilkan kegiatan yang memiliki nilai edukatif dan sosial.
Mahasiswa KKN MAs Kelompok 87 berupaya menanamkan kesadaran kepada siswa sejak dini bahwa setiap anak memiliki hak untuk merasa aman, dihargai, dan diperlakukan dengan baik. Edukasi pencegahan bullying diharapkan tidak hanya berhenti pada pemahaman selama kegiatan, tetapi dapat diterapkan dalam interaksi sehari-hari di lingkungan sekolah.



POST A COMMENT.